Osamu Dazai dan Optimisme setelah Matahari Terbenam

MATAHARI TERBENAM (Odise Publishing, 2021) adalah sebuah novel murung tersusun dari delapan bab. Diterbitkan setahun sebelum Osamu Dazai (1909-1948) menenggelamkan diri, novel yang biasa dianggap sebagai salah satu karyanya yang paling populer ini dibuka dengan tangisan dan ditutup dengan pemberian gelar baru untuk seniman generasi lama yang sebelumnya dipuja tokoh utama: Teruntuk Chekhov-ku. Pelawak hidupku.

Sebutan terakhir itu sekaligus menutup surat terakhir Kazuko untuk Uehara Jiro, novelis yang dekaden karena kakinya terpacak pada tatanan lama yang sedang runtuh. Sebagaimana ibu Kazuko, Uehara Jiro adalah simbol sisa generasi lama dari kelas yang berbeda, yang satu kelas ningrat, yang satu kelas petani (yang kemudian mengalami kenaikan kelas karena kapital budaya sebagai novelis). Akan tetapi jika sampai kematiannya Kazuko memperlakukan ibunya sebagai sosok yang agung, sebagai “nyonya bangsawan terakhir di Jepang” (hal. 139), sikapnya terhadap Uehara Jiro berbeda: semula dia dengan nada kagum disebut Chekhovku, lalu di akhir dia disebut pelawak hidupku (My Comedian).

Mungkin sebabnya sikap berbeda sang ibu dengan Uehara Jiro terhadap tatanan baru. Ibu Kazuko tak memperlihatkan penentangan saklek, dia menerima tatanan baru dengan segala perubahannya sebagai sesuatu yang tak bisa dihalangi, meski dia bukannya tak merasa sedih. Uehara Jiro, sementara itu, adalah novelis yang mengaku “kehilangan daya cipta” tetapi juga mencibir bahwa “tunas baru pun kehilangan dayanya.” (hal. 159).

Dengan kata lain: Uehara merayakan keruntuhan aristokrat lama yang dia benci sekaligus juga pesimis tentang kehadiran tatanan baru. Dia terpaku pada khayalan utopia seorang anak petani yang mengenang “hari-hari di mana aku biasa memancing ikan mas atau menangkap ikan kecil dengan jaring di sungai kampung halaman.” (hal. 161).

Maka kita menyaksikan penggambaran berbeda juga dalam hak fisik sebagai efek dari bagaimana dua karakter itu menghadapi ketidakpastian sekitar. Menjelang kematiannya, ibu Kazuko digambarkan mengalami pembengkakan di tangan dan wajah, tetapi pembengkakan itu hilang selepas dia meninggal. Simak gambaran ini:

…pipinya kini semulus lilin. Bibir pucatnya sedikit melengkung, seolah sedang tersenyum. Ibu nampak lebih menawan melebihi saat ia masih hidup. Terlintas dalam pikiranku bahwa Ibu kelihatan seperti Bunda Maria dalam [lukisan] Pietà.

Matahari Terbenam, hal. 140

Sementara Uehara Jiro? Pada bagian awal kisah afair Uehara dan Kazuko, dia digambarkan sebagai memiliki penampilan yang membuatnya “terlihat muda sekaligus tua di saat bersamaan,” sedemikian anehnya sampai-sampai bagi Kazuko dia tampak seolah merupakan binatang langka yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Akan tetapi di bagian pertemuan akhir, setelah enam tahun, dia digambarkan sebagai berikut:

Rambutnya awut-awutan sebagaimana dulu, tapi sayang kini tidak lagi berkilau dan sudah menipis. Wajahnya menggembung dan malis, dengan lingkaran bawah mata merah pekat. Sekian gigi depannya rontok, dan mulutnya terus berkecumik. Bagiku dia tampak seperti monyet bangkotan tengah jongkok dengan punggung membungkuk di pojok ruangan itu.

