Kosmos Perempuan Modern Aryanti: Dari Soal Pasangan dan Pelakor Sampai Hak untuk Tak Punya Anak

ARYANTI bukan nama yang kerap disebut dan karya-karyanya juga belum banyak dibahas secara mendalam. Hanya sesekali kita temukan namanya disinggung terutama dalam pembahasan Majalah Femina atau novel populer tahun ’80-an. Aryanti memang termasuk penulis perempuan yang bisa disebut Generasi Femina, yakni generasi penulis perempuan yang karya-karya awalnya dipublikasikan di Majalah Femina atau diterbitkan sebagai bagian dari Seri Femina.

Salah satu karya awal Aryanti, Selembut Bunga, merupakan Pemenang Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Novel Femina 1977. Sebelumnya, pada tahun yang sama, Majalah Femina juga memuat karyanya yang lain, Dunia Tak Berhenti Berputar sebagai cerita bersambung yang setahun sebelumnya meraih Hadiah Harapan dalam sayembara yang sama. Empat dari 6 karya asli Aryanti yang diterbitkan sebagai buku, 3 novel dan 1 antologi cerpen, diterbitkan oleh Gaya Favorit Press sebagai bagian dari Seri Femina. Selain itu, cerpen-cerpen dan noveletnya juga mayoritas dipublikasikan di Majalah Femina.

Aryanti adalah nama samaran Prof. Dr. Haryati Soebadio (1926-2007), dicantumkan dalam publikasi karya-karyanya selain novel keempat, Getaran-Getaran (1990, menggunakan nama Haryati Soebadio) dan 6 judul adaptasi cerita anak (1977-1979, menggunakan nama Amirati). Selain prosa, Prof. Dr. Haryati Soebadio juga menulis nonfiksi sesuai keahliannya di bidang Bahasa Sanskerta dan Sastra Jawa Kuno serta posisinya sebagai pemikir perempuan yang sekaligus memiliki kedekatan nasab dengan Kartini karena beliau merupakan cucu Djojoadiningrat, suami Kartini. Di antara karya nonfiksinya yang terlacak adalah Tatabahasa Sanskerta Ringkas (1964), Jñānasiddhânta (1985, disertasi di Gemeentelijke Universiteit Amsterdam [1971]), Kartini: Pribadi Mandiri (1990, ditulis bersama Prof. Dr. Saparinah Sadli), dan Kajian Astabrata: Pendahuluan dan Teks (1997, ditulis bersama Prof. Dr. Edi Sedyawati, Dra. Ninie Soesanti, M.Hum., dan Dra. Renggo Astuti).

Di samping merupakan penulis, Prof. Dr. Haryati Soebadio pernah memegang beberapa jabatan penting. Tahun 1975-1978 beliau menjabat Dekan Fakultas Sastra UI, lalu menjadi Direktur Jenderal Kebudayaan selama dua periode dari tahun 1978-1988. Setelah itu, beliau menjadi Menteri Sosial periode 1988-1993 dan dilanjutkan menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung periode 1993-1996.    

Pembahasan paling awal tentang Aryanti dan karyanya, selain pernyataan HB Jassin tentang novel Selembut Bunga saat beliau menjadi Ketua Juri Sayembara Mengarang Novel Femina 1977, adalah ulasan Sapardi Djoko Damono untuk novel yang sama di Majalah Tempo edisi 12 Juli 1980 berjudul “Cynthia dan Krisisnya“. Sapardi menyoroti salah satunya keunikan gaya penceritaan novel tersebut yang “menampilkan rasa ingin tahu wanita, watak yang hampir sepenuhnya berfungsi sebagai tokoh, yang menjadi sumber dan sekaligus pengikat latar, peristiwa, dan tokoh-tokoh lain”.

Novel Selembut Bunga juga ditilik oleh Jakob Sumardjo dalam Novel Populer Indonesia (1982), dia simpulkan sebagai pencapaian setara dengan N.H. Dini “dalam novel-novel problim keluarganya” (1982: 98). Novel yang sama termasuk novel yang dibahas dalam penelitian Anita K. Rustapa dkk, Tokoh Wanita dalam Novel Indonesia Tahun 1920-1980-an (1992) dan, bersama dengan novel Getaran-getaran, dibahas dalam penelitian Ahyar Anwar, Geneologi Feminis: Dinamika Pemikiran Feminis dalam Novel Pengarang Perempuan Indonesia 1933-2005 (2009). Kedua novel tersebut diulas dalam Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern (2007) susunan Maman S. Mahayana, Oyon Sofyan, dan Achmad Dian.

Dalam Majalah Horison edisi September 1988, Ray Rizal menulis dua halaman ulasan antologi cerpen Aryanti, Kaca Rias Antik. Cerpen Aryanti, “Isyarat”, yang dipublikasikan di Majalah Horison edisi November 1980, ditampilkan dan ditilik oleh Korrie Layun Rampan dalam buku Apresiasi Cerita Pendek 1: Cerpenis Wanita (1991). Majalah Horison juga menampilkan Aryanti dan karyanya dalam Kakilangit edisi Desember 2002, memuat dan mengulas cerpen “Tabrak Lari” serta pembahasan proses kreatif dan riwayat hidup Aryanti oleh Puji Santosa. Tulisan yang sama dipublikasikan dalam buku Apresiasi Sastra disertai Ulasan Karya, Proses Kreatif, dan Riwayat Sastrawan (2014).

Penelitian lain yang penting adalah disertasi Apsanti Djokosujatno, “Cerita Fantastik dan Bentuk-Bentuk Antaranya: Telaah Bandingan Tiga Cerita Pendek Perancis dengan Tiga Cerita Pendek Indonesia” (1990). Cerpen Aryanti, “Danau Siluman” (1982) termasuk salah satu cerpen yang dibahas. Penelitian tersebut tampak sejalur dengan tesis Murywantobroto, “Das Unheimliche dalam Kaca Rias Antik Karya Aryanti” (2002), yakni fokus pada karya Aryanti sebagai cerita fantastik. Tesis Murywantobroto yang membahas 5 cerpen Aryanti tersebut kemudian dipublikasikan ulang untuk kalangan sendiri dengan judul Mengenal Psikoanalisis Sigmund Freud: Das Unheimliche (2007). Analisis lebih anyar menggunakan teori Pascakolonial dengan korpus data 4 novel Aryanti ditulis oleh Made Jiwa Atmaja sebagai artikel jurnal “Protagonis Perempuan Empat Novel Aryanti dalam Pembacaan Subaltern Poskolonialisme” (2017).

Beberapa tulisan yang menyinggung sekilas Aryanti dan karyanya adalah esai Sapardi Djoko Damono, “Perempuan, Sastra, Femina” (1999) dan penelitian Agus Sri Danardana, dkk, Peran Majalah Hiburan Tahun 1970-1980 dalam Perkembangan Kesusasteraan Indonesia Modern (2004). Nama Aryanti juga termasuk salah satu pengarang yang dicantumkan dalam Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern (2003) susunan Pusat Bahasa dan Profil Perempuan Pengarang & Penulis Indonesia (2012) susunan Kurniawan Junaedhie. Terbaru, kiprah Aryanti sebagai penulis disajikan oleh Bandung Mawardi dalam “Pencerita dan Biru” (2019), dipublikasikan daring di Basabasi.co.

Mencoba melacak berbagai informasi tentang Aryanti dan karyanya, tampak bahwa selain fakta sangat tak memadainya pengarsipan kita, sebatas informasi terkait pengarang pun kerap kali disodorkan dengan kurang cermat. Buku Melacak Jejak Direktur Jenderal Kebudayaan: Setengah Abad Direktorat Jenderal Kebudayaan 1966-2016 (2016), misalnya, meski menyodorkan informasi paling lengkap terkait peran Prof. Dr. Haryati Soebadio sebagai Dirjen Kebudayaan, tetapi menyodorkan 30 April 1999 sebagai tahun meninggalnya Prof. Dr. Haryati Soebadio sekaligus menyebutkan usianya 80 tahun saat meninggal. Tahun tersebut kontradiktif dengan informasi tentang usia Prof. Dr. Haryati Soebadio yang disebutkan 80 tahun saat meninggal, angka yang justru lebih sesuai dengan pernyataan Bandung Mawardi bahwa beliau meninggal pada 30 April 2007.

Jika menimbang bahwa riwayat hidup yang dimuat dalam Kakilangit Majalah Horison (2002) dan Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern (2003) tidak mencantumkan informasi sudah meninggalnya Prof. Dr. Haryati Soebadio saat kedua teks tersebut disusun, maka tahun yang disebutkan oleh Bandung Mawardi lebih meyakinkan. Rujukan silang pada profil susunan Kurniawan Junaedhie (2012) sama sekali tidak membantu karena dalam buku tersebut informasi yang disajikan persis konten lema “Aryanti” dalam Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern tanpa ada pembaruan informasi berupa tahun meninggalnya Prof. Dr. Haryati Soebadio.

Dan berikut ini bukti yang lebih pasti: pada nisan yang menandai makam Prof. Dr. Haryati Soebadio di TMPNU Kalibata tertulis bahwa beliau lahir pada 24 Juni 1926 dan meninggal pada 30 April 2007. Dengan demikian, meski benar terkait tahun meninggal Prof. Dr. Haryati Soebadio, Bandung Mawardi juga silap menulis tanggal lahir beliau sebagai 24 Juni 1928.

Ketidakcermatan senada juga terjadi dalam pembahasan karya. Penelitian Ahyar Anwar yang sekilas tampak menjanjikan, Geneologi Feminis: Dinamika Pemikiran Feminis dalam Novel Pengarang Perempuan Indonesia 1933-2005 (2009), mencantumkan tahun 1970 sebagai tahun terbit novel Getaran-getaran, lebih dahulu daripada novel Selembut Bunga. Pencantuman tersebut jelas bukan sekadar salah tulis karena dalam analisis novel tersebut Ahyar Anwar selalu menekankan penanda penerbitan “pada era tahun 1970-an” (hal. 163), “yang diterbitkan pada tahun 1970” (hal. 178), dan “pada awal dekade tahun 1970-an” (hal. 183).

