“Elena Knows” Claudia Piñeiro: Potret Detektif Ringkih sebagai Orang Tua Mahatahu

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu

Mereka adalah putra putri kerinduan Hidup terhadap dirinya sendiri.

Kahlil Gibran, Sang Nabi

1

ELENA KNOWS adalah novel tentang celah antara berbagai hal, antara keyakinan dan realitas, antara pemikiran generasi satu dengan generasi lain, bahkan antara sikap perempuan satu dengan perempuan lain. Motif keberadaan celah itu beragam, termasuk terutama agama dan kultur. Mengadopsi gaya novel detektif, novel ini bergerak dengan lakuan yang menaikkan suspense ‘tegangan’ sedikit demi sedikit menjanjikan ledakan klimaks.

Perjalanan Elena sebagai karakter utama novel adalah perjalanan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik kematian Rita putrinya, tetapi pada akhirnya pengetahuan yang didapatkan adalah tentang hal lain. Keyakinan awal Elena bahwa Rita dibunuh dan bukan bunuh diri berdasarkan pengetahuan dia tentang putrinya itu ternyata membawa pada tahu akan hal lain yang bukan hanya terkait Rita tetapi juga—terutama—terkait dirinya.

Elena Knows pertama kali diterbitkan dalam bahasa Spanyol sebagai Elena sabe pada tahun 2007 dan menjadi juara German LiBeraturpreis pada tahun 2010. Novel diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Frances Riddle dan diterbitkan tahun 2021 oleh Charco Press, penerbit yang “fokus untuk menemukan sastra Amerika Latin kontemporer unggulan dan mengantarkannya pada para pembaca baru di dunia Anglofon”. Elena Knows kemudian masuk ke dalam daftar pendek International Booker Prize 2022.  

Claudia Piñeiro sebelumnya memang sudah dikenal di dunia Anglofon sebagai seorang penulis fiksi kriminal. Akan tetapi bahkan kalaupun kita tidak mengenal karyanya sebelum Elena Knows, kita akan langsung merasakan kedekatan novel ini dengan karya salah satu penulis fiksi detektif dunia yang juga perempuan, Agatha Christie. Karakter Elena akan langsung mengingatkan kita pada Miss Marple dalam novel-novel Agatha Christie, satu hal yang juga disinggung oleh Dr Fiona Mackintosh menjelang akhir catatan penutup edisi Inggris. Tautan tersebut bahkan langsung kelihatan sejak kover novel, terutama edisi asli berbahasa Spanyol.

Gambar kover Elena sabe (2007) dan Elena Knows (2021)

Kover edisi bahasa Spanyol sangat lugas menampakkan sosok perempuan tua, sendirian, dengan kepala agak menunduk dan kita melihatnya dari belakang. Penampilan figur seperti itu langsung mengingatkan kita baik pada Elena maupun pada Miss Marple. Dalam novel-novel Agatha Christie, Miss Marple digambarkan sebagai perempuan tua berusia 70-an tahun, sementara dalam Elena Knows, Elena digambarkan sebagai perempuan berusia 63 tahun sebagaimana dia katakan: “Umurku hampir 65 tahun, satu setengah tahun lagi…”

Sementara pada kover edisi Inggris yang dikerjakan oleh Pablo Font, kita mendapatkan tautan itu secara implisit: warna kuning pada latar menyimbolkan usia tua. Kita lazim menggunakan kuning untuk merujuk kertas yang sudah berusia sangat lama. Dalam puisi Acep Zamzam Noor misalnya kita menemukan baris “Kitab-kitab telah menguning | dalam kotak batin”1Acep Zamzam Noor, “Catatan Akhir Tahun (2)” dalam Tulisan Pada Tembok (Depok: Komodo Books, 2011), hal. 63., mengindikasikan buku-buku yang sudah lama mengendap dalam pikiran. Kita tentu saja tidak bisa mengatakan bahwa penautan makna simbol tersebut bersifat lokal, karena kita misalnya menemukan ungkapan yang kurang lebih menyaran pada pemaknaan sama dalam Soneta Shakespeare: “Demikian jugalah kertas-kertasku, menguning seiring laju usia”2William Shakespeare, “Sonnets 17”, dalam The Sonnets and a Lover’s Complaint (London: Everyman, 2000), hal. 19..

