Yukio Mishima mati harakiri pada bulan November 1970. Kita mungkin membayangkan saat itu akhir musim Gugur, lanskap Tokyo dipenuhi warna-warni daun kuning, merah, dan oranye, pidatonya yang berapi-api tentang “membangkitkan kembali kekuatan kaisar” menggema di kamp Ichigaya, lalu dia yang tampak lebih muda dari usianya mengakhiri hidupnya dengan harakiri, dan tanah airnya tersentak…
Namun, apa sebenarnya tanah air bagi seorang Mishima? Menarik melihat bahwa berbeda dengan kita yang memanggil tanah air dengan sebutan feminin “Ibu Pertiwi”, bangsa Belanda yang memanggil tanah air mereka dengan sebutan maskulin “vaderland”, atau bangsa Amerika yang melihat tanah air mereka tanpa penanda jender sebagai “homeland”, bangsa Jepang menyebut tanah air mereka sebagai “sokoku”, artinya “tanah para karuhun”.
Karuhun, nenek moyang, leluhur, tak heran jika dalam salah satu cerpennya, “Kain Bedungan,” kita menemukan deskripsi yang mencemooh terhadap mereka yang terpengaruh menjiplak Barat: “dengan busana gaya Amerika dan mengepit sebatang rokok, suaminya itu nyaris nampak seperti orang asing di matanya.” Sebaliknya, sang istri, Toshio, yang merupakan tokoh utama dalam cerpen itu, digambarkan sebagai “terlalu sensitif sejak masih kecil. Karena mudah cemas…”.
Sensitif dan mudah cemas: sepertinya itulah yang dirasakan Mishima pada zamannya. Ia melihat betapa orang mulai lupa pada nenek moyang, kekaisaran melemah karena impor demokrasi, dan budaya dari luar masuk menyerbu Jepang zaman Showa—gambaran yang juga kita temukan dengan mudah dalam film The Last Samurai. Tanpa akar yang kokoh, kerancuan identitas mulai muncul, lalu di mana kebanggaan akan identitas sebagai bangsa warisan nenek moyang bisa diletakkan saat pembauran mengaburkannya?
Mereka yang tak memahami Bushido, jalan ksatria, kode etik seorang samurai, mungkin akan mengatakan bahwa Mishima paranoid. Akan tetapi sebuah catatan dari zaman Edo yang dikarang oleh Taira Shigesuke, seorang samurai dan ahli strategi militer, dan sekarang dikenal sebagai Bushido Shoshinsu, artinya Bushido untuk pemula dibuka dengan pernyataan yang menarik:
“seorang ksatria menganggap bahwa merupakan urusan utama baginya untuk mengekalkan kematian dalam pikirannya setiap saat..
Apa sebenarnya tujuan dari hal itu? Buku itu menjelaskan dengan sederhana bahwa orang itu akan “memenuhi jalan kesetiaaan dan tugas keluarga”. Selain itu dia juga akan “terhindarkan dari kejahatan dan bencana tak terhingga, bugar dan sehat secara fisik, dan kau akan hidup lama”.
Bushido memang ditulis untuk zaman ketika modernisasi belum terjadi dan Jepang masih sepenuhnya dikuasai aristokrat. Samurai adalah bagian dari penjaga aristokrasi tempat kesetiaan terhadap majikan adalah segalanya. Mishima menyerap bushido dan melaksanakannya dengan patuh pada zaman ketika samurai hanya tinggal kenangan dan arus modernisme kian gencar menyerang: ia hidup dengan jadwal yang tertib, menjaga kebugaran fisik, tapi ia tak hidup lama.
Karena Mishima berada di simpang jalan. Gaya hidupnya yang teratur seperti itu jelas akan membawanya hidup lebih lama, jauh lebih lama dari mereka yang diejek oleh Shigesuke sebagai “orang-orang yang menanggalkan kematian dari pikiran mereka” sehingga “mereka makan berlebihan, minum terlalu banyak, dan memperturutkan hawa nafsu mereka sampai tahap ketidaksehatan”. Menurut Shigesuke, mereka cuma punya tiga kemungkinan: mati muda, penyakitan, atau cacat. Jika Mishima mati muda dalam usia 45 tahun, maka itu karena dia memilih kematian sebagai jalan samurai. Samurai menjunjung tinggi kode etik, melaksanakannya adalah sebuah kehormatan.
Dalam salah satu cerpennya yang lain, “Patriotisme,” Mishima menjelaskan dengan detail kondisi yang dihadapi seorang penempuh jalan samurai, lengkap dengan prosesi yang menyertai harakiri. Bukan tanpa alasan bahwa cerpen tersebut merupakan satu cerpennya yang panjang, dan kecuali bagi mereka yang ingin mengenal lebih jauh budaya jepang, cerpen ini mungkin terkesan bertele-tele, satu gaya yang sebenarnya tak sering digunakan Mishima.
Seperti Letnan Shinji Takeyama dalam cerpen itu, Mishima mati harakiri, tapi kita mengenangnya bukan karena itu. Dia bukan orang baru dalam dunia sastra: dia tiga kali masuk nominasi peraih nobel sastra, empat puluh buku lahir dari tangannya, dan dia adalah penulis Jepang pertama yang popularitasnya di luar negeri hampir pararel dengan popularitasnya di Jepang sendiri. Dia seorang sastrawan besar, bunuh diri atau pun tidak sama sekali tak mempengaruhi kenyataan bahwa dia layak dapat tempat.
