Warta Murung Itu, Milan Kundera (1929-2023)

1

Ketika pesan penyair kontemporer Dadang Ari Murtono sebagai juru warta kematian Milan Kundera saya baca, saya baru bangun dari tidur singkat dengan mimpi menyenangkan yang detailnya sama sekali tak bisa saya ingat. Ketidakmampuan mengingat ini saya yakin disebabkan saya membaca pesan itu: kemurungan, konon, memantik memori-memori sedih, atau memori-memori menyenangkan yang secara licik menambah kesedihan.

Sambil memaki si penyair konspiratif yang didorong oleh mekanisme defensif saya tuduh sengaja mengirim pesan itu untuk saya baca saat bangun tidur dan bukan sebelum tidur, saya mengingat Kundera sebagai salah satu dari sedikit pengarang luar yang karyanya hanya saya koleksi dalam edisi hardback. Sambil menunggu penjual buku bekas melepas koleksi semacam itu, saya biasa mengunduh buku elektroniknya dari situs ilegal dan membaca tanpa rasa memiliki disertai perdebatan filosofis dalam benak tentang hak cipta untuk mengurangi rasa bersalah.

Di satu sisi ada pengagungan dan mungkin arogansi dalam sikap hardback-mania itu, tetapi di sisi lain juga cara estetik untuk berhemat. Jarang-jarang ada penjual buku bekas menawarkan edisi hardback Milan Kundera sehingga saya bisa menahan diri tidak boros memborong buku-buku paperback Milan Kundera yang melimpah.

Ini bacaan menyenangkan yang saya baca sebelum tidur dan masih tergeletak di samping saya saat bangun: Riwayat Negeri yang Haru: Cerpen Kompas Terpilih 1981-1990 dan B: Kumpulan Cerita. Kisah topi biru para pengarang dari negeri haru dalam catatan pengantar Radhar Panca Dahana untuk kumpulan cerpen Kompas terpilih 1981-1990 adalah bacaan menyenangkan yang saya baca ulang dan mampu mengubah mood yang memburuk setelah siang hari menamatkan Cerpen Pilihan Kompas 2021 di kantor. Sementara tulisan pengantar Sasti Gotama dalam B: Kumpulan Cerita membuat saya terbayang-bayang karakter antropomorfik favorit saya, kelinci dari Alice in Wonderland, bahkan ketika setelah itu saya menamatkan cerita murung berbulu bahagia tentang donat kentang.  

Sasti mengatakan tentang kelinci yang karena tak henti melompat maka ia bisa “lolos dari lubang gelap dan menyongsong rintik cahaya”. Menjelang lelap saya masih bertanya-tanya kenapa kelinci Alice meski terus melompat tetapi tetap memilih berada di dunia dalam lubang gelap? Kita tahu yang bisa keluar dari lubang gelap itu hanya Alice, baik lubang gelap itu sungguhan atau hanya eksis dalam benak seperti terjadi pada Nin si maestro donat kentang.

Dalam mimpi saya tidak ada jawaban. Atau lebih tepatnya meskipun ada maka saya tidak bisa mengingatnya karena warta kematian Milan Kundera dari si penyair kontemporer konspiratif menciptakan lubang gelap dalam memori jangka pendek saya. Maka saya memutuskan menjadi kelinci yang melompat keluar dari lubang gelap itu sambil memungut serpihan-serpihan memori lama saya tentang Milan Kundera, pengarang kelahiran Ceko yang enggan jika kepengarangannya ditautkan dengan negeri mana pun selain Prancis itu.

2

Saya lebih mengenang Milan Kundera sebagai esais daripada prosais dan pernah secara bersamaan menerjemahkan dua buku esai dia dari terjemahan Inggris pada awal karir saya sebagai penerjemah: Seni Novel (Octopus, 2017) dan Wasiat-Wasiat yang Dikhianati (Basabasi, 2017). Jauh sebelumnya saya menamatkan terjemahan Art of Novel (Jalasutra, 2002) yang memiliki kover estetik pada momen ketika aktivis mahasiswa angkatan saya sedang latah meneriakkan ungkapan populer dari The Book of Laughter and Forgetting: perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa. Heroik tentu, tetapi sebagaimana selalu terjadi pada repetisi berlebihan maka pada akhirnya terdengar klise.

