Kosmos Perempuan Modern Aryanti: Dari Soal Pasangan dan Pelakor Sampai Hak untuk Tak Punya Anak

Aryanti, Haryati Soebadio, Penulis Perempuan

Aryanti adalah nama samaran Prof. Dr. Haryati Soebadio yang dicantumkan dalam karya-karyanya selain novel "Getaran-Getaran" dan 6 adaptasi cerita anak. Seperti apa citra perempuan modern dalam karya-karya penulis perempuan yang termasuk Generasi Femina ini?

Meretas Patriarki dengan Sitasi dan Bibliografi Canggung

Buku Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan: Psikologi Feminis untuk Meretas Patriarki (EA Books, 2020) menawarkan gagasan-gagasan menarik dan penting. Akan tetapi sitasi di dalamnya terkait Psikoanalisis dan peran Sabina Spielrein perlu ditinjau ulang.

Parateks, Metateks, dan Interteks “Waktu yang Tepat untuk Melupakan Waktu”

Antologi puisi M. Aan Mansyur, Waktu yang Tepat untuk Melupakan Waktu (Shira Media, 2021), memuat 36 puisi disertai 9 ilustrasi menawan. Apa yang ditawarkan oleh puisi-puisi dalam antologi yang dikemas eksklusif ini?

Mengunjungi Kembali Maria Pinto, Natalie, dan Afair-Afair Lain

"Kuda Terbang Maria Pinto" adalah salah satu antologi cerpen legendaris dalam kesastraan kita. Antologi ini memenangi Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2004 untuk kategori Fiksi. Seperti apa gambaran cerpen-cerpen di dalamnya dari sudut pandang Psikoanalisis?

Di Seberang Kata dan Tanda Baca, “Ia Meminjam Wajah Puisi”

Antologi "Ia Meminjam Wajah Puisi" (Yogyakarta: Basabasi, 2020) memuat 52 puisi Aya Canina periode 2017-2019. Puisi-puisi lirik di dalamnya banyak memuat ironi tentang puisi sebagai konsep: di satu sisi puisi menjadi cara merayakan, rumah, dan cara bertahan; di sisi lain dalam beberapa situasi justru menunjukkan "ketidakmemadaian bahasa".

Site Footer

Sliding Sidebar

Tentang Penulis

Tentang Penulis

Cep Subhan KM. Lahir di Ciamis tanggal 6 Juni. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi bersama Ludah Surga (2006) dan Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf (2007), sementara beberapa puisinya diikutkan dalam antologi penyair muda Ciamis Kota Menjadi Kata (2017). Sudah menerbitkan novel Serat Marionet (2011) dan dwilogi Yang Tersisa Usai Bercinta (2020) dan Yang Maya Yang Bercinta (2021), dan satu buku puisi, Hari Tanpa Nama (2018). Satu novelnya yang lain, Kosokbali (2021), bisa dibaca di portal Kwikku. Esai-esainya tersebar dalam Jurnal Sajak, Jurnaba.co, dan beberapa media daring lain. Esai kritik sastranya menjadi Pemenang II Sayembara Kritik Sastra DKJ 2022 dan Juara 2 Lomba Kritik Sastra Dunia Puisi Taufiq Ismail 2023.