Penekanan tahun penerbitan bisa dimengerti karena analisis Ahyar Anwar merupakan analisis sosiologis yang disusun secara kronologis. Selain menempatkan Getaran-getaran sebagai “kakak” Selembut Bunga sama kelirunya dengan jika kita mengatakan Soeharto lebih dulu menjadi presiden kita dibanding Sukarno, lebih fatal lagi kekeliruan melakukan analisis sosiologis representasi perempuan tahun 1970 pada fiksi yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1990 sementara konten fiksi dimaksud sama sekali tidak memberikan penanda tahun yang membenarkan anakronisme tersebut.

Di luar contoh-contoh kekeliruan tersebut, semua tulisan yang disinggung di atas tidak memberikan informasi terkait karya lengkap Aryanti sebagai penulis prosa. Kurniawan Junaedhie hanya mencantumkan karya-karya Aryanti/Amirati/Prof. Dr. Haryati Soebadio yang sudah diterbitkan sebagai buku, yaitu 4 novel, 2 antologi cerpen, dan 6 buku anak-anak. Bibliografi Sastra Indonesia (2001) susunan Pamusuk Eneste hanya mencantumkan novel Selembut Bunga dan Getaran-Getaran, dua karya yang juga dicantumkan dan diulas dalam Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern (2007) susunan Maman S. Mahayana, Oyon Sofyan, dan Achmad Dian.

Memang, jika sekadar mencantumkan informasi sangat mendasar biografi pengarang saja tulisan-tulisan tersebut tidak melakukannya dengan cermat, lebih tidak mungkin kita membayangkan tulisan-tulisan yang sama memuat daftar karya lengkap Aryanti termasuk yang dipublikasikan di media dan belum dibukukan. Arsip Majalah Femina yang memuat sebagian besar karya Aryanti di perpustakaan para kritikus kita jelas tidak sebaik arsip Majalah Horison, fakta yang salah satu sebabnya mungkin bisa ditelusuri pada dominannya anggapan dikotomi kedua majalah tersebut sebagai Majalah Hiburan dan Majalah Sastra.

Dalam buku Sejarah Sastra Indonesia Berperspektif Gender (2012), disebutkan bahwa Aryati1Sejauh penelusuran penulis, nama samaran Prof. Dr. Haryati Soebadio adalah Aryanti dan bukan Aryati. Wikipedia sebagai rujukan daring populer menyodorkan Aryanti sebagai nama samaran beliau pada lema “Haryati Soebadio“, tetapi tanpa alasan menyodorkan Aryati pada lema “Haryati Subadio“. Pada novelet Femina berjudul Tanggung Jawab, yang berdasarkan tema dan gaya penceritaan besar kemungkinan merupakan karangan Prof. Dr. Haryati Soebadio, tercantum nama Aryati, tetapi penulis menduga pencantuman tersebut terjadi karena salah eja sebagaimana beberapa kali terjadi pada bonus buklet Femina. [sic] termasuk kategori “pengarang yang kurang produktif” (Suryaman, 2012: 19). Oleh sebab itu, sebelum tilikan ringkas karya-karya Aryanti yang teksnya bisa penulis akses, penting disajikan terlebih dahulu daftar karya Aryanti selain untuk memudahkan peneliti-peneliti selanjutnya sekaligus juga untuk menunjukkan bahwa ketidakproduktifan Aryanti adalah anggapan yang sangat keliru.

  No.  JudulCatatan Publikasi
1“Si Belang”Femina No. 26 (1974)
2“Ceramah untuk Wanita Asing”Femina No. 37 (Juli 1974)
3EpisodeFemina No. 96-99 (1976-1977)
4Dunia Tak Berhenti BerputarFemina No. 104-108 (1977), Gaya Favorit Press (1982)
5Gadis Bulan (Kisah Seputar Buana # 1)Gaya Favorit Press (1977)
6Baginda Bangau (Kisah Seputar Buana # 2)Gaya Favorit Press (1977)
7Selembut BungaFemina No. 122-124 (1977-1978), Gaya Favorit Press (1978)
8“Kenang-kenangan”Femina No. 141 (1978), Kaca Rias Antik (1987)
9Mencari Orang yang Lebih Bodoh (Kisah Seputar Buana # 5)Gaya Favorit Press (1978)
10Pria Bertudung (Kisah Seputar Buana # 6)Gaya Favorit Press (1978)
11Macan Tutul dalam Lubang (Kisah Seputar Buana # 7)Gaya Favorit Press (1978)
12“Berita di Surat Kabar”Femina No. 166 (1979), Kaca Rias Antik (1987)
13“Si ‘Selop Wanita’”Femina No. 155 (1979), Kaca Rias Antik (1987)
14Ahli Nujum Karena Nasib (Kisah Seputar Buana # 20)Gaya Favorit Press (1979)
15“Isyarat”Horison No. 11 (1980), Apresiasi Cerita Pendek 1: Cerpenis Wanita (1991)
16“Tabrak Lari”Femina No. 194 (1980), Kaca Rias Antik (1987), Kakilangit No. 72 Majalah Horison Desember (2002)
17“Bayangan dari Masa Lampau”Femina No. 25 (1981), Kaca Rias Antik (1987)
18“Irama”Femina No. 14 (1981), Kaca Rias Antik (1987)
19Hidup Perlu AkarGaya Favorit Press (1981)
20“Danau Siluman”Femina No. 32 (1982)
21“Lonceng Miniatur”Femina (Mei 1983)
22WisataBuklet Novelet Femina, tahun belum terlacak tetapi kemungkinan 1983
23Tanggung Jawab2Nama pengarang yang tercantum adalah “Aryati”, bukan “Aryanti”, tetapi berdasarkan tema dan gaya teks Tanggung Jawab, besar kemungkinan ada kekeliruan penulisan nama dan yang dimaksud adalah “Aryanti”.Buklet Novelet Femina No. 1 (8 Januari 1985)
24“Lagu Menurut Lakon”Femina (Maret 1985)
25Kemelut di Masa SenjaBuklet Novelet Femina No. 43 (5 November 1985)
 Kaca Rias Antik, memuat 15 cerpenGaya Favorit Press (1987)
26“Kaca Rias Antik”Kaca Rias Antik (1987)
27“Balas Dendam”Album Cerpen Femina Volume 2 (Juli 1977), Kaca Rias Antik (1987), Dua Cerita Pendek (1988)
28“Belasungkawa”Kaca Rias Antik (1987)
29“Jemputan Khusus”Kaca Rias Antik (1987)
30“Kisah dalam Tiga Dimensi”Kaca Rias Antik (1987)
31“Di Tepi Sungai, Di Pinggir Hutan”Kaca Rias Antik (1987)
32“Diorama”Kaca Rias Antik (1987), Dunia Perempuan: Antologi Cerita Pendek Wanita Cerpenis Indonesia (2002)
33“Lukisan Dewa Bersemadi”Kaca Rias Antik (1987)
34“Karunia Tuhan”Kaca Rias Antik (1987)
 Dua Cerita Pendek (Zwei Kurzgeschichten), memuat 2 cerpenGoethe Institut (1988)
35“Bagai Beringin Rindang”Dua Cerita Pendek (1988)
36HotelBuklet Novelet Femina No. 26 (7 Juli 1988)
37Getaran-GetaranDjambatan (1990)
38“Abangku Sayang”Femina (Januari 1992)
39“Patung Kalimantan”Femina (Maret 1992)
40“Misteri Biara”Femina (September 1993)
41“Penjaga Halus di Gedung Lama”Femina (November 1993)
42“Surat Tak Terkirim”Femina (November 1993)
43“Kematian Tetangga”Femina (November 1993)
Tabel Daftar Karya Aryanti

Daftar yang diurutkan secara kronologis publikasi ini disusun merujuk 3 sumber yang penulis anggap paling lengkap dan saling melengkapi: Bibliografi Karya Sastra Indonesia dalam Majalah: Drama, Prosa, Puisi (1988) susunan Ernst Ulrich Kratz, lema “Aryanti” dalam Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern (2003) susunan Pusat Bahasa, dan Mengenal Psikoanalisis Sigmund Freud: Das Unheimliche (2007) karya Murywantobroto. Penulis menambahkan beberapa judul lain yang berhasil ditelusuri dan belum tercantum dalam ketiga sumber tersebut. Tentu selain penulis tidak berani mengklaim daftar ini sebagai benar-benar lengkap, daftar ini juga masih sangat terbuka untuk pembaruan karena tidak menutup kemungkinan masih ada prosa-prosa lain Aryanti yang masih tercecer dan belum terlacak.

Dunia Tak Berhenti Berputar: Perempuan Sebagai Pemilih Rasional Pasangan

Dunia Tak Berhenti Berputar Aryanti
Kover novel Aryanti, Dunia Tak Berhenti Berputar

Kita boleh sepakat ataupun tidak analisis Murywantobroto (2007: 68-82) bahwa cerpen Aryanti “Si ‘Selop Wanita’” menggambarkan relasi seksual sesama jenis, tetapi kita pasti sepakat relasi seksual antara laki-laki dan perempuan merupakan satu tema dominan sebagian besar cerita Aryanti. Macet atau hilangnya relasi tersebut secara umum tampak sebagai situasi yang tidak dianggap ideal. Dalam hal ini, Dunia Tak Berhenti Berputar mengisyaratkan status janda, perubahan status perempuan dari memiliki pasangan menjadi tidak, bukan status ideal.