Meski pada masa itu saya sedang gandrung romantisme aktivis Soe Hok Gie dan Budiman Sudjatmiko tetapi saya sudah merasa alergi pada hal-hal klise. Maka daripada slogan-slogan yang menumpulkan otak, memori saya jauh lebih mengingat agélastes, geng anti-tawa yang pertama saya temukan dalam terjemahan Art of Novel Jalasutra. Gagasan Milan Kundera tentang musuh seni berkepala tiga dan salah satu dari kepala itu adalah geng agélastes merupakan gagasan yang terlalu menarik untuk diseret ke dalam pelupaan.

Esai-esai Milan Kundera menyodorkan banyak hal penting meski persoalan-persoalan yang dia bahas tidak selalu bertaut langsung dengan zaman kita. Milan Kundera adalah esais dari zaman yang jauh dengan kultur yang kerap terasa berjarak, setidaknya bagi saya yang lahir di pojok Priangan Timur dan mulai sungguh-sungguh membaca ketika historiografi sastra kita sudah menyodorkan Angkatan 2000. Dia fasih membahas Rabelais dan Cervantes, dua nama hanya sebagian kecil dari kita kini yang masih membaca tuntas karyanya, ataupun merujuk Jan Mukarovsky, nama yang sebagaimana Rene Wellek hanya kami bahas selintas dalam kelas Teori Sastra.

Mungkin karena itu saya ingat pernah mengalami adegan ini:

Ketika saya sedang menerjemahkan Wasiat-Wasiat yang Dikhianati, saya mengobrol dengan seorang sastrawan sekaligus kritikus senior. Dia bertanya: “Lu lagi nerjemahin apa, Cep?”

“Kundera, Mas.”

Dia menatap saya dengan tatapan bosan dan senyum sinis khas kritikus. “Kundera yang mana lagi?”

“Esainya, Mas, Testaments Betrayed. Belum pernah diterjemahin sih.”

“Kundera itu bacaan zamanku, mbok ya generasimu ini update bacaan.”

Update bacaan” adalah frasa yang menghantui saya sejak itu dan makin kerap saya lontarkan belakangan. Semakin belakang kita lahir semakin besar jumlah utang bacaan yang kita tanggung karena kita harus membaca karya-karya kontemporer plus seabrek bacaan yang dibaca oleh generasi-generasi sebelumnya. Generasi saya yang katakanlah mulai sungguh-sungguh membaca buku-buku sastra kira-kira tahun 2005 akan tertinggal jika sekadar membaca Cervantes, Proust, Achebe, Kundera, dan tidak membaca, katakanlah, Pat Barker, David Foster Wallace, Claudia Pineiro, Pyun Hye-Young. Akan tetapi kita tidak bisa melenggang membaca hanya karya-karya kontemporer kecuali jika kita ingin tautan antara kita dengan para penulis terdahulu semakin rapuh.

Baca Juga: “Elena Knows” Claudia Pineiro: Potret Detektif Ringkih sebagai Orang Tua Mahatahu

Sebaliknya, jika kita hanya membaca karya para penulis yang dibaca oleh generasi sebelum kita, maka kita akan kehilangan kepekaan terhadap kekinian. Tulisan kita, sebagaimana tampak dalam karya sebagian penulis kita kini yang dengan alasan yang tidak saya mengerti kecuali jika saya mengikutsertakan suuzan memilih berada dalam situasi semacam itu, hanya kopian tulisan penulis-penulis terdahulu, dengan problem yang disajikan identik, dengan konstruksi dunia yang persis. Satu-satunya tautan karya para penulis semacam itu dengan kekinian adalah bahwa ia dipublikasikan pada tahun 2023, misalnya, dan bukan tahun 1989.

