Kumpulan Kisah Tak Sadar dalam “Isyarat Cinta yang Keras Kepala” Puthut EA

1

TINDAKAN menulis itu menanggung arti persetubuhan, demikian Sigmund Freud menyatakan dalam Inhibitions, Symptoms, and Anxiety (1926). Freud memang hanya menyinggung sekilas soal menulis, dia lebih fokus pada aspek “cara menulis” bukan pada “apa yang ditulis”. Berdasarkan postulat itu, lima belas cerpen Puthut EA dalam Isyarat Cinta yang Keras Kepala bisa dikatakan sebagai rahasia kamar yang penulisnya bukakan pada dunia.

Lima belas cerpen dalam antologi memang banyak memberikan tema yang sudah lazim kita temukan dalam cerpen-cerpen di surat kabar, tetapi ada juga yang menawarkan “apa” yang baru. Cerpen “Seseorang Pergi Mencari” (hal. 147-156) misalnya, menyodorkan kisah unik, dengan akhir mungkin berbeda dengan yang kita harapkan.

Cerita yang satu ini memberikan lanskap yang akan membuat orang-orang kota terpinga-pinga. Yang magis dan yang tidak berkelindan penuh harmoni dalam kehidupan sehari-hari: sesuatu yang sukar ditemukan dalam kehidupan perkotaan zaman sekarang, setidaknya di permukaan.

Lantas cerita seperti membawa kita kembali ke masa lalu. Masa lalu, pada dasarnya bukan hanya dipisahkan dari masa kini oleh jarak waktu, akan tetapi juga oleh jarak geografis. Kisah disajikan mengingatkan kita pada cerita silat ala Bastian Tito, tetapi dengan tambahan aspek puitisme dan bobot: kisah ini mencoba mengingatkan kita tentang “masa lalu” yang mungkin kita lupakan karena kita terlalu modern.

Lihat misalnya bagian akhir kisah yang benar-benar khas Puthut: cerita yang kita nikmati sejak awal ternyata diceritakan oleh “seseorang yang pergi mencari” kepada si aku. Si aku-lah yang menjadi pencerita kisah itu pada kita, lengkap dengan penjelasan seperti apa caranya sampai kisah itu tercipta yang disajikan di akhir cerita. 

Namun, apa yang lebih menarik dari cerita-cerita yang didongengkan bukan semata kisah, melainkan bagaimana kisah itu disajikan. Ada gejala puitisme yang bahkan sudah bisa kita rasakan saat kita membaca “Kamu, Ia, dan Kota Asing” yang merupakan cerita pembuka antologi ini. Puitisme itu kemudian mencapai puncaknya dalam “Kitab Laknat: Mukadimah”, turun sedikit ke cerita terakhir “Tanpa Tanda Seru: Tiga Penggal Prosa Lirik”, kemudian kembali luruh menyodorkan puitisme lain dalam cerita yang dijadikan judul antologi ini: “Isyarat Cinta yang Keras Kepala”.

Kalau harus memilih, dengan segala subjektivitas, dari semua cerita yang disajikan, “Kitab Laknat: Mukadimah” merupakan cerita paling menarik. Orang bisa membaca cerita ini sebagai sebuah solilokui panjang dengan jeda yang akan memikat pendengar karena aspek puitisnya yang kuat. Bayangkan membaca baris-baris pembukanya yang menggunakan teknik anafora dan rima yang sering kali digunakan dalam puisi:

lonceng itu tidak mengabarkan apa-apa, tidak memberi tanda apa-apa, ia disentakkan dari panggung waktu yang mulai membeku.

hal. 71

Anafora: Tidak mengabarkan apa-apa – tidak memberi tanda apa-apa. Lalu rima waktu – membeku. Hal-hal semacam itu bisa ditemukan dengan mudah sepanjang cerita tanpa membuatnya menjadi prosa yang banal: satu hal yang sering menjadi kelemahan cerita puitik. Cerita yang satu ini juga tak terasa klise, ia satir yang dipampatkan dalam bentuk indah.

Cerita lain yang juga sangat puitis adalah cerita “Tanpa Tanda Seru: Tiga Penggal Prosa Lirik”. Tentu hal itu sangat bisa dimengerti mengingat cerita ini, jika melihat sejarah penerbitannya yang dicantumkan di bagian akhir antologi, memang dibuat untuk dibaca. Prosa liris. Kita mungkin teringat pada Pengakuan Pariyem Linus Suryadi.

