1
NOVEL lama karya penulis Australia Christopher Koch (1932-2013), The Year of Living Dangerously (1978)1Dalam tulisan ini, semua rujukan dan kutipan dari novel terkait bersumber dari edisi terjemahan Serambi (cet. II, November 2009) kecuali jika secara khusus disebutkan dari sumber lain.adalah novel berlatar sejarah yang disajikan dengan bagus. Meskipun demikian, tidak harus menjadi seorang Sukarnois untuk menengarai cara negatif Christopher Koch menggambarkan Sukarno sejak halaman awal dan berlanjut sepanjang 493 halaman cerita.
Kita misalnya menemukan narasi panjang narator menggambarkan sosok Sukarno sebagai pencipta “teater euforia revolusioner-romantis yang membuat” rakyat “terpesona”, menyiratkan bahwa tindakan-tindakan Sukarno hanya “sandiwara” dan bukan tindakan serius seorang presiden. Selain itu, juru “teater yang membuat rakyat terpesona” juga merupakan stigmatisasi lazim pihak Barat terhadap para pemimpin Timur pada masa ketika dunia dibagi menjadi dua blok ideologis. Kita masih bisa menemukan sisa stigmatisasi semacam itu kini dalam penggambaran media atas, misalnya, tindakan-tindakan Kim Jong-un.
Dengan kata lain, kata dan lakuan Bung Karno diposisikan sebagai hasil seniman dan koreografer, satu hal yang tak bisa dibantah sebagaimana dalam novel juga disebutkan bahwa “Bung Karno memperlihatkan kegeniusan untuk menciptakan istilah-istilah”.2Dalam periode 1926-1967, sejauh yang bisa ditemukan arsipnya, Bung Karno menulis 1200-an teks artikel dan pidato. Dalam teks-teksnya, tampak bahwa Bung Karno memanfaatkan banyak elemen puitika dan retorika yang berpotensi memperbesar resepsi pendengar-pembaca sesuai kehendak. Sementara kegandrungan Bung Karno pada seni juga hal yang sudah disinggung oleh banyak penulis, meski tulisan khusus mengenai hal tersebut masih sedikit, salah satunya buku Nurani Soyomukti, Soekarno: Visi Kebudayaan & Revolusi Indonesia (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2010). Buku menunjukkan bahwa pandangan Bung Karno terkait seni dan budaya, sebagaimana pandangan-pandangan dia tentang hal-hal lain semisal Islam, Ekonomi, dan Politik Luar Negeri, bertolak dari prinsip sama yang dia pegang secara konsisten sejak masa mudanya.Akan tetapi pujian tersebut menjadi klise dan salah arah ketika dilanjutkan dengan stereotipe bahwa semua itu dilakukan “sebagai pengganti manajemen ekonomi”, bahwa dia
memanasi egonya dengan nyala sikap diktatoris terang-terangan Eropa sembilan belas tiga puluhan. Peci hitamnya dimiringkan dalam sikap menantang: campuran mencengangkan antara aura pengancam dan playboy.
hal. 22
Playboy dan peci hitam miring juga muncul berkali-kali dalam cerita dengan atmosfer negatif, termasuk ketika Hamilton pertama bertemu Sukarno dan ingat bahwa “Wally O’Sullivan mengklaim Bung tidak melepas peci itu bahkan ketika selama pergumulan cintanya yang terkenal” (hal. 51) atau ketika Billy Kwan mencoba memakai peci dengan gaya semacam itu dalam pesta di rumah Wally O’Sullivan pada Bab 8.
Karakter Wally juga menggambarkan Sukarno dengan saru terkait Sarinah:
“Sarinah adalah pembantu di rumah ayahnya ketika dia kecil; dia sering tidur di ranjangnya. Itu tentunya yang telah memulai kariernya sebagai seorang pejantan. …Dan lagi pula, apa yang paling ingin dia lakukan dengan orang kecil adalah masuk ke tempat tidur dengan mereka—yang perempuan-perempuannya, itu saja. Aku pikir dia lebih suka menjajar3Dalam versi Inggris kata yang digunakan adalah plough. Dari segi makna, lebih pas jika terjemahan yang digunakan adalah membajak seperti kita temukan dalam edisi Narasi. Ketika digunakan dengan kata perempuan sebagai objek dalam struktur kalimat, kata membajak lazim bermakna metaforis menyetubuhi, sementara ketika digunakan merujuk tanah bermakna literal. Menjajar memang bisa bermakna membajak juga, tetapi kurang lazim digunakan.Sarinah daripada menjajar tanah bersama Marhaen.”
hal. 366-367
Atau momen terjadinya tragedi Gestok 19654Mengikuti Bung Karno dan fakta, tulisan ini menggunakan istilah Gestok dan bukannya G30S yang dipopulerkan dalam buku-buku pelajaran sejarah susunan Orde Baru dan kerap ditambahi embel-embel “PKI” sebagaimana masih kita baca bahkan dalam “Edisi Pemutakhiran” buku babon Sejarah Nasional Indonesia Buku ke-VI (2008), ataupun Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) yang dipopulerkan oknum-oknum yang sama untuk menciptakan analogi kekejaman para pelaku peristiwa tersebut setara dengan Gestapo, polisi rahasia Nazi. Dalam pidato-pidato awal pasca-Gestok, Bung Karno biasanya menyebut tragedi itu terjadi pada 30 September, tetapi mulai pidatonya di hadapan para anggota Golongan Karya Nasional pada 11 Desember 1965, dia menggunakan istilah Gestok (Gerakan Satu Oktober) dengan alasan faktanya tragedi itu terjadi pada 1 Oktober pagi: “Sebetulnya bukan 30 September! 1 Oktober pagi, jam 4 pagi.” Lihat “Amanat PJM Presiden Soekarno di Hadapan Para Anggota Golongan Karya Nasional di Istana Bogor, 11 Desember 1965 (Malam)”, dalam Budi Setiyono & Bonnie Triyana (ed.), Revolusi Belum Selesai: Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaksara (Jakarta: Serambi, 2014), hal. 214., digambarkan bahwa “Sukarno menghabiskan malamnya di ranjang Dewi, di rumah Hollywood yang telah dia bangun untuknya di Slipi.” (hal. 461). Meski hal tersebut selaras dengan fakta yang disajikan oleh berbagai referensi lain, tetapi cara penyampaiannya menggiring kita memerlakukan fakta tersebut dengan resepsi negatif: sementara di satu sisi terjadi peristiwa berdarah pembunuhan para jenderal sehingga negara dalam keadaan genting, Sukarno sebagai presiden malah enak-enakan tidur bersama istri mudanya yang glamor. Penggiringan tersebut diperkuat pula penyampaian informasi tak perlu bahwa rumah tersebut mewah, “rumah hollywood yang telah dia bangun”, dikontraskan dengan gambaran situasi ekonomi rakyat yang sangat buruk.