Dengan kata lain, apa yang yang ingin saya katakan bukan berarti kita kini sudah tidak perlu membaca Kundera, sebagai kritikus toh saya juga masih terus membaca ulang misalnya Aristoteles, Kant, Mukarovsky dan meski sudah usang tetapi kita juga punya konsep kebakaan sastra luhur. Apa yang ingin saya katakan adalah kita kini–sebagaimana senior-senior kita 2-4 dekade silam–perlu membaca Kundera, tetapi–berbeda dengan senior-senior kita 2-4 dekade silam, kita perlu membaca–bukan hanya Kundera. Dalam empat dekade terakhir penulis-penulis baru yang tak kalah hebatnya dari Kundera terus bermunculan sehingga menyedihkan jika kita menyibukkan diri membaca hanya Kundera dan membanggakan diri hanya karena telah menamatkan Proust, Cervantes, Achebe.

Baca Juga: Terjemahan Esai Milan Kundera “Penyair dan Novelis”

Dalam esai-esainya, Kundera kerap menyandingkan pembahasan sastra dengan musikologi. Kecenderungan yang tampaknya berakar dari “romansa keluarga” karena bapaknya, Ludvík Kundera, adalah musikolog sekaligus pianis itu saya pikir salah satu aspek lain penyebab saya tak bisa benar-benar merasa cocok dengannya. Aspek bunyi tentu bagian tak terpisahkan dari sastra, tetapi tetap saja ada perbedaan basis pengetahuan antara orang yang selera musiknya campur aduk Nancy Ajram, Townes van Zandt, dan imajinasi musikalnya terbatas pada betapa beruntungnya “anake Pak Tukiran | bakul pecel ana ing pinggir prapatan” dengan orang yang mampu berpanjang-panjang membahas komposisi musik klasik dan Stravinsky.

3

Selepas menerima warta kematian Milan Kundera, saya langsung mengecek buku Kundera di koleksi Ipusnas. Satu-satunya judul yang saya temukan, Cinta yang Mengundang Gelak Tawa (Basabasi, 2022), menampilkan status antri. Saya tidak tahu apakah ada kaitan antara status “laris” tersebut dengan meninggalnya Milan Kundera, bisa saja karya Milan Kundera memang selalu laris dibaca di setiap generasi publik pembaca kita.

Namun, kalau kita mau suuzan dan lebih logis, salah satu ironi publik pembaca kita adalah kerap kali kita tertarik membaca karya seorang penulis pada saat dan setelah kita mendengar dia meninggal dan bukan saat dia masih hidup. Tentu saja kebiasaan semacam itu tidak sepenuhnya buruk sepanjang kita penganut all’s well that ends well, tetapi tetap saja ada sesuatu yang tidak beres dalam bayangan bahwa pengarang perlu mati dulu secara harfiah untuk memotivasi orang membaca karya-karyanya.

Terakhir kali saya membaca novel Kundera saat saya sedang menulis novel dan itu artinya sudah sekitar dua tahun silam. Tentu saja 3 buku esai dia—saya belum memperoleh edisi hardback buku Encounter meski saya punya dan sudah baca edisi elektronik buku esai keempat Kundera itu—saya tempatkan di ruang rak yang mudah terjangkau. Artinya, meski tidak sering membaca (ulang) novelnya, saya masih lebih sering membaca (ulang) satu dua esai dia, meski sebagaimana mimpi menyenangkan tadi malam saya tak bisa mengingat detailnya.

Semula saya terpikir menulis obituari Milan Kundera, tetapi kemudian saya sadar lebih terbiasa menulis puisi ketika seseorang terhormat mati. Persoalannya sederhana, saya lebih terbiasa mengungkapkan emosi dalam puisi, ruang yang memungkinkan saya mengungkapkan kesedihan tanpa mengatakan bahwa saya sedih. Menghabiskan masa kecil dalam lingkungan priayi Sunda, saya terbentuk menjadi manusia yang menganggap menunjukkan emosi di muka umum secara lugas adalah aib, sehingga momen-momen emosional yang kadang saya alami mendadak semisal kejutan hadiah ulang tahun selalu membuat saya mati kutu.

