Trio Tifa Bung Smas: Rawamangun dan Anak yang Bercanda dengan Kemiskinan

WARUNG makan itu lumayan luas, makin tampak luas karena ketika saya datang hanya satu meja terisi: seorang bapak usia empat puluhan dan dua orang anak berseragam sekolah. Saya taksir yang satu usia sebelasan dan yang satu tampaknya adiknya, mungkin sembilan tahunan. Kedua anak itu tampak lahap menikmati nasi berlauk telur dadar. Di meja ada 3 gelas teh panas. Si bapak tampak mengamati kedua anak itu makan. 

Saat saya mulai makan, seorang ibu gojek berjin lusuh datang memesan teh. Lalu seorang kurir jasa antar, rapi, berkumis tebal memesan kopi. Saat saya usai makan, datang seorang anak muda berambut polem, poni lempar, memesan mi goreng, kemudian duduk di pojok dan asyik dengan hpnya. Warung makan itu warung makan murah langganan saya, tersedia juga koneksi internet gratis. Kalau malam pasti penuh anak muda main game, mirip warung kopi.

Saat itu pukul 6 pagi lewat sedikit. Saat saya usai makan, saya lihat dua anak sekolah tadi masih belum selesai makan. Si bapak tampak sedang melakukan video call, terdengar suara cadel membalas, mungkin di seberang sana anaknya yang lain. 

Saya tatap dua anak yang masih asyik melahap nasi telur. Nasi telur itu seharga 10 ribu rupiah. Tambah teh panas 3 ribu rupiah. Lalu saya teringat dua dari tiga Trio Tifa, Fia dan Iwon.

Trio Tifa adalah Seri cerita anak karangan Bung Smas. Terdiri dari empat jilid. Secara berurutan: Potret Bromocorah (Gramedia, 1984), Tato Gambar Naga (Gramedia, September 1984), Tiga Sandera (Gramedia, November 1984), Menculik Sang Pematung (Gramedia, Oktober 1985). Gambar kover dan ilustrasi-ilustrasi dalam semua seri digarap oleh Nono S.

Hasil pindai kover Potret Bromocorah
Hasil pindai kover Tato Gambar Naga
Hasil pindai kover Tiga Sandera
Hasil pindai kover Menculik Sang Pematung

Bung Smas termasuk penulis fiksi anak yang produktif pada tahun 1980-an. Smas, sebagaimana dikisahkan oleh Anton Kurnia dalam salah satu tulisannya, adalah singkatan nama asli sang penulis, Slamet Mashuri.1Berdasarkan tulisan Benny Rhamdani yang dikutip di zonadjadoel disebutkan bahwa Smas juga bisa berarti Sofiah Mashuri, Bung Smas ternyata “punya lebih dari selusin nama pena saat berkarya”. Informasi biografis berikut beberapa seri karangan Bung Smas juga bisa dibaca dalam tulisan Yadi Bakri di Spot 19 Tangsel.Berdasarkan tulisan Anton Kurnia, Slamet Mashuri menghabiskan masa kecil di Pekalongan, Jawa Tengah, kemudian saat Anton Kurnia melakukan wawancara, sang penulis sudah berusia 64 tahun dan bermukim di Bekasi.2Tidak tercantum informasi kapan Anton Kurnia melakukan wawancara itu, tetapi pada pengantar buku kumpulan tulisannya disebutkan tulisan-tulisan di dalam buku pernah dipublikasikan dalam rentang antara Maret 2014 dan November 2016. Sementara dalam tulisan Thamrin Sonata di Kompasiana, dipublikasikan 20 September 2017, disebutkan bahwa Slamet Mashuri adalah tetangganya di “bilangan jalan terkenal di Pemalang, Jawa Tengah”. Thamrin mengisahkan pengalamannya pada tahun 1980

runtang-runtung dengan Bung Smas yang tinggal di daerah Klender, Jakarta Timur. Sebuah kawasan dibilang pinggiran, waktu itu. Berkesan kampungan. Ya, karena rumah kontrakan Bung Smas tempatnya becek kalau hujan. Namanya Jalan Haji Nafsin.

Tulisan Thamrin lumayan panjang dan penting, menginformasikan perjalanan di dunia kepenulisan pada tahun 1980-an, terutama perjumpaannya dengan beberapa penulis terkenal: Bung Smas, Kho Ping Khoo, Arswendo Atmowiloto. Dari tulisannya juga kita bisa tahu kalau Bung Smas adalah guru olahraga. Pada era 1980-an, dengan staminanya yang luar biasa, Bung Smas bisa menyelesaikan satu novel anak dalam dua puluh empat jam, dengan menggunakan mesin tik.

Bisa jadi termasuk judul-judul seri Trio Tifa. Trio Tifa menyajikan kisah petualangan tiga orang anak: Tress, Iwon, dan Fia. Kisah penciptaan nama kelompok mereka disajikan dalam buku pertama atas usul Tress (hal. 102-105), pemberi nama adalah Iwon yang dianggap jago bahasa. Iwon memang digambarkan sering bertengkar dengan Fia karena dia suka mengomentari cerpen-cerpen Fia dari sudut pandang tata bahasa yang baik dan benar. Tifa adalah singkatan nama mereka, Tress, Iwon, Fia, sekaligus—Iwon mengutip Kamus Umum Bahasa Indonesia—“gendang kecil tapi merdu” dari Maluku.  