Selain itu, kita juga biasa menggunakan warna kuning untuk mewarnai matahari, simbol sumber cahaya yang meliputi dunia. Dengan kata lain: sesuatu yang dominan dan maha. Gabungkan antara dua pemaknaan simbolis itu, usia tua dan dominasi, maka kita mendapati sosok Elena: tua dan dominan.   

Namun Elena Knows bukan sekadar cerita detektif. Cerita detektif mengandaikan adanya kejahatan, adanya penjahat, dan adanya detektif. Cerita berakhir ketika penjahat yang melakukan kejahatan tertangkap atau terungkap dan sang detektif, bersama kita para pembaca, bisa tersenyum menyambut luruhnya tegangan pasca-klimaks.

Ekspektasi kita ketika membaca Elena Knows mungkin mendorong kita menyusun struktur sederhana: Elena adalah detektif, kejahatan adalah pembunuhan Rita, penjahatnya akan kita lacak bersama Elena. Sejak awal kita bahkan disodori satu situasi yang sangat khas ketika semua orang percaya bahwa tidak ada kejahatan—dan Rita bunuh diri, bukan dibunuh—kecuali Elena.

(Rita was found hanging from the church belfry. Dead. On a rainy afternoon. That, the rain, Elena knows, is an important detail. Even though everyone says it was suicide. Friend or not, everyone says so. … Rita had been afraid of lightning, ever since she was a little girl…)

Rita ditemukan tergantung di menara lonceng gereja. Mati. Pada sore hujan. Poin itu, hujan, Elena tahu, adalah rincian penting. Meski semua orang mengatakan bahwa itu peristiwa bunuh diri. Teman ataupun bukan, semua orang mengatakan demikian. … Rita takut petir, sejak dia kanak-kanak…

Bagian I Bab 4

Elena tahu bahwa Rita takut petir sejak kecil, orang-orang lain tidak tahu hal itu. Oleh sebab itu Elena yakin Rita dibunuh. Ekspektasi kita kemudian akan mengharapkan akhir cerita berbasis empati pada hero, sang detektif, bahwa nanti di akhir akan terbukti Elena benar dan semua orang lain salah, bahwa penjahatnya adalah salah seorang di antara “semua orang lain” itu yang paling tampak tidak mungkin: plot twist ‘pelintiran alur’ yang lazim dalam cerita detektif. Lalu di akhir cerita kita memang menemukan pelintiran alur, tetapi pelintiran itu sekaligus meruntuhkan semua ekspektasi kita yang sepanjang cerita bergerak bersama pengetahuan dan keyakinan Elena. Jika ada sosok penjahat pembunuh Rita, maka penjahat itu adalah Elena.

Kita mungkin lantas teringat satu cerita detektif paling klasik yang kita kenal: Oedipus Sang Raja. Kita, sebagaimana Oedipus, tahu bahwa ada kejahatan, yaitu pembunuhan Raja Laius. Oedipus lantas menjadi detektif melacak siapa penjahat yang melakukan pembunuhan. Lalu bersama Oedipus kita tahu bahwa sang penjahat ternyata adalah Oedipus sendiri. Baik Oedipus maupun Elena melakukan pembunuhan secara tidak sengaja, dan lebih tragisnya lagi Elena melakukannya secara tidak langsung: ia tanpa sadar menciptakan motif bagi Rita untuk melakukan bunuh diri.

Kemungkinan intertekstualitas antara dua cerita dari negeri dan zaman yang jauh ini sebenarnya juga tampak dari komposisi cerita. Elena Knows dibagi tiga tajuk, “Pagi Hari (Pil Kedua)”, “Siang Hari (Pil Ketiga), dan “Sore Hari (Pil Ketiga)”. Tiga tajuk itu, selaras cerita, merujuk pada tiga dari empat momen Elena harus meminum pil Levodopa dalam sehari untuk menjaga anggota-anggota tubuhnya yang diserang Parkinson tetap berfungsi sekadarnya. Pil pertama dia minum pagi-pagi sekali, pil kedua dia minum pukul sembilan, pil ketiga dia minum dalam taksi menuju rumah Isabel, dan pil keempat dia minum di bab penutup cerita di rumah Isabel.

(Elena’s time is different from the time kept by trains, running underground from one station to another. She doesn’t have a timetable. Her time is measured in pills.)