Selain itu, persoalan yang lebih tidak sederhana, agama saya mengajarkan untuk berkata hanya yang baik-baik tentang orang mati. Hal tersebut menjadi persoalan karena kami Psikoanalis justru lebih terlatih membongkar sisi gelap manusia daripada sisi yang baik-baik saja, baik dia manusia hidup ataupun sudah mati. Dikombinasikan dengan kecenderungan saya yang terdidik secara akademis untuk menjadi kritikus kontemporer, saya lebih mau dan mampu membahas karakter dalam fiksi daripada membahas pengarang fiksi. Sebagaimana kata T.S. Eliot dalam “The Function of Criticism”, penemuan tagihan penatu Shakespeare tidak akan ada banyak gunanya bagi kita (kritikus).

Lagipula meski pernah membahas berpanjang-panjang tentang wasiat Kafka yang dilanggar oleh Max Brod, memperingati kematian mungkin bukan sesuatu yang Kundera sukai. Dalam novelnya yang merupakan favorit saya, salah satu karakternya, F. mengatakan begini:

Aku tak bisa enyahkan gagasan bahwa setelah mati kita tetap hidup. Bahwa mati sama artinya dengan mengalami mimpi buruk tak berujung. Tapi sudahlah. Cukup. Mari bicara hal lain.

Milan Kundera, Identity

Meski Kundera pengarang dari era ketika politik bertaut dengan novel dan “peran pengarang” masih merupakan tema obrolan seksi, menyamakan suara karakter dengan suara pengarang di masa kini adalah sikap usang, bahkan ketika yang kita hadapi adalah novel-novel Kundera. Bahwa saya memilih menyematkan suara F. sebagai mungkin suara Kundera maka anggap saja hal tersebut merupakan upaya menyelaraskan keengganan saya menulis obituari dan memangkas jauhnya jarak kultural saya dengan dia. Saya tidak yakin upaya itu merupakan sesuatu yang benar, tetapi saya yakin ia pembenaran yang berbasis niat baik: bahwa daripada berpanjang-panjang membaik-baikkan Kundera sambil mengutip biografi dia dari Wikipedia, mari kita “bicara hal lain” saja terkait dia, semisal tentang karya-karyanya yang terus diterjemahkan dan diterbitkan ulang tetapi mungkin tidak lagi sungguh-sungguh kita baca, mungkin tidak lagi sungguh-sungguh kita obrolkan.

Menimbang Milan Kundera pernah dengan kocak sekaligus berang mengecam kengawuran terjemahan novel-novelnya lantas menyusun “kamus 63 kata kunci” novelnya sendiri, saya yakin bagi dia sikap yang saya tawarkan itu lebih menyenangkan. Salam.  

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Tentang Penulis

Tentang Penulis

Cep Subhan KM. Lahir di Ciamis tanggal 6 Juni. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi bersama Ludah Surga (2006) dan Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf (2007), sementara beberapa puisinya diikutkan dalam antologi penyair muda Ciamis Kota Menjadi Kata (2017) dan Suluk Santri (2018). Sudah menerbitkan novel Serat Marionet (2011) dan dwilogi Yang Tersisa Usai Bercinta (2020) dan Yang Maya Yang Bercinta (2021), serta satu buku puisi, Hari Tanpa Nama (2018). Satu novelnya yang lain, Kosokbali (2021), bisa dibaca di portal Kwikku. Esai kritik sastranya menjadi Pemenang II Sayembara Kritik Sastra DKJ 2022, Juara 2 Lomba Kritik Sastra Dunia Puisi Taufiq Ismail 2023, Pemenang I sekaligus Naskah Pilihan Juri Sayembara Kritik Sastra DKJ 2024, dan Pemenang I Sayembara Kritik Puisi Kalam 2024. Sebagian dari esai kritik sastranya sudah diterbitkan dalam antologi Tiga Menguak Chairil: Media, Perempuan, & Puitika Kiri (Anagram, 2024) dan Perempuan dalam Bibliografi Pembaca (Velodrom, 2025).