Representasi negatif Sukarno semacam itu kini sudah menjadi semacam klise sejarah saking seringnya ditunjukkan oleh pihak-pihak yang karena beragam alasan gandrung desukarnoisasi. Kita bisa mendapatkan representasi senada dalam buku-buku produk penulis bermental Orde Baru. Akan tetapi terlalu tergesa menuduh Christopher Koch sebagai salah satu dari mereka: dia mungkin mendasarkan representasi Sukarno tersebut pada kombinasi pengamatan saudaranya yang—sebagaimana Guy Hamilton—menjadi jurnalis Australia pada latar yang sama dengan novel dikombinasikan pengalaman Koch sendiri saat dia bekerja di Jakarta selama dua bulan pada tahun 1968. Selain itu, buku ini, sebagaimana proses syuting filmnya yang kemudian tayang tahun 1982, dilarang Orde Baru.
Namun kita boleh menduga larangan Orde Baru bukan terkait representasi Sukarno—yang pasti mereka sukai—melainkan bagian lain dalam novel tersebut yang menyinggung pembunuhan para pengikut Komunis. Buku ini mungkin dihadapi pemerintah Orde Baru dengan dilema karena posisinya yang ambang: bisa digunakan untuk mendukung propaganda terkait desukarnoisasi, tetapi juga berpotensi membuka catatan sejarah pembantaian tahun 1965 yang coba ditutup-tutupi.
Terjemahan novel diterbitkan pertama kali oleh Narasi pada tahun 2003, diterjemahkan oleh Zuniriang Hendrato dkk dan dieditori oleh Ngarto Februana, diberi judul A Year of Living Dangerously: Tahun Kehidupan yang Berbahaya. Pada tahun 2009, Serambi menerbitkan edisi baru, diterjemahkan oleh Yuliani Liputo dan dieditori oleh M Sidik Nugraha, diberi judul The Year of Living Dangerously: Cinta di Tengah Gejolak Revolusi 1965.

Dari segi tampilan, gambar sampul edisi Narasi yang menampilkan wayang mengikuti pola gambar sampul edisi Inggris, sementara sampul edisi Serambi lebih mengikuti representasi karakter-karakter versi film. Wayang memang memiliki peranan penting dalam novel ini, baik digunakan secara simbolis dalam cerita, menguatkan karakterisasi Billy Kwan, ataupun sebagai latar tempat berkumpul para jurnalis sepanjang cerita: Bar Wayang, sebuah “gua merah emas” yang menjadi “tempat perlindungan bagi korps wartawan asing…dari apa yang ada di luar”, yakni gegap gempita Konfrontasi dengan Malaysia.
Edisi Narasi menyodorkan novel dalam ukuran tanggung: mencoba mengesankan “buku saku” tetapi ukuran panjang dan lebar yang hampir sama sehingga membuatnya hampir persegi malah menghasilkan tampilan aneh. Edisi Serambi, dalam hal ini, menyodorkan ukuran dan kemasan yang lebih ideal untuk sebuah novel.
Dari segi judul, kita tidak tahu apa alasan edisi Narasi mengubah artikel the menjadi a sementara dalam halaman informasi jelas-jelas disebutkan edisi ini merujuk pada sumber asli edisi 1978. Penggunaan artikel the jelas penting untuk spesifikasi, karena judul itu sendiri merujuk pada pidato Sukarno pada 17 Agustus 1964, satu hal yang dijelaskan dengan bagus dalam novel oleh Wally O’Sullivan pada Hamilton:
“Kau tahu apa sebutan Presiden untuk tahun ini dalam pidato Hari Kemerdekaan Agustus lalu? Dia memberi julukan untuk setiap tahun, Guy, dan aku mencatat nama yang diberikan Sukarno dari satu Hari Kemerdekaan ke yang berikutnya. Tahun kita sekarang ini disebutnya Tahun Vivere Pericoloso.”
hal. 27
Anak judul yang Narasi cantumkan adalah kreasi penerbit dan mungkin pertimbangannya lebih terkait aspek ekonomi daripada filosofis. Akan tetapi jika mengikuti filosofi penggunaan judul novel sendiri maka terjemahan lebih tepat jika dicantumkan “Tahun Nyrempet-Nyrempet Bahaya” sebagaimana Bung Karno sebutkan dalam pidato HUT Proklamasi 17 Agustus 1963, “Genta Suara Revolusi Indonesia”.
Sebagaimana Wally O’Sullivan katakan, Bung Karno memang suka memberi “julukan” untuk tahun sebagaimana ditunjukkan dalam judul-judul pidato 17 Agustus. Pada 17 Agustus 1962 pidatonya berjudul “Tahun Kemenangan” (Takem), tahun 1963 “Genta Suara Revolusi Indonesia” (Gesuri), tahun 1964 “Tahun ‘Vivere Pericoloso’”, tahun 1965 “Tahun Berdikari” (Takari). Hal tersebut Bung Karno katakan juga dalam pidato HUT Proklamasi 17 Agustus 19595Pidato-pidato Bung Karno tiap tanggal 17 Agustus dari tahun 1945-1965 dikumpulkan dalam Dari Proklamasi Sampai Takari, sementara edisi yang lebih lengkap dari tahun 1945-1966 dikumpulkan dalam Amanat Proklamasi sebanyak empat jilid dan Di Bawah Bendera Revolusi Jilid Kedua edisi paripurna.:
Ada tahun yang saya namakan “tahun ketentuan”, a year of decision. Ada tahun yang saya sebut “tahun tantangan”, a year of challenge. […] Tahun 1959 adalah tahun dalam mana kita kembali kepada jiwa Revolusi. Tahun 1959 adalah tahun Penemuan Kembali Revolusi. Tahun 1959 adalah tahun “Rediscovery of our Revolution”.