Matahari Terbenam, hal. 150

Kontras metamorfosis fisik pada dua karakter ini bisa dianggap sebagai pandangan ideologis Kazuko, sebagai narator sekaligus karakter, sebagaimana juga sah-sah saja untuk memandangnya sebagai pandangan yang juga dianut penulisnya, Osamu Dazai. Kazuko sedih dengan kematian sang ibu, generasi lama aristokrat, tetapi dia tak merasa kematian itu lantas membuat hidup tak lagi memiliki arti seperti yang diyakini Naoji yang kemudian bunuh diri “dengan sadar.” Kazuko juga tidak sama dengan Uehara yang bersikap pesimis lantas mencari pelarian dengan minum-minum dan mengabaikan keluarganya.

Kazuko, dalam hal ini, adalah simbol sikap optimis di tengah ketidakpastian segala hal akibat Perang.

*

Matahari Terbenam adalah novel murung, tersusun dari delapan bab pepat kesengsaraan, tetapi justru karena itu maka optimisme yang hanya setitik pun di dalamnya menjadi tampak sangat berharga. Perang berikut kerisauan manusia menghadapi perubahan yang menyongsong terbit kembalinya matahari besok memang sering digambarkan dalam banyak karya sastra, termasuk dalam Trilogi Kairo Najib Mahfuz (1911-2006) ataupun dalam karya penulis Jepang lain yang biasa disebut sebagai penerusnya: Yukio Mishima (1925-1970).

Baca juga: Ulasan Kumpulan Cerpen Yukio Mishima Bocah Lelaki yang Menulis Puisi

Namun, Dazai tak segarang Mishima meski keyakinan yang mereka pegang tak banyak beda. Mishima adalah sosok lempang yang menginginkan moralitas lama seutuhnya hidup kembali, sementara Dazai, melalui Kazuko, mengungkapkannya dengan lebih toleran: ia menarik kembali moralitas lama untuk kembali hidup, sekecil apa pun, ia “akan terus menggumuli moralitas lama, seperti sinar matahari.” (hal. 189).

Apa yang biasa membuat orang risau tentang keruntuhan tatanan lama akibat kecamuk perang adalah tercerabutnya akar karena datangnya sesuatu dari luar. Sejak awal Matahari Terbenam sudah menyajikan Kazuko sebagai “pembakar” sebanyak dua kali: pertama ia mencoba membakar telur-telur ular karena menduganya ular berbisa, kedua, ia tanpa sengaja hampir membakar rumah tempatnya tinggal bersama ibunya.

Ular, dalam novel tersebut, digambarkan hadir saat kematian ayahnya maupun ibunya, dengan demikian menyimbolkan tatanan lama. Rumah yang hampir terbakar adalah rumah setelah mereka pindah dari rumah lama. Bahwa rumah itu kemudian tidak jadi terbakar menyimbolkan pergolakan psikologis Kazuko sebagai generasi peralihan yang masih memiliki tautan erat dengan tatanan lama itu. Rasa bersalah yang sama juga kita temukan ketika Kazuko kelak ditunjukkan merasa bahwa kematian ibunya merupakan balas dendam si ular karena Kazuko dulu mencoba membakar telur-telur ular tersebut.

Namun, dalam jeda antara dua peristiwa itu, kita melihat perubahan Kazuko sebagai round character, karakter kompleks.1karakter cerita yang sifatnya mempunyai lebih dari satu dimensi, biasanya merupakan karakter utama. Kita melihat bahwa sejak awal misalnya Kazuko berbeda dengan ibunya bahkan dalam tata cara makan sup, dia menyukai “bunga mawar di muka beranda yang dibawa Paman Wada dari Prancis” atau Inggris (hal. 61), ia membaca novel-novel novelis lokal Uehara Jiro tetapi juga D.H. Lawrence, Nietzsche, mengutip lakon Anton Chekhov dengan fasih, The Cherry Orchard (Kebun Ceri) dalam obrolannya dengan seorang seniman yang meminangnya, dan dalam salah satu suratnya dia mengundang Uehara Jiro untuk “memakai ruang gaya barat pada lantai dua rumah kami.” (hal. 105).