Namun, tidak berarti status janda selalu buruk, terbukti dengan hadirnya juga sosok-sosok perempuan mandiri tanpa pasangan dalam cerita-cerita Aryanti dengan konotasi positif. Status “tanpa pasangan” tidak menjadi buruk ketika relasi wajar perempuan dengan laki-laki yang layak karena satu dan lain sebab tidak dimungkinkan.

Salah satu contoh misalnya karakter Nani dalam Selembut Bunga. Nani adalah adik Adil, suami Rukmiati atau Mimi yang merupakan tokoh utama. Nani disebut “kehilangan suaminya sewaktu masih muda, tidak pernah mau kawin lagi” (hal. 93). Nani digambarkan sebagai perempuan mandiri yang “menjalankan Perusahaan ayam dan telur”. Nani memang bukan tokoh utama, tetapi perannya dalam cerita sangat positif karena berkat bantuan dialah konflik akibat perbuatan Lewis menghamili asistennya, Harni, bisa diselesaikan.

Contoh lain adalah karakter Rani (Mahrani Juwita) dalam Getaran-Getaran. Rani adalah janda muda ditinggal mati suami, Pak Jul (Julham), sosok yang terkenal “bandot tua”. Pernikahan Rani dengan Pak Jul merupakan pernikahan terpaksa untuk membayar utang Pak Is, bapak Rani. Saat menikahi Rani setelah istri pertamanya, Atika, meninggal, usia Pak Jul 63 tahun dan Rani baru 28 tahun. Situasi semacam itu membuat Mahayana (2007: 375) mengomentari bahwa pada awal cerita novel ini “ada kesejajaran dengan kasus yang menimpa Sitti Nurbaya dan Datuk Meringgih”.

Rani kemudian mewarisi semua kekayaan Pak Jul, melanjutkan memimpin perusahaan dengan sukses, dan dianalogikan oleh Asti, teman sekaligus karyawannya, dengan Margaret Thatcher. Sampai akhir cerita, Rani tidak menikah lagi dan secara terang-terangan menolak gagasan tersebut. Rani adalah prototipe perempuan modern yang kerap muncul dalam karya-karya Aryanti, dipertentangkan dengan generasi sebelum dia yang “kolot” sebagaimana tergambar dari pikiran Asti saat bercakap-cakap dengannya:

“Mungkin bukan itu juga,” pikir Asti, “Ibumu ‘kan wanita masa dulu, kuno, jadi belum bisa melihat wanita berkarir seperti kau.”

Getaran-Getaran, hal. 138

Jika kemampuan untuk mandiri dalam berbagai aspek kehidupan merupakan salah satu alasan bahwa hidup sendiri adalah sikap wajar bagi seorang perempuan, maka kita bisa memahami mengapa Dunia Tak Berhenti Berputar berkisar pada perjalanan kisah Aya untuk mendapatkan pasangan baru: novel dibuka dengan pemakaman Iwan, suami Aya, yang meninggal akibat kecelakaan, dan ditutup dengan keputusan Aya memilih Bambang sebagai pasangan baru.

Dalam perjalanan tersebut, kita menyaksikan banyak hal: Aya yang wanita karir harus mengurus sendiri dua anaknya yang masih kecil, Ira dan Mita, pada saat yang sama dia juga harus mencari pekerjaan sampingan untuk menambah pemasukan finansial. Selain itu, ditambah lagi anggapan umum yang menempatkan Aya dalam situasi tidak nyaman bahwa janda selalu perempuan nakal sehingga membuat laki-laki merasa bebas menggoda dia, termasuk dengan melakukan tindakan yang bisa dikategorikan sebagai pelecehan seksual di tempat kerja, sementara sesama perempuan menatapnya dengan pandangan curiga.

Melalui berbagai situasi sulit, digambarkan perbandingan dua pria yang sama-sama naksir Aya, Ajit dan Bambang. Keduanya merupakan sahabat Iwan dan memiliki watak yang saling bertolak belakang. Ajit adalah penghibur handal, guyonan-guyonannya selalu mampu membuat Aya dan anak-anaknya tertawa. Bagi Aya yang sedang dalam situasi berkabung, sosok seperti Ajit jauh lebih menarik daripada sosok Bambang yang serius.

Namun, ketika Aya mengalami kesulitan air karena air ledeng di lingkungannya mengalir hanya antara tengah malam dan pagi hari, itu pun kemudian hanya bisa mengalir dari kran yang ada di halaman sehingga dia harus bolak-balik mengangkut ember air dari halaman ke kamar mandi dan dapur saat dini hari, Ajit hanya mengejek tanpa menunjukkan niat membantu, sementara Bambang menyodorkan solusi:

Mengapa tak membeli pompa Listrik lalu ditempatkan di sumber, Aya? Dengan demikian kau bisa menampung langsung. Tetapi, tentu itu memerlukan pula drum di atas rumah…

Dunia Tak Berhenti Berputar, hal. 81

Bambang pula yang kemudian menangani semuanya dari mulai memilih pompa sampai mengurus “tukang-tukang yang memasang drum”.

Demikian juga ketika Aya disarankan oleh kakaknya, Jon, untuk mengapur rumah, Ira langsung nyeletuk untuk memasrahkan hal tersebut kepada “Om Bambang”. Bambang kemudian menyelesaikan tugas itu dengan sempurna, sementara Ajit sama sekali tidak menyadari perubahan tampilan rumah Aya yang menjadi lebih indah. Sikap Ajit tersebut kemudian dipertegas oleh komentar Tina, kakak Ajit:

Atap bocor, tapi tak mau berusaha memperbaikinya…tak mau tahu soal Listrik, lalu marah kalau ada kerusakan! Akhirnya saya semua yang harus mengurus! Coba, kemarin saya naik-naik di atap beranda!

Dunia Tak Berhenti Berputar, hal. 84

Gambaran-gambaran tersebut menampilkan Aya sebagai perempuan yang berada dalam situasi membutuhkan pasangan. Maka pembandingan Ajit dan Bambang sebagai dua kandidat paling kuat untuk menjadi pasangannya pun terus berlanjut ketika Aya harus pergi ke Tokyo untuk mendampingi atasannya, Pak Junaedi dan istrinya. Bambang membekali Aya bacaan-bacaan untuk di pesawat, sementara Ajit menyodorkan buku petunjuk pariwisata Hongkong, kota yang akan menjadi tempat persinggahan Aya dalam perjalanan menuju Tokyo. Puncaknya saat mengunjungi hiburan malam di Tokyo, Aya merasa pria yang berkunjung ke tempat semacam itu sebagai turis identik dengan sosok Ajit.

Dengan kata lain, Ajit memang sosok yang menyenangkan, tetapi sosok semacam itu hanya cocok “kalau hidup terdiri dari pesta tanpa habis-habisnya” (hal. 100). Sementara itu, sebagaimana renungan akhir Aya yang menutup novel setelah adegan dia memutuskan memilih Bambang yang peduli terhadap hal-hal kecil dan datang menjemput di bandara bersama Ira dan Mita:

Yang saya harapkan bukan hidup yang akan bisa merupakan pesta tanpa habis-habisnya, seakan-akan hiburan abadi sebagai ganti rugi pengalaman saya dahulu! Melainkan hidup yang realistis, di mana baik dan buruk bisa terjadi, dan yang akan dan harus dialami serta dipikul bersama!

Dunia Tak Berhenti Berputar, hal. 100

Pertimbangan Aya memilih Bambang tersebut didasarkan pada pertimbangan “dengan sadar dan mata terbuka” tentang hidup di masa depan. Aya memilih suami baru yang bisa akrab dengan anak-anaknya, yang mau menemaninya bukan hanya saat bersenang-senang tetapi juga saat harus menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari. Karena alasan yang sama dia menolak Handoyo, pria yang ditawarkan oleh bibinya, sosok supel, ramah, dan—menurut Aya—sexy, tetapi belum apa-apa sudah ketahuan sebagai petualang: dia kepergok Aya sedang makan dengan mesra bersama binor di sebuah restoran, kemudian ngeles ketika ditanya setelahnya dengan balik melontarkan tuduhan klise bahwa Aya sudah bersikap women womeni lupus: “Mengapa kalian wanita, selalu perlu bengis terhadap sesama?” (hal. 50).

Karakter Ajit yang memandang hidup di dunia sebagai melulu pesta dan menghindari keterikatan muncul kembali dalam Getaran-Getaran pada sosok Junaedi. Pak Jun sudah usia nikah, secara ekonomi mapan, dan digambarkan secara tersirat menaruh perhatian baik kepada Rani maupun kepada Asti. Asti sempat menyatakan kemungkinan bahwa Pak Jun mungkin homo, tetapi dia kemudian meralatnya dengan merujuk pada sebuah “majalah asing” bahwa tipe seperti Pak Jun adalah “pria yang takut commitment” (hal. 155).

Kebebasan perempuan—dan juga laki-laki—untuk memilih pasangan berdasarkan rasa dan rasionya sendiri juga ditunjukkan oleh Aryanti dengan contoh terbalik dalam cerpen “Belasungkawa”. Cerpen mengisahkan Pak Ismu dan istrinya yang dalam pandangan publik memiliki citra berlawanan. Pak Ismu “berwatak periang, sehingga orang selalu gembira di dekatnya dan senang melihatnya” (Aryanti, 1987: 39). Pak Ismu juga digambarkan “memiliki daya tarik yang khas” bagi kaum ibu karena sikapnya yang “sangat sopan santun dan berlagak meladeni sekali” (hal. 41). Sebaliknya, Bu Ismu digambarkan sebagai “amat pendiam dan sama sekali tidak menyolok”, penampilannya pun “sangat sederhana”.

Citra Pak Ismu di muka publik juga digambarkan sebagai penyayang istri. Jika ada pertemuan sore hari, maka Pak Ismu akan mengingatkan istrinya saat menjelang petang bahwa “sudah malam, Bu, ingat rematiknya!”. Kemudian dia akan pulang diikuti oleh istrinya. Publik kemudian menganggap juga bahwa Bu Ismu sangat tergantung pada suaminya. Maka ketika Pak Ismu meninggal, publik juga mengkhawatirkan bagaimana Bu Ismu akan menjalani hidup tanpa suaminya.

