Eduardo Galeano
Aku awali dengan sebuah pengakuan. Sejauh yang bisa aku ingat, aku ingin menjadi pemain sepak bola. Aku jago, yang terbaik dari yang terbaik, nomor satu, tetapi hanya dalam mimpi-mimpiku. Pernah aku terjaga dan melakukan beberapa langkah, aku menendang beberapa kerikil dan mendapati bahwa aku tidak diciptakan untuk sepak bola. Jelas bahwa aku akan harus mencari profesi lain. Setelah mencoba-coba dengan hasil beberapa ketidaksuksesan, aku mulai menulis, untuk melihat siapa tahu akan menghasilkan sesuatu.
Aku mencoba, aku terus mencoba, untuk belajar bagaimana cara terbang dalam gelap seperti seekor kelelawar dalam masa-masa yang muram ini.
Aku mencoba, aku terus mencoba, untuk menerima bahwa aku tidak bisa menjadi netral atau objektif, karena aku menolak mengubah diriku sendiri menjadi sebuah objek, acuh terhadap gairah manusia.
Aku mencoba, aku terus mencoba, untuk menulis tentang kaum wanita dan pria yang memiliki satu kehendak akan keadilan dan satu dorongan akan keindahan, tidak terikat oleh batas-batas peta dan masa, karena mereka adalah orang-orang senegaraku dan para sezamanku, tak peduli di mana mereka dilahirkan atau kapan mereka hidup.
Aku mencoba, aku terus mencoba, untuk menjadi cukup keras kepala untuk tak henti percaya, terlepas dari segala bukti yang ada, bahwa kita manusia mungkin diciptakan dengan buruk tetapi kita belum selesai. Dan aku tak henti percaya bahwa pelangi manusia memiliki lebih banyak warna dan kilau daripada pelangi di langit, tetapi bahwa kita buta, atau lebih tepatnya dibutakan oleh tradisi yang telah memuntungkan kita.
Ringkasnya, aku ingin mengatakan bahwa aku menulis karena berharap untuk membuat kita semua menjadi lebih kuat daripada rasa takut kita akan kegagalan atau akan hukuman ketika tiba saatnya memutuskan berpihak pada siapa dalam pertempuran kekal antara kemarahan versus penghinaan.
Sumber: Eduardo Galeano, “Why I Write/3”, dalam Hunter of Stories (terj. Mark Fried). New York: Nation Books, 2017.