“Penemuan Kembali Revolusi Kita” (Rediscovery of our Revolution)
Judul edisi Serambi selaras dengan gambar sampulnya mengikuti versi film. Salah satu perbedaan antara versi novel dan versi film adalah jika versi novel lebih fokus pada petualangan Guy Hamilton sebagai jurnalis asing di Jakarta pada tahun 1965 dengan kisah cinta dia dengan Jill Bryant sebagai hanya salah satu bagian dari kisah tersebut, maka versi film memilih menonjolkan kisah cinta Guy Hamilton dengan situasi sosial politik Jakarta tahun 1965 hanya sebagai latar.
Dari segi terjemahan, berikut sedikit contoh perbandingan pembuka dan penutup novel:
| Edisi Inggris | Edisi Narasi | Edisi Serambi |
| There is no way, unless you have unusual self-control, of disguising the expression on your face when you first meet a dwarf. It brings out the curious child in us to encounter one of these little people. Since Billy Kwan added to his oddity by being half Chinese, it was just as well that we met in the darkness of the Wayang Bar. My attention was drawn to Kwan’s arrival by Wally O’Sullivan, a correspondent for a Sydney daily. | Kau tidak akan mungkin dapat menyembunyikan perubahan mimik wajahmu, kecuali jika kau punya pengendalian diri yang luar biasa, ketika untuk pertama kalinya kau bertemu dengan seorang kerdil. Ini membangkitkan sisi kanak-kanak dalam diri kita yang selalu ingin tahu, sewaktu bertemu dengan salah seorang bertubuh kecil. Karena Billy Kwan tampak lebih aneh, ia setengah Cina, perasaan itulah yang timbul dalam diri kami saat kami bertemu di kegelapan Bar Wayang. Perhatianku tertuju pada kedatangan Kwan bersama Wally O’Sullivan, koresponden sebuah harian Sydney. (hal. 1) | Tidak ada cara untuk menyamarkan ekspresi wajah Anda ketika pertama kali berjumpa kurcaci, kecuali jika Anda memiliki kemampuan pengendalian diri yang luar biasa. Rasa ingin tahu anak kecil yang tersimpan di dalam diri kita semua terpancing keluar saat bertemu salah satu manusia kerdil ini. Ditambah pula dengan kenyataan bahwa Billy Kwan berdarah setengah Cina, keanehannya semakin menjadi-jadi karena kami bertemu di tengah kegelapan Bar Wayang. Aku diberi tahu tentang kedatangan Kwan oleh Wally O’Sullivan, koresponden untuk sebuah surat kabar harian Sydney. (hal. 1) |
| The plane had begun to lose height, making its run into Athens. His good eye burned, and he closed it for a moment. As soon as he did so, a dark shape pedalled and creaked across his middle distance: a betjak, whose rider wore a black shirt, black shorts, and a limp straw hat, and the name of whose machine was Tengah Malam: midnight. | Pesawat itu mulai lepas landas menuju ke Athena. Matanya terasa panas, dan ia menutupinya beberapa saat. Dan pada saat ia melakukan hal itu, sebuah bayangan gelap, mengayuh sebuah benda, berjalan melintas di kejauhan: sebuah becak, yang pengendaranya memakai kaus hitam, celana pendek hitam, dan sebuah topi jerami. Nama mesin itu adalah Tengah Malam. (hal. 519). | Pesawat telah menukik, memasuki Athena. Matanya yang baik serasa terbakar, dan dia memicingkannya untuk sejenak. Segera setelah dia melakukan itu, sebuah bentuk gelap mengayuh dan menderit melintas di kejauhan: sebuah becak, pengemudinya memakai baju hitam, celana pendek hitam, dan topi jerami lemas, dan nama kendaraannya adalah Tengah Malam. (hal. 493). |
Melihat dua perbandingan di atas sebagai contoh di antara sekian banyak contoh lain yang tidak memungkinkan untuk disajikan di sini, bisa dikatakan bahwa edisi Serambi menyajikan terjemahan yang keterbacaannya lebih memadai dibandingkan edisi Narasi. Terjemahan literal it sebagai ini dalam komposisi it…to… pada edisi Narasi misalnya menghasilkan konstruksi kalimat yang kacau, satu hal yang tidak kita temukan dalam terjemahan edisi Serambi untuk komposisi yang sama. Sementara menerjemahkan My attention was drawn to Kwan’s arrival by Wally O’Sullivan menjadi Perhatianku tertuju pada kedatangan Kwan bersama Wally O’Sullivan dalam edisi Narasi jelas tidak memadai dan tersampaikan dengan lebih selaras edisi asli dalam terjemahan edisi Serambi.
Selanjutnya, edisi Narasi menerjemahkan he closed it dengan it merujuk pada mata Guy yang normal menjadi ia menutupinya, satu terjemahan yang tidak memadai karena menutupi lebih mengindikasikan menutup sesuatu dengan sesuatu, sementara he closed it lebih merujuk pada dia menutupkan/memejamkan matanya, lebih sesuai dengan terjemahan edisi Serambi dia memicingkannya. Demikian juga menerjemahkan machine menjadi mesin ketika yang dirujuk adalah becak terasa sebagai terjemahan literal yang karenanya aneh. Keanehan itu tidak terbaca dalam edisi Serambi yang menerjemahkannya sebagai kendaraan.
Membandingkan secara menyeluruh terjemahan kedua novel ini tentu menarik, sama menariknya dengan membahas aspek politis kontennya semisal terkait representasi Sukarno. Akan tetapi hal pertama biarlah menjadi tugas mahasiswa sastra yang mengambil spesifikasi terjemah karena takmungkin tuntas disampaikan dalam esai sepanjang hanya 5000 kata, sementara hal kedua biar menjadi lahan populis kritikus sastra karbitan: apa pun terkait Sukarno takpernah basi dan pembahasan karya dengan mode politis semakin menjamur belakangan ini meski alasannya pada sebagian kritikus boleh kita curigai terkait kemalasan melakukan pembacaan-dekat teks dan perasaan bahwa pembahasan aspek politis membuat pembahas tampak gagah.
Bagi saya sendiri ada hal lain yang takkalah menarik dan jelas lebih mendasar meski bukan berarti lebih remeh: karakterisasi Guy Hamilton, representasi ras, dan potret sosial. Tulisan ini bertolak dari keyakinan tersebut dan pandangan bahwa Christopher Koch pertama-tama merupakan novelis, bukan sejarawan, sebagaimana novel dia bukanlah dokumen sejarah, melainkan novel laris yang mengantarkan Christopher Koch pada posisi penulis sukses.