Uniknya, kemudian terbongkar bahwa Bu Ismu sebenarnya sudah lama mengharapkan kematian suaminya. Bu Ismu menikah bukan atas pilihannya sendiri melainkan dipaksa oleh ibu tirinya saat dia berusia tujuh belas tahun, sementara dia sendiri masih ingin sekolah. Cerita semacam itu terulang juga pada pernikahan Rani dan Pak Jul dalam Getaran-Getaran, meski sementara efek dalam Getaran-Getaran adalah putusnya relasi antara Rani dengan orang tuanya yang dia anggap sudah menjual dirinya, maka dalam “Belasungkawa” efek tersebut muncul dalam bentuk KDRT.

KDRT yang dilakukan oleh Pak Ismu bermula saat anak mereka satu-satunya menikah tanpa pemberitahuan lebih dulu. Pak Ismu langsung menolak mengakuinya sebagai anak, termasuk ketika anaknya datang bersama istrinya. Saat Pak Ismu tahu bahwa Bu Ismu menerima anaknya diam-diam, dia langsung mengemplang Bu Ismu.

Tindak kekerasan pria, salah satunya mewujud dalam bentuk KDRT, merupakan satu dari enam struktur patriarki yang disodorkan oleh feminis Sylvia Walby (1991: 20). Situasi tersebut berlanjut dihadapi oleh Bu Ismu ketika Pak Ismu dipaksa pensiun dini dari kantornya sehingga menyebabkan keluarganya mengalami kesulitan ekonomi. Pak Ismu menjadi alkoholik, sementara Bu Ismu yang diam-diam mendapatkan bantuan uang dari anaknya kemudian mencoba menjalankan berbagai usaha.

Bu Ismu kemudian menyembunyikan fakta bahwa dia menjalankan berbagai usaha karena jika Pak Ismu tahu maka dia mengancam Bu Ismu untuk menyerahkan semua laba baginya. Langkah yang Bu Ismu lakukan tersebut bisa dipandang sebagai satu bentuk resistensi. Sementara itu adanya relasi antara gaya hidup alkoholik dengan KDRT merupakan sesuatu yang nyata sehingga satu dari dua upaya kaum Feminis Gelombang Pertama untuk menangani dan mencegah terulang kembalinya kasus-kasus KDRT adalah dengan melakukan kampanye menolak alkohol (Walby, 1991: 146).

Kekerasan yang Pak Ismu lakukan semakin menjadi-jadi, dia suka menendang Bu Ismu sambil memaki-maki kemudian melempar-lemparkan perabotan. Kebiasaan mabuk-mabukan dia lakukan malam hari, sehingga bisa dikatakan bahwa alih-alih merupakan tanda perhatian terhadap istri, ajakan dia untuk pulang jika ada pertemuan sampai malam adalah pertanda bahwa dia siap mabuk-mabukan. Jika menimbang frekuensi kekerasan itu meningkat pascapensiun sehingga bisa dianggap bahwa hal tersebut berkaitan dengan frustrasi ekonomi, bisa ditarik juga benang merah antara situasi tersebut dengan konsep maskulinitas yang terbentuk dalam kultur.

Sikap Pak Ismu terhadap anaknya ataupun Bu Ismu menunjukkan anggapan dia sebagai pemilik posisi dominan dalam keluarga. Setelah terganggu oleh sikap anaknya dan Bu Ismu, gangguan lebih besar hadir dalam bentuk hilangnya kekuasaan ekonomi yang sebelumnya menjadi salah satu modal dia untuk menegakkan dominasi tersebut. Dalam kultur yang merupakan satu struktur lain patriarki yang menurut pandangan Feminisme Radikal membentuk pria supaya “jantan dan terbiasa menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan perselisihan” (Walby, 1991: 134), satu-satunya cara yang mampu Pak Ismu lakukan untuk meraih kembali posisi dominan dalam keluarga adalah menggunakan kekerasan.

Dalam cerita digambarkan bahwa penyebab utama Pak Ismu mati sebenarnya gaya hidup alkoholik yang karena tekanan ekonomi maka menurun menjadi mabuk murah dan tak sehat. Di sisi lain, selain menahan semua kekerasan yang dia alami, merupakan tugas Bu Ismu pula membersihkan semua muntahan Pak Ismu yang semakin tidak terkontrol.

Dengan kata lain, selain semua anggapan publik tentang Pak dan Bu Ismu ternyata meleset, bagi Bu Ismu pernikahan yang dia jalani bersama pasangan yang bukan merupakan pilihan sendiri baik secara rasa maupun rasio itu merupakan neraka dan kematian suaminya, bagi dia, merupakan kebebasan. Sebaliknya, anak mereka yang menikah dengan gadis pilihan sendiri dan tanpa restu Pak Ismu ternyata justru menjadi pasangan baik yang hidup bahagia.

Selembut Bunga dan Kemelut di Masa Senja: Perempuan dan Perselingkuhan

Aryanti Selembut Bunga dan Kemelut di Masa Senja
Kover novel Aryanti Selembut Bunga dan novelet Kemelut di Masa Senja

Aryanti beberapa kali menyinggung soal perselingkuhan dalam karyanya, salah satunya dalam Selembut Bunga. Dalam novel tersebut, perselingkuhan terjadi antara Lewis, sosiolog Australia yang sedang melakukan riset di Indonesia, dengan Harni, asistennya. Perselingkuhan tersebut menyebabkan Harni hamil.

Kita disodori variasi sikap orang menyikapi dampak perselingkuhan tersebut. Sementara Harni digambarkan sebagai gadis lugu yang mencintai Lewis, Lewis justru menolak bertanggung jawab dan ditampilkan sebagai pria yang hanya ingin bersenang-senang serta menganggap hamilnya Harni sebagai “kejadian sial”, satu sikap yang sejajar dengan teori Feminis Interaksionis bahwa “kaum pria mampu menetralkan aspek-aspek negatif tindakan mereka” (Walby, 1991: 115).

Di sisi lain, fakta bahwa Lewis adalah pihak aktif yang memulai relasi seksual dengan Harni menggambarkan kontrol seksualitas di tangan pria, gambaran dari dikotomi patriarki tentang pria sebagai pihak aktif dan wanita pasif. Kesan tersebut diperkuat oleh voyeuristic male gaze, satu elemen lain seksualitas dalam struktur patriarki (Walby, 1991: 98), yang tergambar dari hobi Lewis:

Entah diperlukan dalam penelitiannya, entah tidak, orang tidak pernah menanyakan, namun ia diketahui membuat foto di mana-mana. Sasaran utamanya ialah wanita. Ia pandai memilih wanita yang paling cantik, paling menarik dan paling luwes juga.

Selembut Bunga, hal. 48

Meski orang menggunjingkan hobi Lewis, tetapi sebagaimana komentar Pak Mulyoto, “seorang dosen”, hobi Lewis tersebut tidak benar-benar aneh “kalau dilihat dengan mata pria” (hal. 48).

Ketika Harni terpaksa mengakui kepada orang tuanya bahwa dia sudah hamil tiga bulan, berikut reaksi orang tuanya:

Ayahnya seperti orang lumpuh, tidak dapat berdiri dari kursinya. Ibunya, sesudah menyadari benar-benar apa yang telah terjadi, marah-marah seperti orang kemasukan setan.

Selembut Bunga, hal. 133

Salah satu solusi yang kemudian dituntut oleh Bapak dan Ibu Sanyoto, bapak dan ibu Harni, adalah Lewis menikahi Harni, meskipun itu hanya sementara dan “nanti bisa dicerai lagi”. Sikap semacam itu merupakan satu sikap umum orang tua dalam situasi senada yang lebih memikirkan “nama baik” keluarga daripada memikirkan kondisi psikis anak.

Dua situasi tersebut menggambarkan seperti apa kultur patriarkis tempat Harni hidup. Di satu sisi kontrol seksualitas berada di tangan pria, di sisi lain, kepemilikan tubuh berada di tangan orang lain. Yang pertama tergambar dari hobi Lewis dan normalisasi hobi tersebut oleh Pak Mulyoto yang sama-sama terdidik dan sama-sama pria. Yang kedua tergambar dari reaksi Ibu Sanyoto dan solusi yang Bapak dan Ibu Sanyoto sodorkan dalam bentuk pernikahan yang dipaksakan.

Dalam situasi semacam itu, menarik membandingkan sikap Adil dan Mimi, dua tokoh utama yang merupakan tetangga pasangan Lewis dan Cynthia. Ayah Harni, Pak Sanyoto, merupakan bendahara di kantor Adil. Saat mau tidak mau terseret untuk ikut menyelesaikan berbagai masalah yang timbul akibat hamilnya Harni, meski Adil menunjukkan sikap benci terhadap sikap Lewis menyikapi hal tersebut, tetapi dia juga sempat menanyakan kepada keluarga Sanyoto:

Apakah Ibu dan Pak Sanyoto tidak mempunyai saudara atau kemenakan yang bisa dimintai kesediaannya untuk mengawini Harni?

Selembut Bunga, hal. 91

Kita tahu dalam situasi seperti yang Harni hadapi, menikahkan dia dengan Lewis atau dengan laki-laki mana pun adalah solusi gampangan dan umum tetapi lebih sering memperburuk masalah. Mimi, dalam hal ini, berpandangan lebih memihak Harni sebagai korban dengan memprotes solusi yang disodorkan oleh suaminya tersebut. Selain itu, Mimi bahkan berpandangan lebih jauh lagi dengan mengandaikan dilakukannya aborsi seandainya kehamilan Harni diketahui lebih awal. Pandangan Mimi tersebut, sebaliknya, diprotes oleh Adil.

