"Persembunyian Terakhir Ilyas Hussein dan Cerita-Cerita Lainnya" (Buku Mojok, 2022) memuat 18 cerpen Muhammad Nanda Fauzan. Cerpen-cerpen di dalamnya mengolah anasir sejarah, mengelaborasi variasi teknik fokalisasi dan menyisipkan simbol-simbol sehingga cerita tersaji dengan khas.
Tag: ulasan buku
Selain Bung Smas, Dwianto Setyawan, dan Djokolelono, penulis seri fiksi anak tahun '80-an adalah Beng Irawan. Salah satu karyanya Seri Kibot, petualangan empat anak dan seekor beruang di Kalimantan.
Salah seorang penulis fiksi anak produktif tahun 80-an adalah Bung Smas. Salah satu seri yang dia tulis adalah empat jilid Trio Tifa, mengisahkan petualangan mendebarkan Tress, Iwon, dan Fia di Jakarta.
Ada sangat banyak fiksi anak diterbitkan pada periode tahun '80-an, sebagian besar berupa novel berseri menyodorkan kisah petualangan. Salah satu contoh fiksi anak semacam itu adalah Seri Sandi karangan Dwianto Setyawan.
Terjemahan-terjemahan karya Yasunari Kawabata ke dalam bahasa Indonesia sudah banyak dilakukan. "Daun-daun Bambu" yang EA Books terbitkan memuat cerpen-cerpen dan pidato penerimaan Nobel Sastra Yasunari Kawabata.
Antologi “Seperti Malam-malam Februari” terbit merekam jejak 20 tahun keakraban Agus Manaji dengan puisi. Antologi ini memuat 110 puisi yang ditulis dalam rentang tahun 1997-2017.
Novel "Jauh di Mata Nekat di Hati" karya Alfin Rizal menyajikan kisah puitis cinta tak sampai. Di sepanjang kisah itu buku, musik, dan kafe berkelindan sebagai bagian tak terpisahkan dari lanskap Yogya pada masa kini.
"Tulisan pada Tembok" memuat puisi-puisi awal Acep Zamzam Noor. Membacanya memungkinkan kita melacak akar kepenyairan Acep Zamzam Noor pada tradisi pesantren.
"Masa Depan Sebuah Ilusi" adalah salah satu buku SIgmund Freud yang kontroversial karena kritiknya terhadap agama sekaligus peradaban. Penyair sekaligus kritikus sastra T.S. Eliot menulis ulasan menarik sekaligus pedas tentang buku tersebut.
Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau (Gramedia Pustaka Utama, 2020) karya M. Aan Mansyur hadir sebagai sebuah antologi puisi yang tak abai tampilan visual. Puisi-puisi di dalamnya menyoroti relasi antara keluarga dengan individu sebagaimana juga antara keduanya dengan "komunitas" yang lebih besar: masyarakat dan negara.

