Dengan kata lain, meski tetap berpijak pada tatanan lama, tetapi apa yang “datang dari luar” itu mau tak mau mempengaruhi dia. Dia berbeda dengan ibunya yang menyukai roman-roman Victor Hugo, Dumas pere et fils, Musset dan Daudet yang dia sebut sebagai roman picisan, dan bukan tak sengaja jika dia membaca Rosa Luxemburg, Lenin, dan Kautsky, lalu di bagian akhir dia bisa menerima revolusi sebagai sesuatu yang tak bisa dihalangi dan pasti memakan korban tatanan lama, meski korban yang mulia: ibunya, Uehara, Naoji.     

Bagian paling menarik dari evolusi karakter Kazuko muncul dalam obrolan dia dengan Uehara dalam perjalanan menuju penginapan. Di bagian itu Kazuko mengucapkan analogi cecabang pohon-pohon. Bagi dia, apa yang paling indah bukan bunga, daun, atau kuncupnya, melainkan bahwa bahkan ketika “pohon-pohon itu meranggas sempurna, mereka masihlah hidup. Mereka belum lagi kering.” (hal. 160). Jika zaman keluarga aristokrat ibu Naoji dan Kazuko adalah zaman manusia di bumi pra-Pandora, perang membuka peti itu dan menyebarkan kesengsaraan dan ketidakpastian, maka Dazai menunjukkan satu hal yang jarang dibahas ketika orang mendongengkan kisah Pandora: pada dasar peti itu ada sesuatu bernama Harapan.

Kita menemukan Harapan itu dalam banyak hal sepanjang novel. Ibu Naoji dan Kazuko yang tak pernah disebutkan namanya, mengindikasikan seolah zaman dia eksis pada suatu saat yang jauh, kematiannya yang memuat perlambang sama dengan kematian sang ayah, kepala keluarga, dalam bentuk mitos ular, Kazuko yang merasa bahwa dirinya adalah penyebab kematian itu, lalu dua bayi dari Naoji dan Kazuko, simbol generasi baru. Masa peralihan selalu memunculkan gejolak ketidakpastian seperti yang dihadapi Naoji dan Kazuko, tetapi kemudian tatanan baru akan muncul seiring lahirnya generasi baru.

Kita boleh menduga Dazai menaruh harapan banyak pada generasi baru ini termasuk bahwa kebaruan mereka tidak lantas membuat mereka menjadi orang-orang seperti Naomi dalam novel berjudul sama anggitan Junichiro Tanizaki (1886-1965) yang terbit tahun 1925, orang-orang yang terenggut dari “akar”: sesuatu yang tersembunyi tetapi eksis, seperti ular. Mungkin itu pula alasannya dia menyusun novel ini dalam delapan bab.2Edisi terjemahan ini memuat kesalahan tata letak sehingga babnya hanya berjumlah tujuh, bab wasiat Naoji (hal. 166) tidak tertata sebagai satu bab khusus. Angka delapan (hachi), dalam tradisi Jepang, adalah simbol harapan, simbol terbukanya segala kemungkinan, sebagaimana tergambar dari penulisannya yang mirip lorong sempit yang kian ujung kian melebar.

Jogja, Komunitas Imajiner, 2021.

1 comments On Osamu Dazai dan Optimisme setelah Matahari Terbenam

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Tentang Penulis

Tentang Penulis

Cep Subhan KM. Lahir di Ciamis tanggal 6 Juni. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi bersama Ludah Surga (2006) dan Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf (2007), sementara beberapa puisinya diikutkan dalam antologi penyair muda Ciamis Kota Menjadi Kata (2017). Sudah menerbitkan novel Serat Marionet (2011) dan dwilogi Yang Tersisa Usai Bercinta (2020) dan Yang Maya Yang Bercinta (2021), dan satu buku puisi, Hari Tanpa Nama (2018). Satu novelnya yang lain, Kosokbali (2021), bisa dibaca di portal Kwikku. Esai-esainya tersebar dalam Jurnal Sajak, Jurnaba.co, dan beberapa media daring lain. Esai kritik sastranya menjadi Pemenang II Sayembara Kritik Sastra DKJ 2022 dan Juara 2 Lomba Kritik Sastra Dunia Puisi Taufiq Ismail 2023.