Aryanti juga mengisahkan perselingkuhan dengan cara unik dalam cerpen “Balas Dendam”. Milli adalah istri Hilman yang pada awal cerita dikompori oleh temannya, Nana “si ahli gunjing”, bahwa jika seorang suami pergi ke kantor disertai bayangan istri yang belum mandi dan memakai daster kumal maka si suami tersebut memiliki potensi untuk melakukan perselingkuhan.

Milli sedikit terpengaruh oleh kata-kata Nana, tetapi dia kemudian selalu menemukan fakta yang menguatkan keyakinannya bahwa Hilman adalah suami setia, termasuk setelah Rini, temannya yang lain yang juga suka bergunjing, mengabarkan bahwa Hilman pergi tugas ke luar kota bersama seorang wanita cantik. Dia mendapatkan penjelasan dari Hilman bahwa wanita cantik itu adalah Ibu Miryam, seorang janda. Dia merupakan Kepala Cabang Daerah dan Hilman memang ditugaskan untuk membantunya mengurus cabang baru di daerah selama “tiga atau empat bulan”.

Meski Nana dan Rini terus-menerus mengomporinya, Milli semula masih tetap dengan keyakinannya. Akan tetapi keyakinan itu mulai goyah ketika Hilman selalu menyebut-nyebut Miryam setiap kali mereka berkomunikasi melalui telepon. Milli juga sadar bahwa Hilman tidak lagi menyebut Miryam dengan panggilan Ibu, satu situasi yang menggambarkan relasi mereka sudah semakin akrab. Hilman tergambar sebagai sosok suami yang tidak peka bahkan ketika secara terang-terangan Milli menyebutkan keresahannya karena suaminya itu terus-menerus bercerita tentang Miryam.

Meyakini Hilman selingkuh, Milli pada akhirnya melakukan perselingkuhan dengan seorang kenalan baru, Pak Tasrif. Selain tindakan balas dendam, dia juga menganggap bahwa Pak Tasrif memang pria menarik. Perselingkuhan itu kemudian berakhir tanpa konflik ketika Hilman pulang. Uniknya, didorong oleh rasa bersalah, Milli kemudian membeli kado untuk Hilman berupa dompet khusus, berbahan kulit asli, produk impor. Sebaliknya, Hilman juga bersikap mesra yang berlebihan saat bertemu kembali dengan istrinya. Hal tersebut membuat Milli sendiri bertanya-tanya tidakkah sikap berlebihan Hilman, sebagaimana juga tindakan Milli, juga menyiratkan “rasa bersalah terhadap istri”?     

Masih terkait tema perselingkuhan, kita juga menemukan tema pelakor dalam Dunia Tak Berhenti Berputar dan Tanggung Jawab. Kisah pelakor dalam Dunia Tak Berhenti Berputar adalah lakon carangan melibatkan Isniati. Isniati berpacaran dengan Irsan yang sudah menikah dengan Artini. Artini kemudian menyatroni Isniati dan terbongkarlah bahwa Isniati ternyata tidak tahu Irsan sudah beristri. Isniati semula serius mencintai Irsan, tetapi sesudah tahu Irsan beristri, dia pun mundur. Setelah itu, Artini mempersilakan Irsan menikahi Isniati, tetapi dengan syarat dia keluar dari rumah yang memang milik Artini. Pada akhirnya, rumah tangga mereka pun kembali normal.

Sikap pasangan Cynthia-Lewis, Milli-Hilman, dan Artini Irsan yang tetap mempertahankan pernikahan bahkan setelah terjadi perselingkuhan senada juga dengan sikap pasangan Mira-Rawi dalam Kemelut di Masa Senja. Pernikahan Mira dengan Rawi mirip pernikahan Bu Ismu sebagai korban perjodohan berbasis pandangan bahwa

perkawinan yang baik bukan masalah cinta antar remaja atau Impian romantis seorang gadis. Kasih-sayang dan kebahagiaan tumbuh sesudah upacara nikah!

Kemelut di Masa Senja, hal. 6

Setelah mereka memiliki 4 anak, Mira menyadari “kelemahan Rawi terhadap wanita-wanita lain”, tetapi dia menahan diri karena memikirkan nasib anak-anaknya dan juga dirinya sendiri. Mira tampak sebagai korban didikan kolot sebagaimana Harni yang kemudian tumbuh sebagai istri yang meyakini suami istri sebagai dikotomi aktif pasif. Istri harus sabar dan pasrah, suami jantan dan dominan. Rawi, sebaliknya, justru mengharapkan istri modern yang aktif dan punya inisiatif, sosok-sosok yang justru dia temukan di lingkungan kantor tempat dia bekerja sebagai konsultan hukum.

Butuh usia pernikahan empat puluh tahun sampai semua yang Mira pendam meledak dan dia menuntut perceraian. Akan tetapi setelah melalui berbagai perdebatan, anak-anak mereka mampu mendamaikan Mira dan Rawi. Kisah mereka berdua berakhir dengan upaya keduanya untuk sama-sama memperbaiki diri.

Secara umum, bagi karakter-karakter dalam karya-karya Aryanti, perceraian tampak bukan merupakan solusi ideal masalah perselingkuhan. Meski perceraian selalu menjadi ancaman pertama yang disodorkan oleh pihak istri ketika terjadi perselingkuhan dalam keluarga mereka, satu hal yang menunjukkan kekukuhan perempuan terkait relasi pasangan sebagai satu ruang yang tanpa bisa ditawar hanya memuat dua orang, tetapi selalu diusahakan terlebih dahulu penyelesaian lain yang bisa berujung dengan tetap dipertahankannya perkawinan.  

Kembali ke tema pelakor, novelet Tanggung Jawab mengisahkan Alin yang pergi ke Kanada kemudian di sana berjumpa Moira, kawannya yang merupakan warga lokal dan dulu pernah akrab saat Moira dan Roger suaminya sedang berada di Jakarta. Mereka kemudian berbincang nostalgik tentang masa lalu ketika dalam sebuah pesta di bungalow di Megamendung, Kenneth, kenalan Roger dan Moira mengetuk pintu kamar Alin malam-malam untuk mengajak melakukan hubungan cinta satu malam. Alin waktu itu pura-pura tidur dan Roger yang memergoki Kenneth membuat Kenneth mengurungkan diri sambil beralasan bahwa dia tìdak berniat cabul dan hanya ingin “minta bantuan bagi orang sakit” (hal. 7).

Moira menyebut Alin sebagai sosok polos dan hal itu juga yang menyebabkan dia tidak siap ketika suaminya melakukan perselingkuhan dan meninggalkan dia. Moira juga kemudian membuka fakta bahwa Roger sebenarnya sejak awal menyukai Alin dan ingin menjalin hubungan perselingkuhan dengannya. Alin kemudian menjawab bahwa dia juga tahu niat Roger, tetapi Alin menolak menjadi pelakor, status yang bermakna seorang perempuan menyakiti perempuan lain:

Ia beristri. Bagi saya perkawinan tidak boleh dilanggar! Ingat pula, bahwa saat itu saya baru mengalami ‘pelanggaran’ itu pada perkawinan sendiri! Tidak mungkin saya memberi hati secara bagaimana pun kepada pria yang sudah mempunyai istri. Di samping itu, kau saya anggap sebagai kawan dekat. Saya sangat segan padamu. Bagaimana saya akan sampai hati melanggar wilayah kawan dekat saya!

Tanggung Jawab, hal. 11

Obrolan tersebut kemudian menyadarkan Alin untuk mengakhiri afair yang ternyata selama ini dia lakukan dengan direktur lembaga yang sudah beristri. Uniknya, saat Alin sudah tiba di Jakarta, dia baru tahu bahwa Moira sebenarnya sudah meninggal “beberapa lama”. Artinya, obrolan dia dengan Moira saat di Kanada itu secara rasional tidak mungkin terjadi. Akan tetapi pengetahuan itu justru membuat Alin semakin teguh untuk mengakhiri afairnya dan kembali ke filsafat hidupnya sebagaimana dia katakan sebagai penutup cerita:

Masa Iya, pada umurnya yang matang ini ia akan mengingkari filsafat hidupnya sendiri?

Tanggung Jawab, hal. 15

Tema pelakor sejajar dengan konsep women womeni lupus yang pernah Handoyo gunakan untuk ngeles dalam Dunia Tak Berhenti Berputar. Konsep tersebut, dimaknai oleh Faruk (2000: 93) sebagai “pertarungan antarwanita” sebagaimana tergambar dalam permusuhan antar perempuan yang dipoligami, juga tampak pada karakter-karakter perempuan penggosip sesama perempuan yang kerap muncul dalam karya-karya Aryanti.

Tentu kita kini boleh memandang penyematan status penggosip pada perempuan sebagai stereotipe usang pembentukan makna yang merugikan perempuan. Akan tetapi kita juga bisa menarik kesimpulan dari beberapa gambaran perempuan yang menggosipkan negatif perempuan lain, perempuan yang secara spontan membenci semua janda, perempuan yang mencoba menjatuhkan perempuan lain, perempuan yang mencoba merebut pria lain, bahwa semua itu merupakan ajakan untuk memperkuat empati dan solidaritas perempuan, satu gagasan utama Feminisme Gelombang Kedua.

Hidup Perlu Akar: Kodrat versus Pengasuhan Pembentuk Identitas Perempuan

Aryanti Hidup Perlu Akar
Kover novel Aryanti, Hidup Perlu Akar

Peranan Nature ‘kodrat’ atau Nurture ‘pengasuhan’ dalam pembentukan identitas adalah sumber perdebatan yang tak pernah usai. Pandangan klasik yang masih berlaku dalam Islam dan tradisi lokal yang menyaratkan aspek “keturunan baik-baik” sebagai salah satu kriteria dalam memilih pasangan hidup menunjukkan pemihakan terhadap faham lama mengenai relasi kodrat dengan identitas. Kita juga menemukan padanannya dalam “air cucuran atap jatuh ke pelimbahan juga”, peribahasa yang memberi hukum kepastian akan pewarisan sifat secara genetika. Pandangan lebih modern, sebaliknya, memandang pencapaian seseorang lebih penting daripada trah.