Waktu Elena berbeda dari waktu yang kereta jalani, melaju di bawah tanah dari satu stasiun ke stasiun lain. Dia tidak punya jadwal. Waktunya ditakar oleh pil.

Bagian II Bab 3

Maka kita bahkan mendapati bahwa pertimbangan mengapa Elena merencanakan untuk naik kereta pukul sepuluh pun berdasarkan pertimbangan efek pil:

(She has to take the train into the city at ten o’clock; the one after that, the eleven o’clock, won’t do because she took the pill at nine, so she thinks, and she knows, that she has to take the ten o’clock train, right after the medication has managed to persuade her body to follow her brain’s orders.)

Dia harus naik kereta menuju kota pukul sepuluh; tidak bisa kereta setelahnya, pukul sebelas, karena dia meminum pil pada pukul sembilan, begitu dia pikir, dan dia tahu, bahwa dia harus naik kereta pukul sepuluh, tepat setelah obat mulai membujuk tubuh dia untuk mematuhi perintah-perintah otaknya.

Bagian I Bab 1

Dengan demikian, komposisi tiga tajuk merujuk waktu ini mengingatkan kita pada peraturan durasi yang merupakan salah satu dari tiga asas utama drama Yunani klasik: unity of time ‘kesatuan waktu’. Aristoteles dalam Poetics ‘Puitika’ mengatakan bahwa “drama tragedi sebisa mungkin berlangsung dalam satu putaran matahari, atau hanya melebihinya sedikit”3Aristoteles, “Poetics”, dalam Classical Literary Criticism (London: Penguin, 2004), hal. 63. Kutipan tentang alur diambil dari buku yang sama hal. 66.. Dalam risalah yang sama, dia juga mengatakan bahwa alur harus “lengkap, utuh, dan memiliki batasan pasti”, dengan apa yang dia maksudkan utuh adalah “memiliki awalan, bagian tengah, dan akhiran”. Dua aturan tersebur selaras dengan komposisi Elena Knows, yakni cerita berlangsung dari pagi sampai sore dan masing-masing masa sekaligus juga menjadi penanda tiga bagian besar alur.

Bagian pertama Elena Knows terdiri dari 8 Bab, bagian kedua 7 Bab, dan bagian ketiga 4 Bab. Sebagai cerita utama, bagian pertama memuat cerita Elena berangkat menuju stasiun akan naik kereta pukul sepuluh, bagian kedua memuat cerita Elena tiba di Plaza Constitución lalu naik taksi dan tiba di Olleros, bagian ketiga memuat cerita perjumpaan kembali Elena dengan Isabel di rumah Isabel.

Di samping itu, Elena Knows memuat cerita sekunder terkait perjumpaan Rita dan Elena dengan Isabel 20 tahun lalu; relasi Elena dengan Rita, Roberto Almada kekasih Rita yang bungkuk dan selalu Elena ejek sebagai cripple ‘si pincang’ dan berusia “di atas empat puluh tahun”, dan Mimí ibu Roberto yang berganti nama dari Marta; kematian Rita dengan tubuh tergantung di belfry ‘menara lonceng’ dan penyelidikan yang Elena lakukan terkait kematian itu: menemui bocah-bocah yang pertama menemukan mayat Rita, menemui Bapa Juan, mengobrolkan daftar tersangka yang dia susun dengan Inspektur Avellaneda.

Cerita-cerita tersebut disajikan tidak secara kronologis, melainkan diselipkan sedikit demi sedikit di antara alur utama sehingga menaikkan tegangan cerita utama. Kita misalnya mendapatkan rincian perjumpaan awal dengan Isabel baru pada awal bagian ketiga karena pada dua bab setelah itulah klimaks berlangsung dan rincian perjumpaan awal itu penting untuk menggerakkan alur menuju klimaks, sementara cerita penyelidikan yang Elena lakukan diselipkan selang-seling pada bagian kesatu dan kedua sehingga sedikit demi sedikit kita menjadi tahu karakterisasi Elena dan beragam peristiwa yang menjadi motif kepergian Elena menuju rumah Isabel.

Selain melalui judul dan komposisi, kita juga mendapatkan bocoran tentang konten melalui dua epigraf merujuk pada Thomas Bernhard (1931-1989), sastrawan Austria, yang dicantumkan setelah halaman dedikasi. Epigraf pertama kutipan dari novelnya, Gargoyles:

(Now he understood her, who had lived beside him so many years and been loved but never understood. You were never truly together with one you loved until the person in question was dead and actually inside you.)