2
Cerita dalam The Year of Living Dangerously disajikan oleh narator yang dipanggil Cookie, muncul sebagai sebuah nama pada halaman 15 dan kita temukan sebagai salah satu unsur yang diubah dalam film: narator film adalah Billy Kwan. Pilihan tersebut tampaknya dilakukan dengan cermat karena Billy Kwan adalah karakter paling kompleks dan karenanya menarik dalam versi novel, sama menariknya dengan karakter Guy Hamilton—yang disodorkan sebagai karakter utama—karena alasan yang berbeda. Berbagai karakter minor yang juga hadir dalam novel juga bukan menjadi sekadar wayang, melainkan memiliki porsi “hidup” masing-masing.
Namun, sebagaimana sudah disinggung sedikit, wayang justru memiliki posisi penting dalam novel ini. Wayang adalah nama bar tempat kumpul para jurnalis, semacam titik tolak dan tempat berlindung para jurnalis “Nekolim”. Billy Kwan menyimpan lima wayang Jawa di pondokannya dan berkata kepada Hamilton “kalau kau ingin memahami Jawa, Ham, kau harus memahami wayang” (hal. 143). Dalam narasi, Sukarno berkali-kali dianalogikan sebagai seorang dalang yang karena alasan berbeda dicintai baik oleh Wayang Kiri maupun Wayang Kanan. Gestok terjadi ketika dua wayang dari sisi berbeda dan takpernah bisa saling mencintai tersebut mencapai puncak perseteruan dengan yang satu mengalahkan yang lain. Sukarno, sang dalang, sesuai konsistensi pemikirannya sejak masa muda, memilih memihak pada wayang yang kalah.
Bahkan struktur novel ini juga mengikuti struktur pergelaran wayang kulit: 25 bab diorganisasikan berdasarkan 3 episode yang diberi nama berdasarkan patet, titi nada dalam permainan gamelan, yakni patet nem, patet sanga, dan patet manyura. Pemberian nama tersebut bukan hanya selaras dengan alur kisah pergelaran wayang yang bisa disejajarkan dengan awal, tengah, dan akhir dalam konsep Aristoteles tentang komposisi alur, tetapi juga merujuk pada spesifikasi suasana yang melingkupi cerita dan cara cerita disajikan.
Episode awal, “Patet Nem: Kurcaci Hamilton”, tersusun dari bab 1-9, tempo andante, suasana tenang. Dalam episode ini Guy Hamilton bertemu Billy Kwan dan kemudian bekerjasama dengan Billy Kwan sebagai juru potret sekaligus perantara wawancara dengan berbagai tokoh besar. Episode ditutup dengan Jill—dengan Billy Kwan sebagai makcomblang—membuka hatinya bagi Guy Hamilton.
Episode kedua, “Patet Sanga: Air dari Rembulan”, tersusun dari bab 10-18, tempo lebih cepat. Ketegangan meningkat dalam banyak adegan: Guy Hamilton mendapati bahwa Billy Kwan memiliki arsip catatan tentang orang-orang di sekitar dia dan mengetahui bahwa Jill pernah berpose bugil di depan kamera Billy Kwan, relasi antara Hamilton dengan Billy mulai bermasalah, Hamilton bertemu Vera Chostiakov agen Soviet yang mencoba mengorek informasi terkait Angkatan Kelima, lalu ditutup dengan adegan di bar wayang ketika Billy Kwan bertengkar hebat dengan Wally yang mencemooh Sukarno. Setelah hampir berkelahi karena Billy balas mencemooh sisi homoseksual Wally, dia pergi. Klub Wayang kemudian menduga Billy membalas dendam dengan melaporkan Wally sebagai homo kepada BPI, Badan Pusat Intelijen yang dipimpin oleh Subandrio. BPI kemudian mengusir Wally dari Indonesia dengan menggunakan informasi tersebut. Klub Wayang menduga Wally sudah lama diincar dan dituduh reaksioner karena artikel-artikelnya kerap kritis. Setelah kepergian Wally, Klub Wayang bubar pada bulan Agustus.
Episode penutup, “Patet Manyura: Amuk”, tersusun dari bab 19-25, tempo meningkat lebih cepat, suasana kacau bagi semua karakter. Hubungan Hamilton dengan Jilly rusak gara-gara Billy Kwan mengatakan bahwa Hamilton tak akan menikahinya yang saat itu sedang hamil. Hubungan Hamilton dengan Billy sudah jelas rusak dari kedua belah pihak yang sama-sama kecewa. Kekecewaan Billy terhadap Sukarno memuncak karena kematian Udin kecil anak sang ibu yang selalu Billy bantu, kekecewaan yang kemudian membawanya pada kematian: dia menulis SUKARNO, BERI MAKAN RAKYATMU pada seprai yang dia maksudkan sebagai spanduk menyambut kedatangan Sukarno dalam perayaan Hari Nasional Bulgaria, 9 September, di Hotel Indonesia, kemudian jatuh dari lantai ketujuh.
Ironisnya, kematian Billy menyatukan kembali Jill dan Hamilton, meski kemudian muncullah klimaks: amuk Gestok. Dalam peristiwa itu Hamilton mengalami cedera mata kiri akibat hantaman gagang senapan tentara dan hampir-hampir tidak bisa bergabung dengan Jill. Penutup episode yang sekaligus menutup novel adalah adegan bahagia Jill dan Hamilton dalam pesawat yang sedang mendarat di Athena.