Hidup Perlu Akar menyoroti kejanggalan faham klasik terkait identitas dengan menyodorkan cerita tentang anak asuh bernama Ita. Ita adalah anak angkat Oto dan Mea. Di Jakarta, Oto dan Mea bertetangga dengan pasangan Jon dan Didit yang memiliki dua anak, Iwan dan Nini. Ita digambarkan sebagai gadis menawan secara fisik dan sukses pula bekerja di perusahaan asing dengan gaji besar. Akan tetapi cerita dibuka dengan adegan mengejutkan: Ita koma akibat overdosis obat tidur.

Maka cerita pertama-tama fokus pada pembongkaran sebab Ita melakukan tindakan tersebut, satu hal yang tidak mudah dilakukan karena setelah sadar, Ita yang bukan tipe terbuka enggan bercerita tentang motifnya kepada Dokter Harsono, psikiater yang menanganinya. Lama kemudian baru terbongkar bahwa persoalan Ita adalah persoalan anak angkat yang tidak mengetahui asal-usulnya secara pasti dalam lingkungan tradisional yang masih mementingkan soal keturunan, terutama terkait pencarian pasangan.

Oto dan Mea memang sengaja tidak memberitahu Ita tentang asal-usulnya karena takut relasi mereka dengan Ita menjadi renggang. Di sisi lain, sebenarnya asal-usul Ita sendiri cukup rumit. Ita merupakan putri pasangan Hanum, adik bungsu Oto, dengan Sanusi. Relasi Hanum dengan Sanusi tidak direstui oleh keluarga sehingga dia memutuskan melarikan diri bersama Sanusi. Ketika mereka berdua meninggal, Ita kemudian diasuh oleh Ibu Zubaidah, Ibu Oto dan Hanum yang didorong oleh rasa bersalah menumpahkan kasih sayangnya pada Ita. Baru saat berusia 5 tahun, Ita diadopsi oleh Oto dan Mea. Problemnya, bukti pernikahan Hanum dan Sanusi tidak ditemukan sehingga ada kemungkinan status Ita merupakan anak haram yang memiliki stigma buruk di masyarakat.

Namun, bagi Ita, mengetahui dan mengenal secara pasti siapa orang tuanya saja sudah cukup. Dia pada akhirnya menikah dengan Iwan. Bu Didit sendiri digambarkan sebagai perempuan yang berpandangan tradisional tetapi moderat, meski dia sempat merasa gamang perihal tidak jelasnya status kekeluargaan Ita, dia pada akhirnya mau menerima pandangan modern yang lebih mengedepankan pencapaian daripada keturunan. Dalam Hidup Perlu Akar, kesadaran akan pandangan tradisional tentang pola pengangkatan anak dipancing oleh hadirnya pasangan asing dari Jerman Barat, Kurt dan Liza, yang memiliki anak angkat kelahiran Tuban, Hella.

Berkebalikan dari pasangan Oto dan Mea, pasangan Kurt dan Liza sudah sejak awal memberitahu sejelas-jelasnya kepada Hella bahwa dia merupakan anak angkat. Hal tersebut menutup kemungkinan frustrasinya Hella mengenai identitasnya sebagaimana terjadi pada Ita. Pembandingan situasi masyarakat asal Kurt dan Liza dengan masyarakat Indonesia digambarkan melalui perkataan Didit menanggapi ucapan Nini yang menyatakan bahwa “Orangtua biasanya ‘kan ingin tahu siapa calon besan. Artinya masyarakat cenderung mempersoalkan masalah keluarga dan keturunan”:

Di Barat mungkin jalan pikiran orang sudah lain. Di sana rasanya masalah keluarga dan keturunan tidak begitu dihiraukan lagi. orang lebih menilai keluarga yang mendidik anak bersangkutan.

Hidup Perlu Akar, hal. 55

Dalam Getaran-Getaran, sikap orang tua seperti yang diungkapkan Nini tersebut diejek oleh karakter utama, Rani, yang menjadi prototipe perempuan modern:

“Kau tahu, As[ti], mengapa Ibu memikirkan Junaedi? Mereka, artinya, Ayah dan Ibu, mengenal bibinya….atau apanya….jadi merasa cukup mengetahui latar belakang sang jejaka ini.” Ia tertawa, menghina, “Seolah-olah mengenal sekedar bibi atau paman jauh seseorang menjamin watak orang itu!”

Getaran-Getaran, hal. 139

Keberpihakan Aryanti pada pandangan modern terkait identitas ini juga tampak dari fakta bahwa meski status Ita tidak benar-benar jelas sebagai anak lahir setelah atau sebelum pernikahan, dia menjalani hidup bahagia melalui pernikahannya dengan Iwan. Sebaliknya, Popi, rekan kerja Ita yang selalu membanggakan dirinya sebagai keturunan menak, bangsawan Sunda, dan menjadi pemantik rasa frustrasi Ita yang mendorong dia meminum obat tidur sebanyak-banyaknya, sampai akhir digambarkan belum memiliki pasangan.

Selain itu, Hidup Perlu Akar juga menautkan perihal anak angkat dengan pengendalian laju pertumbuhan populasi. Selain berbicara tentang keputusan Iwan untuk ikut program Keluarga Berencana, melalui mulut Nini juga dinyatakan bahwa:

Malahan saya bilang, sebaiknya mereka tak usah punya anak sendiri. Masih banyak sekali anak-anak yang tak terurus. Lihat saja di panti-panti asuhan! Lebih baik mereka memungut anak dari situ.

Hidup Perlu Akar, hal. 102

Perihal anak angkat juga Aryanti singgung dalam Selembut Bunga. Dalam novel itu, bayi yang Harni lahirkan akibat hubungan di luar nikah dengan Lewis kemudian diadopsi oleh Cynthia dan Lewis. Sikap tersebut merupakan solusi terbaik bagi kedua belah pihak sekaligus menunjukkan bahwa menjadi ibu merupakan pilihan, bukan kodrat: Harni yang tidak siap menjadi ibu secara fisik dan secara psikis menyesali hubungannya dengan Lewis jelas tidak akan mampu menjalin relasi baik dengan anaknya, demikian juga keluarganya tidak bisa menerima Harni menjadi seorang ibu tanpa ada suami. Di sisi lain, Cynthia merasa sayang pada bayi tersebut yang menurut dia juga merupakan “anak suami saya” (hal. 112).   

Satu hal lain yang juga tergambar dalam Selembut Bunga adalah penekanan terhadap lebih pentingnya pola pengasuhan dibanding keturunan. Salah satu sebab Harni bisa dengan mudah tergoda oleh Lewis untuk menjalin relasi seksual adalah pola pengasuhannya yang kolot. Harni digambarkan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat mengekang sehingga pengetahuannya sangat gelap terkait pendidikan seks, termasuk tentang batas-batas relasi dengan lawan jenis ataupun perkembangan teknologi terkait pengaman hubungan seksual yang pada saat itu berupa “alat-alat KB, termasuk pil” (hal. 133).

Kaca Rias Antik, Getaran-Getaran, dan 3 Novelet Femina: Cerita-Cerita Fantastik dan Perempuan Intuitif

Kover Antologi Cerpen Aryanti, Kaca Rias Antik, dan Novel Getaran-Getaran

Dalam ulasan Kaca Rias Antik (1988: 304), Ray Rizal menyebut tema-tema yang disajikan cerpen-cerpen dalam Kaca Rias Antik adalah “tentang misteri manusia, lengkap dengan hal-hal yang irasional”. Irasionalitas dimaksud tampaknya menyangkut “sekitar mahluk halus atau roh”, tema yang kemudian menjadi basis seleksi data penelitian Murywantobroto atas cerpen-cerpen dalam antologi tersebut.

Sementara itu, dalam tulisan di Kakilangit Majalah Horison, Puji Santosa (2002: 6) mengatakan bahwa “semua cerita yang dimuat dalam buku itu [Kaca Rias Antik] berisi kisah yang berbau misteri atau gaib”. Pernyataan tersebut jelas keliru karena dari 15 cerpen yang dimuat dalam Kaca Rias Antik, hanya 8 cerpen yang merupakan cerita “berbau misteri atau gaib”, sementara 7 cerpen sisanya merupakan cerita-cerita yang melulu rasional.

Demikian juga tidak pada tempatnya jika Puji Santosa mengatakan bahwa Aryanti adalah “pelopor cerita-cerita fantastik yang menghadirkan tema keanehan yang mencemaskan” (2002b: 10). “Keanehan yang mencemaskan” merujuk pada konsep Das unheimliche Sigmund Freud yang Murywantobroto gunakan sebagai basis teori saat menelisik 5 cerpen Aryanti, tetapi menyebut Aryanti sebagai pelopor cerita-cerita fantastik, cerita-cerita yang memuat hal-hal supernatural, adalah kekeliruan karena sebutan tersebut dalam kesusastraan kita lebih pas disematkan pada Riyono Pratikto yang sudah menulis cerita-cerita fantastik dua dekade sebelum Aryanti. Sebutan tersebut baru akan pas disematkan pada Aryanti jika dispesifikkan pengarang perempuan.

Selain 8 cerpen dalam Kaca Rias Antik dan cerpen “Isyarat”, novel Getaran-Getaran, dan 3 novelet Femina Aryanti (Wisata, Tanggung Jawab, dan Hotel) juga bisa dikategorikan cerita fantastik. Menilik cerita-cerita fantastik tersebut, selain bisa memilih untuk setuju secara kritis pembacaan psikoanalisis Freudian yang sangat bagus oleh Murywantobroto terhadap makna-makna simbolis anasir cerita-cerita fantastik Aryanti, kita juga bisa membahasnya dengan bertolak dari pertanyaan sederhana: mengapa tokoh-tokoh yang diposisikan sebagai manusia yang bersentuhan dengan hal gaib dalam karya-karya Aryanti mayoritas perempuan?