Kini dia memahami si perempuan, yang telah tinggal di sampingnya berbilang tahun dan dicintai tetapi tak pernah dimengerti. Kamu tak pernah benar-benar bersama dengan seseorang yang kamu cintai sampai orang tersebut mati dan benar-benar ada dalam dirimu.

Sementara epigraf kedua dari kata-kata Thomas Bernhard dalam wawancara dengan André Müller pada 29 Juni 1979 berjudul “Hutan itu Luas, Demikian Juga Kegelapan”4Terjemahan Inggris wawancara tersebut selengkapnya bisa diakses di sini.:

(Even a concrete building is nothing but a house of cards. It’s just waiting for the right gust of wind.)

Bahkan satu bangunan beton pun hanya satu rumah tersusun dari kartu-kartu. Ia hanya menanti embusan angin yang pas.

Dua epigraf tersebut mewakili cerita yang novel sodorkan. Epigraf pertama menggambarkan Elena yang merasa tahu tentang Rita anaknya tetapi baru benar-benar memahaminya saat Rita sudah meninggal. Sementara “bangunan beton” pada epigraf kedua bisa merujuk pada pengetahuan Elena yang sangat dia yakini tetapi ternyata kemudian runtuh berkeping-keping akibat “embusan angin” kata-kata Isabel. Tentu saja embusan angin itu pun hanya bisa datang pada saat yang pas, yakni ketika Elena memaksakan tubuh ringkihnya menemui Isabel yang didorong oleh kematian Rita. Tanpa kematian Rita, kita tahu, Elena akan tetap dalam segala keyakinannya, Rita akan tetap dalam deritanya, demikian juga Isabel: tidak akan ada angin berhembus dan rumah kartu tak akan runtuh.

2

Elena Knows adalah novel tentang celah antara berbagai hal dan melalui pengungkapan berbagai celah itu tercipta tanda sengkang. Tanda sengkang, kita tahu, menautkan frasa, klausa, atau kalimat inti dengan sebuah aposisi, situasi yang mengandaikan adanya yang utama dan tambahan, yang primer dan sekunder.

Apa yang utama dalam Elena Knows pertama-tama adalah Elena, apa yang dia ketahui dalam kemahatahuannya, apa yang dia yakini berdasarkan pengetahuan arbitrer, sementara yang tambahan adalah Rita dengan depresinya dan Isabel dengan represinya. Akan tetapi tampaknya justru yang ingin novel ini tunjukkan adalah dekonstruksi terhadap pemahaman umum pertama-tama seperti di atas. Jika pandangan orang tua—bisa kita perluas bukan hanya ibu dan bapak tetapi juga dalam pengertian literal dan di segala segmen kehidupan di luar rumah—selalu dianggap sebagai lebih utama dan bahkan ketika hanya berdasarkan pengalaman dan prasangka subjektif selalu kultur posisikan sebagai kebenaran objektif, novel ini membalik anggapan tersebut.

Dus, saat cerita detektif ini usai, kita tahu apa yang utama sama sekali bukan Elena, melainkan Rita dan Isabel, sementara Elena justru merupakan aposisi. Karena dengan menunjukkan adanya celah dan bahwa apa yang Elena duga dia ketahui dengan seyakin-yakinnya ternyata hanya prasangka yang sama sekali tidak didukung oleh realitas, peran orang-yang-tahu beralih pada Rita dan Isabel. Dengan demikian, mengutip kata-kata Dr Fiona yang diungkapkan dengan bagus dalam catatan penutup, “alih-alih apa yang Elena ketahui, kunci bagi novel yang sangat menyentuh ini justru apa yang Elena tidak ketahui”. Sepanjang Bagian Satu dan Dua, frasa “Elena knows” diulang-ulang sangat banyak, menekankan keyakinan dia bahwa dia tahu. Apa yang Elena seharusnya ketahui tetapi tidak lantas dia ketahui dalam klimaks cerita pada Bagian Tiga, momen ketika tanda sengkang tercipta.