Novel ini memang berlatar ketika Indonesia adalah satu ruang sempit akibat gencarnya xenofobia. Dalam istilah narator cerita, yang sebagaimana Hamilton merupakan orang asing, “apa arti Konfrontasi bagi kami para Nekolim di Bar Wayang adalah hidup di bawah rezim yang kebenciannya pada semua orang Barat telah mencapai dimensi yang gila” (hal. 23). Simak juga petunjuk implisit, yang menunjukkan keprigelan penulis menggambarkan latar di awal novel, dimulai dengan kalimat narator “kami mencoba menjelaskan Indonesia dengan sebaik-baiknya kepada Hamilton”:
Hari itu hari yang sibuk, dan pekan yang sibuk, Indonesia sekali lagi menjadi berita utama tentang keadaan dunia, seperti yang sering terjadi pada era sebelum perang Vietnam menelan semuanya. Lima hari lalu, pada Malam Tahun Baru, tampil menantang secara formal dalam seragam militer dan peci hitamnya, Presiden Sukarno mengancam bahwa jika Federasi Malaysia diterima PBB maka Indonesia akan menarik diri. Pendengarnya dengan setia meneriakkan persetujuan; dan minggu ini dia telah menegaskan ancaman tersebut: PBB silakan “pergi ke neraka”; Indonesia menarik dirinya dari dunia.”
hal. 20-21
Dalam situasi semacam itu, Guy Hamilton si jurnalis asing mengalami kesulitan untuk melakukan wawancara: dia diusir oleh ajudan Menteri Luar Negeri Subandrio “dengan sikap dingin tidak peduli” (hal. 57). Dalam alur cerita, situasi seperti itu kemudian membuat Hamilton mengawali keakraban dan kerja samanya dengan Billy Kwan yang sebelumnya dia tolak. Kata Billy, “Sebagian besar pintu akan ditutup, pada pemerintah tingkat atas, untuk para pencari berita dari Barat” (hal. 65). Billy, dengan cara yang tidak Hamilton mengerti, bisa menghubungkannya dengan tokoh-tokoh besar lokal saat itu, tawaran pertamanya wawancara dengan D.N. Aidit, Ketua Partai Komunis Indonesia, sehingga menjadi “laporan terbaik sepanjang hidup Hamilton” (hal. 76).
Akan tetapi novel ini bersikap ambigu tentang Gestok. Di satu bagian kita bisa membaca narasi sebagai berikut:
Tapi Hamilton pasti telah tertidur pada jam sebelum subuh, ketika tiga laki-laki berpiyama, diikat dengan tali, digiring ke sebuah tempat terbuka di daerah berawa di dekat Halim yang dikenal sebagai Lubang Buaya, untuk mendapati mereka dikelilingi oleh hiruk-pikuk massa berseragam militer palsu, yang kebanyakan adalah perempuan dari Gerwani…mendengarkan lagu-lagu Pemuda Rakjat dan kebencian liar dalam jerit para perempuan.
[…] Lalu para perempuan itu, lebih ganas daripada laki-laki, berusaha mendesak lebih dekat, dalam kegirangan malam yang unik ini; mereka akan menyiksa jenderal-jenderal itu secara seksual, kemudian mengebiri mereka; mengeluarkan mata mereka dengan pisau silet.
hal. 451
Narasi ritual primitif sadistis yang menempatkan Gerwani sebagai kumpulan perempuan jalang semacam itu kita ketahui kini merupakan dusta bikinan yang merupakan bagian dari propaganda Wayang Kanan untuk memberikan kengerian sekaligus justifikasi tindakan kejam apa pun terhadap Wayang Kiri: Gerwani dan organ-organ PKI lainnya. Hal tersebut juga bisa kita lihat melalui mata Hamilton pada tulisan-tulisan kapital “pada pagar-pagar bambu dan dinding-dinding” (hal. 485):
GANJANG PKI
GANTUNG AIDIT
AIDIT SETAN
GERWANI TJABOL
Tulisan-tulisan tersebut merupakan kebalikan dari slogan-slogan yang Hamilton baca di spanduk-spanduk pada awal ketibaan dia di Jakarta (hal. 37):
GANJANG MALAYSIA
U.N. GO TO HELL
HANCURKAN INGGRIS DAN IMPERIALIS AS
HIDUP BUNG KARNO, BAPAK REVOLUSI
BOIKOT FILM-FILM AS
CRUSH MALAYSIA
Namun, pada bagian selanjutnya dalam novel, kita juga membaca narasi tentang Wayang Kiri, PKI yang menjadi korban:
Tidak ada hitungan yang jelas tentang jumlah korbannya, ketika pembantaian terus berlangsung; jumlahnya tak pernah pasti, di pulau Jawa; dan orang-orang yang membunuh akan mengatakan mereka tidak bisa menghitungnya. Tetapi menjelang akhir tahun, disebutkan bahwa setengah juta orang telah tewas, mungkin lebih. Siapa yang akan pernah tahu? Di lingkaran-lingkaran lentera di sawah pada malam hari, pisau-pisau tebu akan memotong dan menyayat pada sosok-sosok yang diikatkan ke pohon; lalu truk akan membawa muatan kepala-kepala manusia…
hal. 489
Dengan kata lain, novel ini tampaknya mencoba bersikap tak memihak, meski sayangnya takbisa dikatakan sukses. Novel ini seperti mencoba mengatakan bahwa PKI menjadi algojo kejam dalam Gestok, tetapi menjadi korban takkalah kejamnya pasca-Gestok. Akan tetapi yang basi dalam informasi yang ditawarkan adalah berdasarkan penelitian-penelitian lebih lanjut yang bisa kita akses kini—tetapi mungkin tidak bisa Koch akses pada saat dia menulis novel ini—dua peristiwa itu tidak sama-sama berstatus fakta. Sementara peristiwa kedua terbukti benar-benar terjadi, peristiwa pertama terbukti hanya dusta ciptaan propagandis Wayang Kanan pada masa itu.
Dalam pidato 6 November 1965, Bung Karno sudah membantah secara terang-terangan perihal peristiwa sadistis Gerwani itu dengan mempertanyakan
Masuk akalkah bahwa kemaluan orang laki-laki dipotong-potong dengan silet seratus! […] Tapi dimasukkan surat kabar! Engkau punya wartawan itu stommelingen [goblok]! Apa dikira kita ini orang bodoh! Nadanya ialah apa? Untuk membangun kebencian!
“Pidato PJM Presiden Soekarno pada Sidang Paripurna Kabinet Dwikora di Bogor, 6 November 1965”
Dua minggu kemudian Bung Karno menegaskan kepada para wartawan “janganlah surat kabar ini memasukkan fitnah-fitnah, memasukkan perkabaran-perkabaran yang tidak dicek”.6“Amanat PJM Presiden Soekarno di Hadapan Para Panglima dari Keempat Angkatan dari Seluruh Indonesia dan Para Wartawan Luar dan Dalam Negeri di Istana Bogor, 20 November 1965”, dalam Budi Setiyono & Bonnie Triyana (ed.), Revolusi Belum Selesai: Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaksara (Jakarta: Serambi, 2014), hal. 169.Akan tetapi kita tahu dusta tersebut kemudian dikekalkan dengan diulang-ulang pada masa Orde Baru dan juga “orang bodoh” pasca-Orde Baru yang masih mewarisi mental Orde tersebut. Kita juga tahu konsekuensi dusta itu fatal dan efeknya masih terasa sampai kini: genosida dan penghancuran gerakan perempuan.
