Bagaimana idealnya kita memperlakukan fakta dan fiksi? Apakah sastra mungkin membuat pencerapan kita atas realitas menjadi tumpul? Gabriel Garcia Marquez meniliknya dalam esai ringkas ini.
Tag: esai
Yukio Mishima harakiri pada bulan November 1970. Akan tetapi kita tahu bahwa bukan karena itu kita mengenangnya kini.
Peran Pemeriksa Ejaan dan Penyunting dalam penerbitan sebuah buku masih jarang disinggung. Padahal, tanpa mereka, banyak buku yang hadir dengan kondisi jauh dari baik-baik saja.
"Aku adalah interniran dalam dunia ini." Demikian kata Kahlil Gibran dalam salah satu puisi prosanya. Tulisan ini adalah terjemahan salah satu esai ringkasnya, tentang para penyair, tentang sajak.
Tulisan D.H. Lawrence "Mengapa Novel Penting" adalah tulisan yang biasa dimasukkan ke dalam tajuk "penulis berbicara tentang menulis". Di sini diterjemahkan sedikit petikannya.
Buku "Yang Tersisa dari Pramoedya & Catatan Lain" adalah antologi esai Gilang Saputro, diterbitkan oleh Penerbit Anagram tahun 2020. Buku memuat esai-esai relatif pendek, rapi, dengan konten memuat pembahasan mendalam perihal buku-buku.
Trilogi Kelir Slindet, Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat, dan Rab(b)i ditulis dengan teknik unik. Teknik maupun kontennya mengukuhkan kesejajaran konsep kepengarangan Kedung Darma Romansha dengan konsep estetika Walter Benjamin dan Bertolt Brecht.
Membaca pendapat para penulis besar tentang menulis sering kali memberikan manfaat dalam bentuk "berbagi pengalaman. Berikut ini sedikit pendapat Margaret Atwood tentang menulis.
Pasar Ukazh adalah pasar kuno Arab tempat pembacaan puisi mendapatkan perhatian penuh. Kini pasar ini kembali dibangkitkan, dengan semangat memajukan kesusastraan Arab.
Kesusastraan kita memiliki Chairil Anwar si “binatang jalang”, kesusastraan Inggris memiliki Lord Byron dengan “byronic hero”-nya, kesusastraan Prancis memiliki Baudelaire, lalu kesusastraan Arab klasik memiliki Imru al-Qays bin Hujr al-Kindi.

