Dalam catatan penutup Elena Knows, Dr Fiona Mackintosh mengatakan bahwa Piñeiro memang seorang aktivis yang ikut memperjuangkan legalisasi aborsi di Argentina yang akhirnya gol pada 30 Desember 2020. Dalam cerita, Elena berjumpa Isabel 20 tahun lalu. Dalam perjalanan kembali bekerja di sekolah Katolik setelah makan siang, Rita bertemu Isabel yang tampak sedang muntah-muntah di depan rumah Olga, tempat praktik aborsi. Rita kemudian membawa Isabel ke rumahnya. Isabel memaksa ingin melakukan aborsi tetapi Elena dan Rita mengantarkan Isabel pulang ke rumahnya.

Motif Elena menemui Isabel adalah meminta Isabel membantu melakukan penyelidikan para tersangka, Elena sendiri tak mampu melakukannya dengan kondisi tubuh seperti itu. Elena yakin Isabel akan mau karena merasa berutang budi pada Rita yang telah mencegah dia melakukan aborsi 20 tahun lalu. Elena yakin “kisah Isabel berakhir bahagia” dan kini Isabel bahagia dengan anaknya, sebagai seorang ibu. Begini kata-kata Elena ketika meminta bantuan pada Isabel:

(…I need a body, but I don’t have one, this one just barely got me here, today, I don’t know if tomorrow I’ll be able to even move, there’s not much more I can do, with the Parkinson’s, …I’d take advantage of your feeling of owing my daughter something that you could pay back by lending me what I don’t have, a body, a body that’s able to help.)

…aku butuh tubuh, tetapi aku tidak punya, tubuhku hampir saja tidak mampu sampai ke sini, hari ini, aku tidak tahu apakah besok hari aku akan mampu untuk sekadar bergerak, tidak tersisa banyak hal yang bisa aku lakukan, dengan tubuh terkena Parkinson, … Aku memanfaatkan perasaanmu yang merasa berutang sesuatu pada putriku supaya kamu bisa membayarnya dengan meminjamiku sesuatu yang tak kumiliki, tubuh, tubuh yang mampu membantu.

Bagian III Bab 2

Ternyata Isabel mengatakan bahwa dia sampai sekarang masih tidak merasa bahagia dengan hal itu dan tidak merasa berterima kasih sudah dicegah melakukan aborsi dulu. Alih-alih merasa berutang budi, dia justru sangat ingin membunuh Rita.

(I didn’t want to be a mother, everyone else wanted it, my husband, his partner, your daughter, you, my body grew for nine months and Julieta was born, condemned to life with a mother who didn’t want to be one, …)

Aku tak ingin menjadi seorang ibu, semua orang lain menginginkan itu, suamiku, partnernya, putrimu, kamu, tubuhku melar selama sembilan bulan dan Julieta lahir, dikutuk untuk hidup bersama seorang ibu yang tak ingin menjadi ibu, …

Bagian III Bab 2

Situasi tersebut merupakan momen pertama keyakinan Elena bahwa dia tahu menjadi goyah. Selanjutnya, bertolak dari kasus dia, Isabel membuka pikiran Elena tentang kemungkinan apa yang mendorong Rita bunuh diri.

(What test could life have placed in front of your daughter to make her do something she never thought she’d do? What could’ve made her decide she didn’t mind going to a church on a day like that? What could’ve been so terrible that she preferred to walk through the thunder and lightning she believed could kill her? Maybe she wanted the very thing she’d been so scared of before, for a bolt of lightning to split her in two. And when it didn’t happen, when she got there and realised it was all a lie, that she was soaking wet but still alive, she chose to climb the tower, tie the kind of knot she’d never thought she knew how to tie, put the rope around her neck, and hang herself.)

Cobaan apa yang mungkin telah hidup taruh di hadapan putrimu sampai-sampai mendorong dia melakukan sesuatu yang tak pernah terpikir olehnya akan dia lakukan? Apa yang mungkin telah membuat dia memutuskan dia tak keberatan pergi ke gereja pada hari dengan cuaca seperti itu? Apa yang mungkin sangat mengerikan sampai-sampai dia memilih berjalan menerobos guntur dan petir yang dia yakini bisa membunuhnya? Mungkin dia menginginkan sesuatu yang sebelumnya sangat dia takuti, menginginkan sambaran petir membelah tubuhnya. Dan ketika itu tidak terjadi, ketika dia tiba di gereja dan menyadari bahwa semua bahaya itu hanya dusta, bahwa dia basah kuyup tetapi masih hidup, dia memilih menaiki menara, mengikatkan satu jenis simpul yang tidak pernah dia pikir dia tahu cara melakukannya, melingkarkan tali pada lehernya, dan menggantung dirinya sendiri.

