Apa Alasan Kamu Menulis?

Margaret Atwood

Kamu belajar menulis dengan membaca dan menulis, menulis dan membaca. Sebagai sebuah kriya, kecakapan menulis diperoleh melalui sistem magang, tetapi kamu memilih guru-gurumu sendiri. Terkadang mereka orang-orang yang masih hidup, terkadang sudah meninggal.

Sebagai sebuah panggilan, kecakapan menulis melibatkan “pemberkatan.” Kamu menerima panggilanmu dan pada gilirannya kamu harus menyebarkannya. Mungkin kamu akan melakukan ini hanya melalui karyamu, mungkin pula dengan cara-cara lain. Bagaimana pun juga, kamu adalah bagian dari sebuah komunitas, yakni komunitas para penulis, komunitas para pendongeng yang merentang ke belakang melintasi masa ke awal masyarakat manusia.

Mengenai masyarakat manusia tertentu yang ke dalamnya kamu sendiri termasuk—terkadang kamu akan merasa bahwa kamu berbicara atas namanya, terkadang—ketika masyarakat tersebut mengambil bentuk yang tidak adil—menentangnya, atau atas nama komunitas yang lain itu, yakni komunitas mereka yang tertindas, yang dieksploitasi, yang bisu. Walau bagaimana pun, tekanan terhadapmu akan menjadi intens; di negara-negara lain, mungkin tekanan itu fatal. Akan tetapi bahkan di sini—berbicaralah “atas nama kaum wanita,” atau atas nama kelompok lain mana pun yang merasakan siksaan, maka akan ada banyak, baik mendukung ataupun menentang, yang akan memberitahumu untuk tutup mulut, atau untuk mengatakan sesuatu yang mereka ingin kamu mengatakannya, atau untuk mengatakannya dengan cara yang berbeda. Atau untuk menyelamatkan mereka. Papan reklame menunggu kamu, tetapi bila kamu mengalah pada godaan-godaannya maka kamu akan berakhir dalam dua dimensi.

Ceritakan apa yang harus kamu ceritakan. Biarkan orang-orang lain menceritakan apa yang harus mereka ceritakan.

Sumber: Margaret Atwood, “Why Do You Write?”, The Norton Anthology of Short Fiction (Shorter Sixth Edition, 2000), hal. 962.       

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Tentang Penulis

Tentang Penulis

Cep Subhan KM. Lahir di Ciamis tanggal 6 Juni. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi bersama Ludah Surga (2006) dan Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf (2007), sementara beberapa puisinya diikutkan dalam antologi penyair muda Ciamis Kota Menjadi Kata (2017) dan Suluk Santri (2018). Sudah menerbitkan novel Serat Marionet (2011) dan dwilogi Yang Tersisa Usai Bercinta (2020) dan Yang Maya Yang Bercinta (2021), serta satu buku puisi, Hari Tanpa Nama (2018). Satu novelnya yang lain, Kosokbali (2021), bisa dibaca di portal Kwikku. Esai kritik sastranya menjadi Pemenang II Sayembara Kritik Sastra DKJ 2022, Juara 2 Lomba Kritik Sastra Dunia Puisi Taufiq Ismail 2023, Pemenang I sekaligus Naskah Pilihan Juri Sayembara Kritik Sastra DKJ 2024, dan Pemenang I Sayembara Kritik Puisi Kalam 2024. Sebagian dari esai kritik sastranya sudah diterbitkan dalam antologi Tiga Menguak Chairil: Media, Perempuan, & Puitika Kiri (Anagram, 2024) dan Perempuan dalam Bibliografi Pembaca (Velodrom, 2025).