"Hompimpa Alaium Gambreng" adalah satu puisi dalam antologi berjudul sama karya Hamzah Muhammad (Jakarta: Anagram, 2022). Apa yang menarik untuk diobrolkan dari puisi yang mengubah lanskap horor tanya jawab alam kubur menjadi bernuansa humor ini?
Tag: Sastra Indonesia
Selain Bung Smas, Dwianto Setyawan, dan Djokolelono, penulis seri fiksi anak tahun '80-an adalah Beng Irawan. Salah satu karyanya Seri Kibot, petualangan empat anak dan seekor beruang di Kalimantan.
Salah seorang penulis fiksi anak produktif tahun 80-an adalah Bung Smas. Salah satu seri yang dia tulis adalah empat jilid Trio Tifa, mengisahkan petualangan mendebarkan Tress, Iwon, dan Fia di Jakarta.
Cerpen "Vanisse Meertruida dari Zoutlanden" karya Edy Firmansyah mirip cerpen "Selamat Tinggal Hindia" karya Iksaka Banu. Pertanyaannya kemudian: seberapa miripkah kemiripan itu? Apakah karyanya sekadar terilhami atau justru memplagiat?
Celetukan tentang kemiripan antara Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan Dua Belas Pasang Mata karya Sakae Tsuboi adalah celetukan lama yang muncul kembali kini dengan embel-embel plagiat. Adakah bukti, lama ataupun baru, yang disodorkan untuk mendukung tudingan berat itu?
Antologi “Seperti Malam-malam Februari” terbit merekam jejak 20 tahun keakraban Agus Manaji dengan puisi. Antologi ini memuat 110 puisi yang ditulis dalam rentang tahun 1997-2017.
"Tulisan pada Tembok" memuat puisi-puisi awal Acep Zamzam Noor. Membacanya memungkinkan kita melacak akar kepenyairan Acep Zamzam Noor pada tradisi pesantren.
Pertemuan pembaca dengan sajak seorang penyair adalah "kesunyian masing-masing". Berikut pertemuan saya dengan sajak "Ritual Kepiluan" dan "Rakyat Perah" karya Aslan Abidin.
Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau (Gramedia Pustaka Utama, 2020) karya M. Aan Mansyur hadir sebagai sebuah antologi puisi yang tak abai tampilan visual. Puisi-puisi di dalamnya menyoroti relasi antara keluarga dengan individu sebagaimana juga antara keduanya dengan "komunitas" yang lebih besar: masyarakat dan negara.
Cerita "Sumur" (Gramedia Pustaka Utama, 2021) karya Eka Kurniawan pertama kali dipublikasikan edisi terjemahannya, "The Well" dalam antologi 36 penulis dari berbagai negara berjudul "Tales of Two Planets" (Penguin Books, 2020). Cerita ini menyajikan potret muram kehidupan manusia akibat alam yang berubah, potret muram bukan hanya kehidupan manusia secara komunal melainkan juga kehidupan mereka sebagai individu.

