Melalui kalimat panjang menutup Bagian III Bab 2 itu, kita tahu bangunan keyakinan Elena benar-benar runtuh. Dia akhirnya tahu sesuatu yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Elena yang mahatahu telah kehilangan kemahaannya, bangunan beton itu akhirnya menjadi kepingan kartu yang porak-poranda diembus angin.

Sesuatu itu lantas kita ketahui pada bab selanjutnya berupa analepsis ke masa dua hari sebelum kematian Rita. Rita menemui Dr Benegas, dokter yang menangani penyakit Elena. Dari Dr Benegas dia mendapatkan informasi penyakit Elena akan semakin parah, Parkinson-Plus, dia akan kembali menjadi bayi yang tidak mampu melakukan apa pun tanpa bantuan orang lain. Secara tersirat Rita mengajukan eutanasia, tetapi Dr Benegas menolak, sementara Elena juga bersikeras ingin hidup dan tinggal di rumah. Rita meledak karena itu berarti dia harus merawat Elena lebih dari yang sudah lama dia lakukan. Simak bagaimana kata-kata Dr Benegas kepada Rita:

(There comes a time for us to give back what our parents gave to us, she needs you like you needed her years ago, you’re going to have to be your mother’s mother, Rita, because the Elena we know is going to be a baby.)

Akan tiba saatnya bagi kita mengembalikan apa yang telah orang tua berikan kepada kita, dia membutuhkanmu seperti kamu membutuhkan dia dulu, kamu akan harus menjadi ibu bagi ibumu, Rita, karena Elena yang kita kenal akan menjadi seorang bayi.

Bagian III Bab 3

Bapa Juan atas nama agama mengatakan tubuh kita bukan milik kita tetapi milik Tuhan, Dr Benegas atas nama kalangan masyarakat beradab menolak eutanasia dan menekankan utang anak pada orang tua dengan konsekuensi tubuh kita harus dibaktikan sepenuhnya untuk itu. Baik pada kasus Isabela dengan aborsi, Elena dengan eutanasia, Rita dengan kewajiban menghabiskan umur mengurus ibu, kita mudah melihat semuanya terkait isu kepemilikan tubuh yang—jika melihat semua korban adalah perempuan maka kita bisa mengatakan—kerap perempuan hadapi.

Elena Knows mengekspos beragam efek buruk ketidakbebasan perempuan untuk memiliki tubuh mereka sepenuhnya. Isabel yang tidak boleh memilih melakukan aborsi dan harus menjadi ibu, Rita sudah berusia 44 tahun tetapi tidak bisa pergi dari kewajiban yang kultur bebankan untuk mengurus ibu. Momen ketika untuk kedua kalinya Elena ingin menguasai tubuh Isabel dengan “meminjam tubuh” dia untuk menyelidiki kematian Rita dan Isabel menolak pada dasarnya merupakan contoh ideal bahwa tubuh kita adalah milik kita dan ada batasan sejauh mana orang lain boleh menggunakan tubuh kita. Batasan yang memungkinkan kita menolak, satu hal yang tidak bisa Isabel lakukan di awal sehingga dia terpaksa menjadi ibu dan Rita sehingga dia memilih bunuh diri.    

Dalam keterangan pada Elena Knows Reading Guide yang bisa diunduh di situs International Booker Prize, Pineiro mengatakan bahwa peristiwa bunuh diri di menara lonceng gereja adalah sesuatu yang “tidak tak biasa” di Burzaco, kota kecil di Buenos Aires tempat kelahiran dia. Dia kemudian mengisahkan obrolan dengan seorang kawan sepermainannya:

“Kamu saat ini sedang menulis?” dia bertanya kepadaku.

“Ya,” jawabku.

“Tentang apa novel barumu?”

“Kisah perempuan yang putrinya ditemukan tergantung di menara lonceng dan dia ingin tahu apakah putrinya itu dibunuh atau bunuh diri.”

“Ah, berarti cerita itu berlatar Burzaco,” temanku menyimpulkan. 