Tini dalam “Kaca Rias Antik”, Retno dalam “Jemputan Khusus”, Nina dalam “Tabrak Lari”, Marni dalam “Di Tepi Sungai, Di Pinggir Hutan”, “Saya” dalam “Diorama”, Lina dalam “Lukisan Dewa Bersemadi”, dan “Saya” dalam “Isyarat” semuanya adalah karakter yang bersentuhan dengan hal gaib dan mereka semua perempuan. Demikian juga Alin dalam Tanggung Jawab dan Marlies serta Linda dalam Hotel.

Jawaban sederhana tentu saja mudah: Aryanti adalah pengarang perempuan, maka jelas karakter-karakter utamanya perempuan. Akan tetapi jawaban tersebut tidak menjelaskan mengapa ada juga karakter laki-laki dalam cerita-cerita Aryanti yang menyandang peran tersebut.

Maka kita mungkin harus mencari jawaban lain yang lebih memuaskan dan mungkin sedikit memutar. Dalam Malleus Maleficarum, risalah terkenal yang menjadi panduan perburuan penyihir pada Abad ke-16 dan 17, disebutkan bahwa para penyihir lebih banyak dari kalangan perempuan daripada laki-laki dan salah satu alasannya adalah

karena perempuan gampang percaya dan karena iblis pada dasarnya berusaha untuk merusak Iman maka dia secara khusus menargetkan perempuan.

The Hammer of Witches: A Complete Translation of the Malleus Maleficarum, hal. 164

Malleus Maleficarum memang risalah yang terkenal misoginis dan analisis-analisis terbaru menunjukkan bahwa stigmatisasi dan perburuan penyihir memiliki motif-motif tersembunyi yang tidak sebening upaya saleh menegakkan iman. Feminis Marxis Silvia Federici dalam Witches, Witch-Hunting, and Women (2018) misalnya menautkan tindakan demonisasi perempuan tersebut dengan motif duniawi berupa penguasaan lahan, propaganda bagian dari konflik agraria.

Akan tetapi tidakkah sikap Aryanti merupakan bukti pembenar anggapan Malleus Maleficarum?

Problem mendasar pernyataan Malleus Maleficarum adalah sejak awal risalah tersebut dengan sewenang-wenang menempatkan penyihir dalam sisi negatif. Dengan kata lain, kedekatan antara perempuan dengan hal gaib pun sejak awal dianggap negatif. Maka dalam hal ini, pertanyaan yang penting untuk dijawab lebih dulu adalah benarkah persentuhan para perempuan dengan hal-hal gaib selalu merupakan hal negatif?

Jika ditelisik, hal-hal gaib dalam cerita-cerita fantastik Aryanti cenderung hadir untuk membongkar informasi yang selama ini tersembunyi dan tak mungkin dibongkar oleh manusia secara rasional, satu pola yang banyak kita temukan dalam karya-karya penulis perempuan lain yang muncul sedikit belakangan: V. Lestari. Hantu yang menghuni kaca rias antik sekilas memang tampak jahat, tetapi hantu tersebut menjadi arwah penasaran karena dia korban pembunuhan yang tak terpecahkan siapa pembunuhnya. Di akhir cerita “Kaca Rias Antik” diketahui adalah Winter, si Opa pemilik toko yang menjual kaca rias antik tersebut dan ketika Winter mati maka kaca rias antik itu pun tak lagi berhantu.

Demikian juga hantu Pak Harun dalam “Tabrak Lari” yang mendatangi Nina dan membuat perbuatan anaknya dkk sebagai penabrak Pak Harun menjadi terbongkar. Hantu Dinar dalam “Di Tepi Sungai, Di Pinggir Hutan” menyebabkan identitas Tino sebagai Martin, pasangan selingkuh Dinar yang menyebabkan kematian Dinar, menjadi terbongkar. Kilas balik peristiwa masa silam dalam bentuk “Diorama” membongkar pembunuhan yang dilakukan oleh karakter pria jalang terhadap istrinya yang kedua. Hotel jadi-jadian dalam Hotel menjadi sumber informasi dahsyatnya peristiwa lokal pada era Perang Dunia Kedua. Demikian juga penampakan masa depan yang dilihat oleh karakter “Saya” dalam “Isyarat” menyelamatkan nyawa.

Namun “Isyarat” juga menunjukkan fungsi lain hal gaib dalam kehidupan karakter: menunjukkan kuatnya ikatan batin. Nyawa yang diselamatkan dalam “Isyarat” adalah nyawa Titut, cucu kesayangan almarhum nenek yang mendatangi karakter “saya” dalam mimpi. Hal sama juga terjadi dalam “Jemputan Khusus” dan “Lukisan Dewa Bersemadi”: ikatan batin dengan bapak tua yang sangat akrab di masa kecil, ikatan batin dengan mantan suami. Hantu Moira, kawan dekat Alin, yang mendatangi Alin dalam Tanggung Jawab membuat Alin sadar bahwa afair yang dia lakukan dengan suami orang menyalahi filsafat hidup yang dulu pernah dia ungkapkan pada Moira. Alih-alih merupakan “godaan iblis”, hal-hal gaib itu justru hadir menunjukkan kepekaan, semacam intuisi seorang seniman yang ditunjukkan dalam cerpen “Irama”.

Novelet Aryanti Wisata, Tanggung Jawab, dan Hotel
Bagian depan 3 Novelet Aryanti di Majalah Femina: Wisata, Tanggung Jawab, dan Hotel

Dus, berkebalikan dari stigma negatif rentannya perempuan akan persentuhan dengan hal gaib yang melahirkan konsep penyihir ala Malleus Maleficarum, cerita-cerita fantastik Aryanti justru menunjukkan hal tersebut sebagai sesuatu yang positif: kepekaan intuisi perempuan dan kesetiaannya dalam menjalin ikatan bahkan dengan orang yang sudah meninggal justru merupakan kelebihan. Pertanyaannya kemudian: apakah hal tersebut juga terjadi pada tokoh-tokoh pria?

Motif hal gaib sebagai “pemberi informasi” memang hadir dalam cerita fantastik dengan tokoh laki-laki, Wisata. Hantu perempuan yang mendatangi Zaini dalam Wisata membongkar rahasia masa lalu keluarga istana. Akan tetapi dalam tiga cerita lain, Getaran-Getaran, “Irama”, dan “Si ‘Selop Wanita’”, hal-hal gaib yang muncul justru membahayakan kehidupan tokoh yang didatangi.

Novel Getaran-Getaran memunculkan hal gaib dalam bentuk sosok Atika, istri pertama Pak Jul, yang meninggal dengan cara bunuh diri menelan pil tidur, cara yang mengingatkan kita pada apa yang Ita lakukan dalam Hidup Perlu Akar. Atika kemudian muncul berulang-kali menghantui Pak Jul setelah dia menikahi Rani. Penjelmaan tersebut selalu mengganggu Pak Jul tiap kali dia bersikap mesra di rumah terhadap Rani, apalagi saat akan menyenggamainya (hal. 90-91). Rani, sebaliknya, tidak pernah melihat hantu Atika dalam bentuk apa pun, dia hanya merasa bahwa suasana rumah itu “gelap yang saya [Rani] rasakan sebagai mengancam…mungkin serem istilahnya” (hal. 25).

Kematian Pak Jul, oleh sebagian publik yang percaya klenik, ditautkan dengan gangguan hantu tersebut, meski secara ilmiah dijelaskan bahwa dia mati karena serangan jantung. Fakta tentang adanya orang yang bisa melihat makhluk gaib dan ada yang tidak merupakan salah satu isu yang disajikan dalam Getaran-Getaran, ditarik pada pertentangan antara penjelasan paranormal, Pak Pandit, di satu sisi dengan penjelasan ilmiah di sisi lain melalui karakter Rani dan Asti. Proporsi seimbang antara dua pihak dan juga tidak adanya kesimpulan yang menunjukkan keberpihakan pada salah satu pihak dalam novel tersebut mengingatkan pada penjelasan Aryanti sendiri tentang kecenderungan dia menulis cerita-cerita fantastik. Aryanti menyatakan bahwa dia sendiri tidak tahu alasan dia menulis cerita-cerita semacam itu, hanya saja menurut dia, sebagaimana dikutip oleh Bandung Mawardi, “di Indonesia, hal yang gaib masih hidup” dan “mau percaya atau tidak, suasana itu normal bagi kita”.

Cerita lain Aryanti yang menempatkan karakter pria bersentuhan dengan hal gaib, cerpen “Irama”, memunculkan hal gaib dalam bentuk inspirasi terhadap Yuswar, si musisi. Yuswar digambarkan sangat terpengaruh oleh inspirasi itu dan menciptakan musik yang kemudian membunuh dirinya sendiri. Dengan demikian, bisa dilihat bahwa meski di satu sisi Yuswar sebagai laki-laki dianggap positif memiliki kepekaan terhadap inspirasi sebagaimana tokoh-tokoh perempuan dalam cerita-cerita fantastik lain, dosis kepekaan itu justru membunuh statusnya sebagai laki-laki.

Sementara pada cerpen “Si ‘Selop Wanita’”, Irsan menjalin relasi sangat kuat dengan bunga anggrek Paphiopedilum yang kemudian dijuluki Si “Selop Wanita”. Anehnya, bunga-bunga anggrek lain yang ditaruh di dekat bunga tersebut kemudian layu. Di akhir, anggrek itu kemudian hidup dan mencekik Irsan akan membunuhnya. Jika bunga anggrek ditafsirkan sebagai simbol perempuan, maka kita boleh memaknai relasi Irsan dengan Si “Selop Wanita” sebagai relasi toksik. Bunga tersebut memonopoli secara berlebihan kasih sayang Irsan yang berujung hilangnya baik rasa maupun rasio dalam relasi mereka.