Dalam masing-masing judul, ketiganya menghadapi satu kasus kejahatan yang kemudian mereka selesaikan. Dalam jilid pertama (151 halaman) mereka terlibat dengan kasus penculikan bintang film George Hamijaya, dalam jilid kedua (144 halaman) kasus pemerasan di balik tawuran dua geng, dalam jilid ketiga (120 halaman) kasus perampokan di acara pameran buku internasional, dan dalam jilid keempat (152 halaman) kasus tabrak lari di masa silam yang merembet pada penculikan Iwon.

Iwon, nama aslinya Kliwon, berasal dari satu kampung di lereng gunung Slamet. Dia kemudian menumpang di rumah kakaknya, Milah, sambil membantu-bantu kakak iparnya yang mengelola studio foto kecil bernama Studio Foto Della, Bang Ifar. Bang Ifar digambarkan sangat cerewet soal uang karena penghasilannya yang pas-pasan, maka sepanjang cerita Iwon sering menjadi tukang potret untuk tulisan-tulisan Tress supaya dia pun bisa mendapatkan uang untuk membantu membeli susu buat Della, putri Bang Ifar. Karena peraturan Bang Ifar jelas bahwa tiap kali Iwon meminjam kameranya maka dia harus pulang membawa uang, kerap kali pula bayaran untuk Iwon dibayar di muka, baik dari Tress ataupun dari bapak Tress.

Tress Ragapadmi adalah putri pak Didat Haryosebrang, pemilik sekaligus pemred harian terkenal Gegap. Tress mewarisi minat ayahnya dengan ketertarikannya pada jurnalisme, meski dia kerap kali malas menulis untuk koran ayahnya karena enggan tulisannya dimuat bukan karena bagus tetapi karena posisi dia sebagai putri pak Didat.

Jika Tress suka pada jurnalisme, Fia sebaliknya suka menulis fiksi. Nama lengkapnya Marfianti, dia rutin menulis cerpen di majalah anak-anak Karib. Tress dan Fia pertama bertemu di kantor redaksi majalah tersebut saat mereka berdua sama-sama diundang sebagai “redaktur tamu”. Fia membiayai sekolahnya dari honor yang dia peroleh. Fia juga kerap kerja sambilan menunggu lapak burung Pak Salim di Jalan Pramuka.  

Cerita-cerita petualangan Trio Tifa disajikan dengan memikat. Akan tetapi aspek paling menarik adalah karakterisasi tiga tokoh utamanya yang kuat, satu aspek yang akan sangat berpengaruh untuk pendidikan karakter pembaca, termasuk cara Tress dikontraskan dengan Fia. Tress disebutkan tinggal di “keramaian daerah Rawamangun yang penuh rumah mewah” (hal. 19). Sementara Fia pertama-tama selalu mengatakan tinggal di Utan Kayu, tetapi kemudian ketahuan lewat cerita bapaknya yang mantan bromocorah bahwa dia tinggal di Rawasari, di rumah miring dan kecil “mirip kandang merpati” dan terbuat dari “papan bekas peti sabun”, terletak sangat dekat dengan jalan, dipisahkan oleh selokan berbau busuk karena sampah yang menyumbat. 

Namun ketika Tress dan Iwon pertama kali main ke rumah Fia, yang menangis sedih melihat kondisi rumah Fia adalah Tress, sementara Fia tampak santai dan malah bercanda

“Coba kaupotret aku, Won! Aku berdiri di sini, kau berdiri agak ke samping situ. Jadi potretku nanti punya dua macam latar belakang. Yang separuh dinding papan ini, yang separuh lagi rumah gedung itu. Orang kan nggak nyangka yang berdinding papan rumahku? Tampang begini mestinya tinggal di gedung itu, ya? Kalau tampang Iwon, baru pantas tinggal di sini!”

Potret Bromocorah, hal. 92

Atau ketika Tress bertanya

“Kau lagi susah, Fia? Kenapa?”

“Aku sih memang susah terus. Eh, sebenarnya kau mau ngajak ke mana, sih? Makan es kelapa muda, yuk! Tapi kau yang traktir, ya?”

Potret Bromocorah, hal. 93

Fia selalu menanggapi keterharuan orang atas kemiskinannya dengan bercanda. Tress, sebaliknya, adalah profil anak gedongan yang mengira Iwon—yang kerap kali numpang sarapan di rumahnya, tetapi minimal berumah normal—adalah anak termiskin di dunia sehingga ketika menemukan Fia yang ternyata lebih miskin dari Iwon lantas merasa terharu. Iwon sendiri tidak kaget, rumah emaknya di lereng utara gunung Slamet, bagi dia, lebih buruk dari rumah Fia.