Namun kita bisa menangkap menara lonceng dijadikan tempat pilihan Rita untuk bunuh diri sebagai simbol protes terhadap otoritas agama. Protes itu dilakukan di tempat otoritas agama sekaligus pada posisi lebih tinggi dari para pemegang otoritas, Bapa Juan sang pendeta, Dr Benegas, dan juga Elena ibunya, sebagai simbol bahwa pada akhirnya ada satu momen ketika dia bisa menentukan sendiri apa yang boleh dan tidak boleh dia lakukan terhadap tubuhnya tanpa dirongrong oleh otoritas mana pun, yakni memilih membunuh tubuhnya.

Kita tentu saja bisa membayangkan bagaimana sikap agama terhadap pilihan bebas itu. Bahkan setelah mati pun Rita—yang bekerja di sekolah Katolik sejak berusia tujuh belas tahun—masih dipojokkan karena pilihannya. Simak komentar Bapa Juan:

(The Church condemns suicide just as it condemns any murder, any wrongful use of the body that does not belong to us, whatever name you want to give the action, suicide, abortion, euthanasia.)

Gereja mengutuk bunuh diri sebagaimana Gereja mengutuk segala jenis pembunuhan, cara apa pun yang keliru dalam menggunakan tubuh yang bukan milik kita, apa pun nama yang ingin kamu berikan terhadap tindakan itu, bunuh diri, aborsi, eutanasia.

Bagian II Bab 8

Bukankah jika kita tak ingin ada perempuan-perempuan lain memilih akhir hidup seperti Rita maka kita idealnya memperbaiki apa yang keliru dalam sikap kita terhadap perempuan-perempuan itu saat mereka masih hidup? Ketika hidup melarang kita menjatuhkan pilihan bebas apa pun selain kematian, apakah perempuan—atau siapa pun—yang memilih satu-satunya pilihan itu layak disalahkan?

Boleh jadi kematian di mata Rita adalah sesuatu yang lebih “hangat” daripada kehidupan yang membuatnya depresi, seperti yang kita ingat dari baris-baris puisi terkenal Emily Dickinson:

Sebab aku takbisa berhenti dan menanti Kematian –

Dia berhenti dan menantiku dengan hangat –

Kereta membawa hanya Diri Kami –

Dan Kekekalan.

Maka pada akhirnya kita boleh yakin bahwa jika Elena Knows memukau kita maka sebabnya bukan karena Piñeiro jago mendeskripsikan satu lanskap nun jauh di Argentina kiwari dengan sangat rinci sehingga mampu membuat kita merasa berada di sana. Bukan juga karena cara dia menyampaikan rentetan narasi dalam paragraf-paragraf yang panjangnya bisa berhalaman-halaman tanpa membuat kita mabuk.

Apa yang membuat Elena Knows memukau kita adalah fenomena universal yang ia sajikan, bahwa persoalan-persoalan yang menimpa Rita dan Isabel adalah persoalan-persoalan yang juga kita hadapi di sini dan juga orang-orang lain di tempat lain. Mungkin juga sebagian dari kita selama ini bersikap seperti Elena di awal novel karena tidak ada Piñeiro di tengah-tengah kita, pengarang yang memberi suara pada kebisuan Rita dan Isabel dalam novel tipis memikat yang dibuka dengan dedikasi singkat: Teruntuk ibuku

April, 2022

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Tentang Penulis

Tentang Penulis

Cep Subhan KM. Lahir di Ciamis tanggal 6 Juni. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi bersama Ludah Surga (2006) dan Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf (2007), sementara beberapa puisinya diikutkan dalam antologi penyair muda Ciamis Kota Menjadi Kata (2017). Sudah menerbitkan novel Serat Marionet (2011) dan dwilogi Yang Tersisa Usai Bercinta (2020) dan Yang Maya Yang Bercinta (2021), dan satu buku puisi, Hari Tanpa Nama (2018). Satu novelnya yang lain, Kosokbali (2021), bisa dibaca di portal Kwikku. Esai-esainya tersebar dalam Jurnal Sajak, Jurnaba.co, dan beberapa media daring lain. Esai kritik sastranya menjadi Pemenang II Sayembara Kritik Sastra DKJ 2022 dan Juara 2 Lomba Kritik Sastra Dunia Puisi Taufiq Ismail 2023.