Antologi puisi M. Aan Mansyur, Waktu yang Tepat untuk Melupakan Waktu (Shira Media, 2021), memuat 36 puisi disertai 9 ilustrasi menawan. Apa yang ditawarkan oleh puisi-puisi dalam antologi yang dikemas eksklusif ini?
Tag: antologi puisi
Puisi-puisi dalam "Nostalgi dan Melankoli" sebagian besar ditulis antara 2014-2017, sebagian lain tampaknya ditulis lebih awal. Meski antologi ini merupakan antologi tunggal pertama, jejak kepenyairan Khoirun Niam sudah terentang lebih jauh ke belakang.
Pilihan puisi-puisi dari Matsnawi Rumi sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Apa sebenarnya fungsi terjemahan semacam itu? Kapan kita akan memiliki terjemahan lengkap seperti edisi Inggris Reynold Nicholson dan edisi Arab Ibrahim Dasuki Syatta?
Rubaiyat Jalaluddin Rumi ditulis pada masa ketika puisi merupakan sarana didaktis. Bagaimana sikap kita menghadapi puisi-puisi semacam itu kini pada masa ketika puisi bukan lagi sesuatu yang "agung"?
"Hompimpa Alaium Gambreng" adalah satu puisi dalam antologi berjudul sama karya Hamzah Muhammad (Jakarta: Anagram, 2022). Apa yang menarik untuk diobrolkan dari puisi yang mengubah lanskap horor tanya jawab alam kubur menjadi bernuansa humor ini?
Antologi “Seperti Malam-malam Februari” terbit merekam jejak 20 tahun keakraban Agus Manaji dengan puisi. Antologi ini memuat 110 puisi yang ditulis dalam rentang tahun 1997-2017.
"Tulisan pada Tembok" memuat puisi-puisi awal Acep Zamzam Noor. Membacanya memungkinkan kita melacak akar kepenyairan Acep Zamzam Noor pada tradisi pesantren.
Pertemuan pembaca dengan sajak seorang penyair adalah "kesunyian masing-masing". Berikut pertemuan saya dengan sajak "Ritual Kepiluan" dan "Rakyat Perah" karya Aslan Abidin.
Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau (Gramedia Pustaka Utama, 2020) karya M. Aan Mansyur hadir sebagai sebuah antologi puisi yang tak abai tampilan visual. Puisi-puisi di dalamnya menyoroti relasi antara keluarga dengan individu sebagaimana juga antara keduanya dengan "komunitas" yang lebih besar: masyarakat dan negara.
















