Rubaiyat Jalaluddin Rumi ditulis pada masa ketika puisi merupakan sarana didaktis. Bagaimana sikap kita menghadapi puisi-puisi semacam itu kini pada masa ketika puisi bukan lagi sesuatu yang "agung"?
Rubaiyat Jalaluddin Rumi ditulis pada masa ketika puisi merupakan sarana didaktis. Bagaimana sikap kita menghadapi puisi-puisi semacam itu kini pada masa ketika puisi bukan lagi sesuatu yang "agung"?