Jika Kawabata, mentornya dan sekaligus juga penulis yang “mengalahkannya” meraih nobel sastra, merupakan generasi yang sering dikatakan sebagai menyerap James Joyce dan Marcel Proust, maka Mishima berbeda. Satu cerpen favorit sang penulis ini, Tamago (Telur) yang ditulisnya tahun 1953, dikatakannya sebagai sebuah “pertunjukan komedi ala Edgar Allan Poe”.
Kita mungkin sedikit heran mendengar Mishima menyangkutkan komedi pada Edgar Allan Poe yang mungkin lebih kita kenal cerita-cerita misterinya. Akan lebih heran lagi jika kita membandingkan antara cerpen itu dengan cerpen-cerpen Mishima yang lain, karena “Telur” bisa dikatakan sebuah anomali. Cerpen-cerpen Mishima masih mewarisi gaya penulis Jepang yang terkenal pandai membentuk konflik berupa kondisi psikologis para tokohnya, dalam banyak hal dia membentuknya lebih pekat, terutama karena aspek-aspek pemujaan terhadap keindahan alam misalnya justru tak sepekat dalam karya-karya Kawabata. Fiksi-fiksinya adalah kisah yang murung, humor bukan bagian lazim di sana.
Namun, mungkin yang dimaksud oleh Mishima adalah puitika sebuah cerpen. Puitika, tata sastra. Cerpen-cerpen Mishima adalah cerpen-cerpen yang murung, dan mereka cenderung tak riuh. Pembaca cerpen Mishima sangat mungkin tanpa sadar terbawa merenung bahkan ketika cerpen itu sendiri sebenarnya tak penuh dengan deskripsi renungan. Ia meresap ke dalam ketaksadaran seperti telur yang menyerap asin garam sebelum masuk ke penggorengan. Dengan kata lain: ia memang seperti Poe yang terkenal sebagai cerpenis kelas satu dalam hal kemampuan membedah psikologi manusia.
Mishima bukan sastrawan yang mengagumi dunia kiwari, tak heran jika dia menyebut nama Poe, bukan Joyce, atau Lawrence misalnya, keduanya adalah dua di antara sekian wakil kesusasteraan Amerika abad 20. Poe adalah wakil zaman Romantisisme dalam sejarah kesusasteraan Amerika, dan kisah tentang zaman Romantisisme di mana pun adalah kisah tentang harapan.
Dalam kesusasteraan Inggris misalnya, generasi awal zaman romantik seperti Blake, Wordsworth, Coleridge, adalah generasi yang sepenuhnya percaya bahwa Revolusi Perancis adalah sebuah awal era baru. Generasi selanjutnya termasuk Byron mulai meragukan hal itu setelah melihat berbagai ekses negatif yang mulai bermunculan dari Revolusi Perancis, tapi mereka tetap memiliki harapan.
Seperti itulah tampaknya Mishima. Fiksi-fiksinya tak pernah absen dari harapan dalam berbagai bentuk, dari mulai Pendeta Kuil Shiga yang terjatuh sejatuh-jatuhnya sampai kisah Toshiko yang diakhiri tanpa kepastian, tapi jika akhirnya Mishima memilih jalan Shinji Takeyama maka mungkin itu karena harapannya tentang Jepang yang tak melupakan nenek moyang hanya bisa dicapai dengan itu. Si bocah Noburu Kuroda dalam Pelaut yang Ternoda pada akhirnya harus memilih akhir ekstrem untuk Ryuzi Tsukazaki yang dia kagumi justru supaya “kehormatan” Ryuzi tetap terjaga.
Cara terbijak bagi kita sekarang mungkin adalah dengan melihat Mishima sebagai sebuah Ironi, sebagaimana juga beberapa sastrawan besar yang lain yang juga kita kenal: TS Eliot, Chairil Anwar. TS Eliot adalah sastrawan—sekaligus kritikus sastra—yang dianggap mempelopori kecenderungan kritik sastra modern yang terpaku pada teks, biografi pengarang bukanlah hal penting, akan tetapi karya-karya dia cenderung dianalisis orang dengan kritik ekspresif: bahwa biografi penyair memiliki hubungan erat dengan karyanya. Demikian juga Chairil Anwar.
Sebuah ironi: pernah ada masa ketika karya-karya Mishima ditelaah orang untuk mendapatkan penjelasan rasional tentang harakiri yang dia lakukan. Kemudian kecenderungan itu bergeser ke arah kritik objektif, bahwa cerpen-cerpennya, novelnya, adalah teks yang bisa dinikmati mandiri. Mungkin pada detik itu orang mulai berpikir bahwa rasionalitas membawa pada kebosanan dan pada akhirnya kuldesak yang berujung pada kematian teks sementara kritik sastra berubah menjadi perpanjangan gosip. Sastrawan pengagum Romantisisme ini—dan kita tahu bahwa kritik ekspresif lahir dari rahim Romantisisme—tetap populer sampai sekarang justru karena pemikiran modern yang dia tatap dengan penuh kecemasan. Setidaknya dengan demikian kita bisa tetap mengenangnya sebagai sastrawan besar yang melahirkan cerpen dan novel-novel yang sebagaimana penulisnya juga setia menempuh Bushido. Tak heran jika fiksi-fiksinya itu panjang umur, tetap “bugar dan sehat secara fisik”, bahkan pada zaman kita kini.
Jogja, Komunitas Imajiner.