3
Sebagaimana sudah disinggung sebelumnya, novel menggambarkan periode Guy Hamilton berada di Jakarta sebagai periode xenofobia. Membaca komentar awal Hamilton dengan Billy, kita tahu Xenofobia memiliki potensi irisan dengan rasialisme: “Mereka juga tidak terlalu suka dengan orang Cina di Indonesia, bukan?” (hal. 25). Artinya, novel menggambarkan “asing” bukan hanya merujuk pada kulit putih seperti Hamilton sebagai simbol “tuan-tuan kolonial” Nekolim, tetapi juga orang Cina.
Dalam bulan Agustus pada masa konfrontasi, narator juga mengisahkan bahwa
Mereka bersorak. Mereka memercayai setiap kata-katanya, dan telah mulai menjarahi toko-toko. Target utama mereka adalah para babah, pedagang Cina…
hal. 375
Dalam narasi itu tampak bahwa Sukarno diposisikan sebagai pihak yang menyuruh rakyat melakukan penjarahan semacam itu, satu hal yang diungkapkan secara lebih eksplisit dalam sepuluh halaman sebelumnya melalui kata-kata Billy Kwan:
“Mereka tidak memiliki beras, …dan Sukarno tidak akan memberi mereka beras. Sebaliknya, dia dan Subandrio menyuruh mereka untuk menjarah. Kalian telah mendengarkan pidato-pidatonya yang baru, nasihat yang baru kepada masyarakat. ‘Rampoklah para birokrat kapitalis!’”
hal. 364
Dengan penggambaran seperti itu, secara implisit kita didorong untuk mendapatkan gambaran sederhana bahwa Sukarno tidak mampu memperbaiki perekonomian rakyat lalu dengan menimpakan kesalahan pada kapitalis birokrat, dia menyuruh rakyat yang lapar melakukan penjarahan terhadap pedagang-pedagang Cina. Ironisnya, di akhir novel, kita juga menemukan narasi bahwa pasca-Gestok bukan hanya orang-orang PKI yang diburu dan dibantai, tetapi juga “para keturunan Cina Indonesia” (hal. 488).
Sukarno memang membawa Indonesia keluar dari PBB, menolak bantuan Barat, menggolakkan konfrontasi dengan Malaysia. Akan tetapi penolakan dia bertolak dari sikap pihak-pihak tersebut terkait kedaulatan Indonesia, hal yang juga tergambar dari kata-kata karakter Sukarno dalam novel saat mengomentari Hamilton dalam pertemuan mereka:
Dia [Sukarno] menggosok hidungnya. “Orang Australia,” katanya datar. Suaranya sedikit serak, bahasa Inggrisnya sangat baik. “Kami dulu senang menerima kalian di sini. Sekarang pemerintahan Anda telah menunjukkan diri sebagai kaki tangan imperialisme Inggris. Pasukan Anda melawan pasukan kami di Malaysia.”
hal. 51
Dengan kata lain, Sukarno tidak mengajarkan xenofobia dan lebih-lebih rasialisme. Rasialisme mungkin dipantik oleh nasionalisme, seperti kita temukan pada karakter Kumar. Akan tetapi sebagaimana Kumar kita juga bisa menjadi sadar bahwa nasionalisme semacam itu adalah nasionalisme sempit katak dalam tempurung, suatu nasionalisme yang melakukan generalisasi sehingga jika menganutnya maka kita akan abai adegan-adegan kecil: si Nekolim kulit putih Guy Hamilton menolak sepakat ketika kawan-kawannya “membeli” seorang kerdil untuk dihadiahkan sebagai guyonan bagi dirinya yang memiliki asisten kurcaci Billy Kwan (hal. 160-162), si kulit putih itu juga tidak segan-segan menawarkan meminjamkan uang untuk membantu paman Kumar yang berdagang batik tetapi tidak bisa maju dan bahkan terancam bangkrut karena “setiap pekan dia harus membayar uang untuk militer” (hal. 284).
Kumar, asisten Hamilton yang sejak awal sudah Hamilton curigai sebagai PKI karena surat kaleng yang memberitahunya soal itu (hal. 69), di kemudian hari membocorkan info kepada Hamilton bahwa sebaiknya dia segera pulang ke Australia jika Presiden Sukarno meninggal dunia karena “Anda ada pada daftar kematian kami.” (hal. 446). Kita boleh mempertanyakan soal “daftar kematian” ini karena secara implisit mengakui hal tersebut akan menggiring kita pada konklusi terkait PKI sebagai dalang Gestok, tetapi poin penting dari lakuan Kumar tersebut adalah kesadaran dia yang beranjak dari Nasionalisme sempit: pengamatannya atas sikap-sikap Hamilton membuat dia keluar dari tempurung.
Di kemudian hari setelah peristiwa Gestok, Kumar masih sempat mengunjungi Hamilton untuk pamit, dia “akan pergi ke Yogyakarta” dan tetap “akan mengikuti Kamerad Aidit” meski Hamilton sudah memberitahu dia bahwa mengikuti Aidit akan berujung kematian. Enam halaman adegan Kumar si komunis pamit pada Guy Hamilton “si nekolim” mantan bosnya yang terbaring dengan mata dibebat itu, bagi saya, adalah salah satu adegan terbaik dalam novel. Kata-kata penutup dari Kumar terasa menggetarkan:
“[…] Ingatlah aku ketika pada suatu hari Anda duduk di sebuah kafe yang bagus di Eropa.” Suaranya menjadi lembut Kembali. “Dalam mimpiku, aku selalu duduk di sebuah meja dekat trotoar, minum kopi, dengan bunga-bunga tumbuh di pot…”
hal. 484
Nasionalisme sempit yang dianut Kumar-awal juga pasca-Gestok dianut oleh orang-orang yang membantai Kumar-akhir dan sekian Kumar lain yang bermimpi “minum kopi” sambil memandang “bunga-bunga tumbuh di pot” adalah nasionalisme yang sejak awal Sukarno cela. Nasionalisme yang pada tahun 1926 dia ejek sebagai “semata-mata timbul dari kesombongan bangsa belaka”, “semata-mata suatu kopie atau tiruan dari nasionalisme Barat”7Ir. Sukarno, “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme”, dalam Di Bawah Bendera Revolusi (Yogyakarta: Media Pressindo dan Yayasan Bung Karno, 2019), hal. 6.. Dua puluh tahun kemudian, dalam pidato legendaris “Lahirnya Pancasila”, dia memperkuat pandangan tersebut, bahwa relasi ke luar dan relasi ke dalam bersifat setimbang:
Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman sarinya internasionalisme.