Suatu hari Tress dan Iwon menjemput Fia untuk pergi ke Pameran Buku Indonesia di Balai Sidang Senayan. Tress mendapat tugas mewawancarai para pengunjung untuk tulisan koran Gegap. Di rumah Fia, mereka melihat rok lengan pendek Fia yang basah sedang disungkupkan pada petromaks supaya cepat kering. Ketika Tress dengan sedih menawari Fia untuk meminjam roknya, Fia menjawab

“Ke Balai Sidang saja pinjam rok!” cetus Fia. Seolah dia sombong. Tapi sebenarnya tidak. Dia gadis kecil yang bersahaja. Tak mau sok-sokan. Kalau tidak punya, tak usah berlagak punya. Begitu pendapatnya. “Kalau mau pinjam sih, mendingan pinjam hidungmu yang mancung saja! Biar jangan amblas begini!”     

Tiga Sandera, hal. 13

Akhirnya mereka pergi juga dengan Fia—atas usul Iwon yang mengatakan baju basah kalau dipakai nanti akan kering sendiri—memakai rok yang belum benar-benar kering. Ternyata Fia sebenarnya salah satu bintang tamu pameran tersebut karena novelnya disukai banyak fan dan di acara itu ada sesi tanda tangan.

Pada seri terakhir Trio Tifa, Menculik Sang Pematung, bagian akhir cerita ditutup dengan ide Benny untuk rujakan di rumah Fia. Tress khawatir soal sikap Benny, Teguh dan kawan-kawan yang merupakan anak-anak orang kaya saat nanti mengetahui kondisi rumah Fia, penulis cilik idola mereka, tetapi Fia seperti biasa menyanggupi dengan riang.

Betapa sederhananya gadis kecil itu. Ia tak malu bila orang menyaksikan rumahnya yang miring ke kiri, yang pagarnya rombeng, dan atapnya bocor. Sementara itu, dia dipuja di mana-mana, dia dikerumuni orang setiap kali dia ikut pameran buku tingkat dunia di Balai Sidang…

Sedangkan dalam kemiskinan diri sendiri, dia sering berbuat sesuatu untuk kebahagiaan orang lain. Seperti yang telah dilakukannya bersama trionya, yang telah mengubah hidup Pak Adang sekeluarga.

Menculik Sang Pematung, hal. 152

Begitulah Trio Tifa, kelompok tiga anak dengan segala keterbatasan dan kekhasan mereka. Tress anak gedongan yang kepala batu, blak-blakan, sekaligus gampang terharu. Iwon anak kampung yang berhadapan dengan kehidupan kota yang keras, kerap mengeluh dan menjadi sasaran didikan realistis kata-kata keras Bang Ifar tetapi sama-sama sangat menyayangi si kecil Della. Fia yang lembut dan hidupnya paling susah tetapi sekaligus paling santai dan paling riang. Kondisi ekonomi bukan alasan untuk menampilkan wajah muram anak-anak, miskin ataupun kaya setiap anak berhak untuk tampil riang.

Di luar warung makin terang. Saya masih menghabiskan teh sambil menyelesaikan membaca seri Creepy Case Club karangan Rizal Iwan di Gramedia Digital  saat si bapak dan dua anaknya lewat samping meja. Si bapak menghidupkan motor, kedua anaknya lalu membonceng dengan anak yang lebih besar duduk paling belakang. Saya mengamati sepeda motor itu berlalu sambil diam-diam berdoa semoga mereka bahagia di sekolah, menikmati masa indah kanak-kanak yang tak pernah berulang. Semoga mereka berjumpa dengan kawan-kawan seperti Trio Tifa. Salam.

Referensi

Kurnia, Anton. 2017. Dalam Bayangan Bendera Merah. Yogyakarta: Basabasi.

Smas, Bung. 1984. Potret Bromocorah. Jakarta: Gramedia.

_. 1984. Tato Gambar Naga. Jakarta: Gramedia.

_. 1984. Tiga Sandera. Jakarta: Gramedia.

_. 1984. Menculik Sang Pematung. Jakarta: Gramedia.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Tentang Penulis

Tentang Penulis

Cep Subhan KM. Lahir di Ciamis tanggal 6 Juni. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi bersama Ludah Surga (2006) dan Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf (2007), sementara beberapa puisinya diikutkan dalam antologi penyair muda Ciamis Kota Menjadi Kata (2017). Sudah menerbitkan novel Serat Marionet (2011) dan dwilogi Yang Tersisa Usai Bercinta (2020) dan Yang Maya Yang Bercinta (2021), dan satu buku puisi, Hari Tanpa Nama (2018). Satu novelnya yang lain, Kosokbali (2021), bisa dibaca di portal Kwikku. Esai-esainya tersebar dalam Jurnal Sajak, Jurnaba.co, dan beberapa media daring lain. Esai kritik sastranya menjadi Pemenang II Sayembara Kritik Sastra DKJ 2022 dan Juara 2 Lomba Kritik Sastra Dunia Puisi Taufiq Ismail 2023.