Penutup

Ketika Aryanti memublikasikan karya-karyanya, di luar sana kaum Feminis Gelombang Kedua sedang menggaungkan hak-hak perempuan sebagai istri, hak untuk menjadi wanita karir, kesetaraan gender, dan kepemilikan atas tubuh yang membawa konsekuensi menjadi seorang istri atau ibu sebagai pilihan dan bukan kodrat. Sebagaimana tampak pada tilikan ringkas yang sudah dilakukan, bukan kebetulan jika gaung senada juga terdengar dalam karya-karya Aryanti yang, menariknya, juga memiliki kesejajaran dengan gagasan-gagasan Kartini.

Dalam buku Kartini: Pribadi Mandiri (Soebadio, 1990b: 117) disebutkan adanya “empat bidang dalam kehidupan bermasyarakat yang termasuk dalam perjuangan Kartini” dan dianggap masih tetap relevan sampai saat buku tersebut ditulis: gagasan mitra sejajar dalam kehidupan berkeluarga, tentang perkawinan sebagai pilihan personal, tentang peranan orang tua dalam pendidikan anak, dan tentang komitmen serta dedikasi generasi muda. Gagasan-gagasan perempuan modern yang Aryanti sodorkan dalam karya-karyanya berupa kebebasan perempuan untuk memilih pasangan yang bertanggung jawab dan layak, penolakan atas perselingkuhan dan status pelakor sekaligus penghormatan terhadap komitmen pernikahan, pentingnya pola pengasuhan anak, menikah dan menjadi ibu atau menjadi istri sebagai pilihan dan bukan kodrat, sikap kritis terhadap tradisi lokal yang merugikan perempuan serta keterbukaan terhadap pandangan-pandangan maju terkait pemberdayaan perempuan, termasuk yang berasal dari luar, memiliki kesejajaran dengan empat bidang tersebut. 

Karya-karya Aryanti bisa dianggap, dengan meminjam penilaian Lewis terhadap Harni dalam Selembut Bunga, sebagai “mutiara betul”. Tulisan ringkas ini hanya merupakan telisik awal yang bertolak dari keyakinan bahwa persoalan-persoalan para perempuan dalam karya-karya Aryanti pada dasarnya merupakan persoalan-persoalan yang juga dihadapi oleh sebagian puan pada masa kini. Jika salah satu problem pemberdayaan perempuan adalah ejekan misoginis bahwa perempuan, berbeda dari kaum pria, tidak memiliki model, teladan, baik dalam realitas ataupun fiksi generasi para puan terdahulu, maka perempuan-perempuan dalam karya Aryanti ataupun sosok Aryanti sendiri bisa menjadi opsi untuk menjadi salah satu teladan di samping berbagai teladan dari para penulis perempuan lain yang sudah lebih dahulu kita ketahui.

Pembahasan mendalam tentang karya-karya penulis perempuan Generasi Femina, termasuk Aryanti, masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan sangat banyaknya karya yang mereka lahirkan terutama selama dua dekade 1975-1995. Tulisan ini, pada akhirnya, sekadar pancingan sederhana yang semoga berhasil mendorong tulisan kritikus-kritikus kontemporer lain, para puan dan tuan yang sama percaya bahwa Historiografi Sastra kita tidak akan utuh sungguh sepanjang para penyusunnya kekeh mengabaikan karya-karya Generasi Femina. Karya-karya tersebut, kita tahu, selama ini kerap dimarjinalkan oleh label “karya-karya pop” atau “karya-karya populer” yang makin lama makin tampak sebagai foto sepia dalam album kritik sastra kita. Terima kasih.

Referensi

Anwar, Ahyar. 2009. Geneologi Feminis: Dinamika Pemikiran Feminis dalam Novel Pengarang Perempuan Indonesia 1933-2005. Jakarta: Republika.

Aryanti. 1981. Hidup Perlu Akar. Jakarta: Gaya Favorit Press.

___. 1982. Dunia Tak Berhenti Berputar. Jakarta: Gaya Favorit Press.

___. 1983 (cet. II). Selembut Bunga. Jakarta: Gaya Favorit Press.

___. 1983b. Wisata. Buklet Novelet Femina.

___. 1985. Tanggung Jawab. Buklet Novelet Femina.

___. 1985b. Kemelut di Masa Senja. Buklet Novelet Femina.

___. 1987. Kaca Rias Antik. Jakarta: Gaya Favorit Press.

___. 1988. Hotel. Buklet Novelet Femina.

Damono, Sapardi Djoko. 1980. Cynthia dan Krisisnya. Diakses pada 29 Agustus 2023 dari https://majalah.tempo.co/read/buku/52395/cynthia-dan-krisisnya.

___. 1999. “Perempuan, Sastra, femina”, dalam Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), hal. 223-233.

Danardana, Agus Sri. 2004. Peran Majalah Hiburan Tahun 1970-1980 dalam Perkembangan Kesusastraan Indonesia Modern. Jakarta: Pusat Bahasa.

Djokosujatno, Apsanti. 1990. “Cerita Fantastik dan Bentuk-Bentuk Antaranya: Telaah Bandingan Tiga Cerita Pendek Perancis dengan Tiga Cerita Pendek Indonesia”. Jakarta: Fakultas Pasca Sarjana UI. Disertasi.

Eneste, Pamusuk. 2001. Bibliografi Sastra Indonesia. Magelang: Indonesiatera.

Faruk. 2000. Women Womeni Lupus. Magelang: Indonesiatera.

Federici, Silvia. 2018. Witches, Witch-Hunting, and Women. California: PM Press.

Jiwa Atmaja, Made. 2017. “Protagonis Perempuan Empat Novel Aryanti dalam Pembacaan Subaltern Poskolonialisme”. Pustaka: Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya, [S.l.], v. 17, n. 1, hal. 1-16, feb. ISSN 2528-7516. 

Junaedhie, Kurniawan. 2012. Profil Perempuan Pengarang & Penulis Indonesia. Jakarta: Kosa Kata Kita.

Kratz, Ernst Ulrich. 1988. Bibliografi Karya Sastra Indonesia dalam Majalah: Drama, Prosa, Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Mackay, Christopher S. 2009. The Hammer of Witches: A Complete Translation of the Malleus Maleficarum. New York: Cambridge University Press.

Mahayana, Maman S., Oyon Sofyan, dan Achmad Dian. 2007. Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern. Jakarta: Grasindo.

Mawardi, Bandung. 2019. Pencerita dan Biru. Diakses pada 28 Agustus 2023 dari https://basabasi.co/pencerita-dan-biru/.

Murywantobroto. 2007. Mengenal Psikoanalisis Sigmund Freud: Das Unheimliche. Modul. Tidak Diterbitkan.

Rampan, Korrie Layun. 1991. Apresiasi Cerita Pendek 1: Cerpenis Wanita. NTT: Nusa Indah.

Rizal, Ray. 1988. “Kaca Rias Antik, Irasional”, dalam Majalah Horison (9/XXIII), hal. 304-305.

Rustapa, Anita K. 1992. Tokoh Wanita dalam Novel Indonesia Tahun 1920-1980-an. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Santosa, Puji. 2002. “Jangan Sangka Saya Mimpi”, dalam Kakilangit Majalah Horison (72/12), hal. 6-8.

__. 2002b. “Sang Penggali Nilai-Nilai Tradisional”, dalam Kakilangit Majalah Horison (72/12), hal. 9-11.

Santosa, Puji dan Djamari. 2014. Apresiasi Sastra Disertai Ulasan Karya, Proses Kreatif, dan Riwayat Sastrawan. Yogyakarta: Elmatera.

Soebadio, Haryati. 1985. Jñānasiddhânta. Jakarta: Djambatan.

___. 1990. Getaran-Getaran. Jakarta: Djambatan.

Soebadio, Haryati dan Saparinah Sadli. 1990b. Kartini: Pribadi Mandiri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Soebadio, Haryati, dkk. 1997. Kajian Astabrata: Pendahuluan dan Teks. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Sumarjo, Jakob. 1982. Novel Populer Indonesia. Yogyakarta: Nur Cahaya.

Sugono, Dendy (ed.). 2003. Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern. Jakarta: Pusat Bahasa.

Supardi, Nunus. 2016. Melacak Jejak Direktur Jenderal Kebudayaan: Setengah Abad Direktorat Jenderal Kebudayaan 1966-2016. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Suryaman, Maman, dkk. 2012. Sejarah Sastra Indonesia Berperspektif Gender. Yogyakarta: LeutikaPrio.

Walby, Sylvia. 1991. Theorizing Patriarchy. Oxford: Basil Blackwell.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Tentang Penulis

Tentang Penulis

Cep Subhan KM. Lahir di Ciamis tanggal 6 Juni. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi bersama Ludah Surga (2006) dan Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf (2007), sementara beberapa puisinya diikutkan dalam antologi penyair muda Ciamis Kota Menjadi Kata (2017). Sudah menerbitkan novel Serat Marionet (2011) dan dwilogi Yang Tersisa Usai Bercinta (2020) dan Yang Maya Yang Bercinta (2021), dan satu buku puisi, Hari Tanpa Nama (2018). Satu novelnya yang lain, Kosokbali (2021), bisa dibaca di portal Kwikku. Esai-esainya tersebar dalam Jurnal Sajak, Jurnaba.co, dan beberapa media daring lain. Esai kritik sastranya menjadi Pemenang II Sayembara Kritik Sastra DKJ 2022 dan Juara 2 Lomba Kritik Sastra Dunia Puisi Taufiq Ismail 2023.