“Lahirnya Pancasila”
Nasionalisme sempit berbahaya karena memungkinkan berbagai kepentingan bermain sebagai motif. Alih-alih simplifikasi sebagaimana digambarkan dalam novel yang mengerucutkan semua tanggung jawab ke pihak Sukarno, komentar Hamilton terkait orang Cina tidak terlalu disukai di Indonesia, peristiwa penjarahan toko para pedagang Cina, ataupun pemburuan dan pembantaian keturunan Cina pasca-Gestok bisa dipandang sebagai akibat dari motif tersembunyi: persaingan pribumi dan Cina dalam perekonomian.
Pada dekade 1950-an, persaingan tersebut bahkan dibawa ke ranah politik formal sebagai pertentangan antara muslim fanatik dengan Cina melalui corong Masyumi, melalui Mr. Assaat. Isu-isu Cina kafir pemakan babi sebagai kontras pun digaungkan. Pada akhirnya hak ekonomi etnis Cina dibatasi: tahun 1956 penguasa perang Jawa Barat mengeluarkan peraturan melarang orang Cina berdagang di desa-desa, tahun 1959 peraturan tersebut ditegaskan sebagai Peraturan Pemerintah.8Nurani Soyomukti, Soekarno & Cina (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2012), hal. 274-275.
Pada masa itu Subandrio—yang dalam novel disebut bersama Sukarno sebagai pengomando penjarahan setelah satu dekade ke depan—merupakan Menlu. Dia dan Sukarno sedikit banyak pasti ikut bertanggung jawab terkait peraturan semacam itu, tetapi menempatkan keduanya sebagai satu-satunya yang bertanggung jawab jelas berlebihan. Selain itu, pada era setelahnya, era Demokrasi Terpimpin, Sukarno melakukan upaya-upaya perbaikan sebagaimana juga pihak Masyumi sudah dibubarkan akibat terlibat pemberontakan PRRI-Permesta.
Yang juga harus diperhatikan, pihak Cina di Indonesia pada masa Demokrasi Terpimpin terbagi dua pihak, yang satu menginduk pada Baperki sehingga dekat dengan komunis, yang satu menginduk pada LPKB dan dekat dengan kelompok anti-komunis dan Angkatan Darat.9Nurani Soyomukti, Soekarno & Cina (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2012), hal. 277.Jika mempertimbangkan panasnya pertentangan ekonomi yang ditarik ke arah isu agama di satu sisi dan pertentangan kubu Wayang Kiri dan Wayang Kanan di sisi lain, bukan hal sukar untuk menduga bahwa pertentangan pertama yang menghasilkan adegan penjarahan dalam novel sangat mungkin merupakan permainan Wayang Kanan dengan mengorbankan pihak pedagang Cina tertentu untuk menghasilkan kerusuhan yang membuat citra kegagalan pemerintah saat itu semakin parah.
Generalisasi adjektiva terkait SARA terhadap pihak tertentu kerap menjadi biang tragedi. Kita tahu bahwa generalisasi yang dikombinasikan stigmatisasi berupa penyematan sebab yang keliru terhadap satu akibat adalah senjata propagandis yang memakzulkan Sukarno, Wayang Kanan yang lantas mendirikan Orde Baru: rezim yang fondasi berlumur darah genosida dan keruntuhannya ditandai oleh tragedi rasialisme takkalah mengerikannya pada tahun ’98. Yang harus kita sadari, sampai dua dekade lebih pasca-reformasi sebagian dari kita tampaknya belum banyak belajar atau terlalu terbiasa selama 32 tahun melakukan hal tersebut di bawah bimbingan Wayang Kanan sehingga propaganda SARA dalam politik kita seperti dalam Pilgub Jakarta 2012 dan 2017 dianggap biasa.
4
The Year of Living Dangerously menyajikan banyak potret parahnya kondisi ekonomi sepanjang cerita. Sejak awal, sudah dimunculkan kontras antara Hotel Indonesia “yang berlantai empat belas seperti sebuah kapal mewah di tengah-tengah laut” (hal. 33) dengan “permukiman padat Jakarta yang disebut kampung” (hal. 41) tempat orang-orang tinggal dalam pondok yang kamar-kamarnya sangat kecil “sehingga sepertinya tak lebih besar daripada kotak-kotak, dan orang tidak dapat berdiri di dalamnya” (hal. 42).
Situasi semacam itu konstan sepanjang cerita, meski pengaruhnya memburuk bagi Billy Kwan. Billy, yang dideskripsikan dalam pembuka novel sebagai “manusia kerdil” yang berasal dari Australia tetapi “berdarah setengah Cina” dan kemudian digelari oleh para jurnalis asing pengunjung Bar Wayang sebagai “kurcaci Hamilton” sebagaimana disebutkan dalam tajuk Episode I, pada bagian awal merupakan pengagum Bung Karno karena menurut dia Sukarno “telah menciptakan negeri ini.” (hal. 29)
Namun kita juga mungkin bisa menebak alasan lain kekaguman itu adalah persoalan identitas. Billy, sebagaimana Sukarno, adalah Gemini, zodiak bersimbol si kembar, dualitas. Dalam satu momen dia berkata kepada Hamilton:
“aku Gemini—tanda yang sama seperti Sukarno. Aku dan dia memiliki dua wajah—yang kasar dan yang halus.”
hal. 145
Dengan kata lain, Billy melakukan identifikasi antara dirinya dengan Sukarno, satu hal yang bisa menjelaskan mengapa dia membantu ekonomi seorang perempuan yang tinggal di perkampungan kumuh dan dia sebut sebagai “Ibu”. Tampaknya dengan melakukan itu, dia mengidentifikasi dirinya dengan sisi Sukarno yang dia puja, sosok Bung Karno yang
pergi ke Pasar Baru pada malam hari, menyamar dalam pakaian preman, untuk “mencebur ke dalam keramaian”, bersentuhan dengan massa yang menggugah perasaannya.
hal. 228
Kisah itu sering dia ceritakan kepada Hamilton, sosok yang tampaknya Billy kagumi karena alasan yang sama: identitas yang menampung kegandaan, sosok yang dalam istilah Billy sendiri “Hibrida”. Hamilton memang mirip Billy dalam hal dia lahir di Inggris tetapi menghabiskan sebagian besar hidupnya di Australia (hal. 93). Relasi antara Billy Kwan dan Guy Hamilton sebenarnya sangat menarik jika ditilik lebih mendalam secara khusus dalam diskursus pascakolonial karena melibatkan persoalan identitas hibrida, persona-persona yang “tidak diakui” oleh negeri asal lantas “menciptakan” tanah air sendiri, tetapi tetap menyimpan kerinduan terhadap negeri asal yang alih-alih hadir sesuai realita justru hadir sebagai bayang statis dalam imajinasi.
Billy sendiri rutin keluyuran malam hari ke Pasar Baru mencari sosok Bung Karno dalam fantasinya, tanpa hasil, sampai pada 30 Juni ia semakin ragu dan menulis “saya bertanya-tanya apakah Anda akan pernah datang lagi.” Keraguan itu mencapai puncaknya pada 29 Agustus, hari ketika Udin kecil putra si “Ibu” meninggal dan Billy menumpahkan penyebabnya pada Sukarno sebagaimana dia tulis: “Udin meninggal karena keluhan sederhana, yang tidak semestinya mematikan anak-anak di kota ini, sekiranya bukan karena kebodohanmu: diare” (hal. 405).
Komunikan imajiner “-mu” di sana merujuk pada Sukarno, tokoh yang dalam pandangan Billy saat itu lebih memilih “membangun monumennya yang sia-sia, bukannya saluran air kotor untuk menyelamatkan kota dari penyakit!” (hal. 405). Kita boleh menduga bahwa sesuai pemahaman Billy tentang Sukarno sebagai Gemini yang memiliki wajah “yang kasar dan yang halus”, pada dasarnya Billy tidak akan mempermasalahkan perihal “membangun monumen” sebagai wajah kasar seandainya Bung Karno tetap rutin “mencebur ke dalam keramaian”: wajah halus. Seandainya itu terjadi, kita tidak akan menemukan Billy yang frekuensi kegeramannya terus naik dan memuncak pada tindakan ekstrem berujung kematian dia pada tanggal 22 September.
Lagi pula suara Billy terkait “membangun monumen” bisa jadi titipan suara narator. Pada awal bab 19 kita disuguhi narasi tentang parahnya situasi ekonomi pada bulan Agustus yang kemudian dikontraskan dengan tindakan Bung Karno yang “tetap membuat pengeluaran tanpa berhemat: untuk monumen-monumen, persenjataan, dan mainan-mainannya.” (hal. 374)
Kisah Billy Kwan adalah kisah tragis sosok yang hidup memikul fantasi romantis di hadapan realitas yang blangsak. Tragis karena dua karakter yang dia puja ternyata bukan sosok sempurna, sosok yang dalam pandangannya gagal menjadi ideal justru karena mereka adalah manusia: Bung Karno sang pemimpin yang blusukan malam-malam mengunjungi rakyatnya seperti Khalifah Umar bin Khattab berakhir sebagai presiden yang gandrung membangun monumen tanpa peduli rakyatnya kelaparan, Guy Hamilton yang bermoral tinggi dan menjadikan Jill satu-satunya pasangan berakhir menyerah pada ajakan Curtis untuk pergi ke pelacuran di pekuburan dan juga melayani ajakan Vera Chostiakov untuk bertemu.
Dalam dua hal itu, kita tahu bahwa Billy Kwan luput atau memang enggan melihat versi lain yang kita ketahui sebagai pembaca. Guy memang pergi menemani Curtis ke pekuburan, tetapi dia tidak melakukan tindakan seksual apa pun di sana. Dia juga memang bertemu dengan Vera tetapi juga tidak terjadi tindakan seksual apa pun antara mereka berdua. Selain itu, motif tingkah Guy yang menjadi “kacau” semacam itu juga perlu dikaitkan dengan momen dia mengetahui Jill pernah berpose telanjang untuk kamera Billy Kwan.
Kebijakan-kebijakan ekonomi Bung Karno mungkin memang meleset sehingga menciptakan potret malaise yang membuat Billy Kwan beralih dari seorang pemuja menjadi pencela. Akan tetapi simplifikasi situasi tersebut dengan menjadikannya oposisi biner kehidupan Bung Karno sekaligus menempatkan dia sebagai penanggung jawab tunggal situasi tersebut sebagaimana lazim dilakukan oleh para pegandrung desukarnoisasi tentu tidak berguna dan banal.
Selain kita mesti sepakat bahwa terlalu ajaib membayangkan Bung Karno secara terstruktur dan sistematis melakukan upaya menyengsarakan rakyat, ada banyak variabel yang mesti diperhitungkan dengan cermat sebagai penyebab kondisi ekonomi pada saat tersebut: korupsi pihak-pihak yang berada di antara Bung Karno dan rakyat, dilema kebijakan sanering yang tak berimbang dengan dana talangan.
Ada banyak catatan yang bisa kita akses kini tentang sejauh apa Bung Karno menyodorkan teori dan praktik bidang ekonomi pada masa yang dicakup oleh latar novel ini. Andai Bung Karno mau “menjual” negara ini kepada lintahdarat-lintahdarat internasional, malaise zaman dia pasti bisa teratasi dan Orde Baru akan kehilangan berbagai tuduhan terhadap Bung Karno yang menjadi fondasi pendiriannya.
Namun kita tahu Bung Karno kokoh berpegang pada prinsipnya sejak muda bahwa dia tidak ingin membuat Indonesia menjadi een natie van koelies, een koelie onder de naties, negara kaum kuli, negara kuli bagi bangsa-bangsa lain. Kita juga tahu bahwa yang kemudian tergoda membuat Indonesia semacam itu justru pengganti dia dan sebagian dari kita baru percaya setelah menonton keruntuhan rezim tersebut pada tahun 1998, sementara sebagian kita yang lain, dengan beragam motif, masih enggan percaya bahkan sampai saat ini. Salam.
Ciamis, Oktober 2022