Namun, berbeda dengan “Kitab Laknat: Mukadimah”, cerita “Tanpa Tanda Seru: Tiga Penggal Prosa Lirik” merupakan rahasia kamar yang sendu. Cerita ini adalah tanya dari mereka-yang-di-bawah untuk mereka-yang-di-atas. Jenis cerita yang sudah banyak ditulis orang meski mungkin tidak dalam bentuk cerita puitis, terkadang juga dalam bentuk puisi. Beberapa puisi Aslan Abidin ataupun Toto ST Radik misalnya menyodorkan lanskap senada.

2

Aspek yang juga menarik dan bisa ditangkap dengan jelas dari antologi 15 cerita ini adalah kesukaan penulis untuk mengganti sudut penceritaan—dan tentunya identitas si aku-pencerita—dalam satu cerita. Maka kita temukan misalnya si Aku dalam “Empat Perempuan”tidaklah tunggal: ia empat, si aku adalah empat perempuan, Lita, Nora, Asri, Rani. Gaya senada kita temukan juga dalam “Orang Terakhir yang Ditunggu”. Ada juga perubahan sudut penceritaan dari orang ketiga menjadi orang kesatu dalam “Seseorang Pergi Mencari”.

Perubahan sudut pencerita berpotensi menimbulkan kebingungan pada pembaca, tetapi penulis menyiasatinya dengan menyisipkan tanda-tanda transisi yang sekaligus membuat cerita tetap mengalir. Dalam “Empat Perempuan” misalnya kita temukan tanda itu berupa jeda yang dimulai dengan perkenalan berupa frasa: Namaku…. Pada “Orang Terakhir yang Ditunggu”, jeda itu muncul di akhir setiap sudut pencerita dalam narasi tentang segulung surat yang diserahkan pada salah satu tokoh.

Satu cerita lain yang juga menggunakan perubahan identitas aku-pencerita adalah “Gadis Kecil dan Perempuan yang Terluka”. Mudah untuk langsung menebak bahwa si aku yang pertama adalah “gadis kecil” dan si aku yang kedua adalah “perempuan yang terluka”. Bedanya dari cerita yang lainnya yang juga menggunakan perubahan identitas aku-pencerita, jeda dalam kisah ini hanya ditandai menggunakan tanda asterisk. Meski demikian, tetap saja hal itu tak mengganggu bagaimana kisah disajikan.

Yang juga menarik dari cerita ini adalah kemampuan penulis menyesuaikan gaya narasi aku-pencerita ketika identitasnya berubah. Bagaimana misalnya pola pikir si aku-yang-gadis-kecil berbeda dengan pola pikir si aku-yang-perempuan-yang terluka. Itu merupakan problem yang sering kali ditemukan dalam bukan hanya cerpen model ini tetapi juga ketika seorang penulis harus bercerita sebagai tokoh yang terlalu jauh dari dia-yang-real, misalnya ketika seorang penulis yang merupakan bapak-bapak berusia 40 tahun menulis cerpen dengan aku-pencerita anak kecil. Hal semacam itu menyodorkan kesulitan tersendiri terutama karena pemilik usia yang berbeda cenderung memiliki pola pikir yang juga berbeda.

Cerpen “Araby” James Joyce dipuji banyak kritikus bukan karena cerpen itu menyajikan kisah luar biasa, bahkan kisah yang disajikan sebenarnya biasa-biasa saja. Akan tetapi apa yang menawan dalam kisah tersebut adalah si tokoh yang merupakan anak kecil bisa tersajikan benar-benar dengan ke-anak-kecilan-nya. Dengan kata lain, tokoh cerita bukan hanya menjadi corong penulis yang ketika terjadi maka kita akan menemukan dengan bosan bahwa si aku-pencerita adalah penulis itu sendiri yang berbaju karakter, bukan round character ‘karakter bulat’yang lengkap dengan segala kompleksitasnya.

3

Aku akan mulai dengan keindahan yang sederhana, demikian cerita terawal dalam antologi ini memberikan pembuka sangat bagus bagi kita sebelum kita menjelajah cerita yang beragam. Petualangan pembaca dimulai pada cerita terawal itu, “Kamu, Ia, dan Kota Asing”, sebuah kisah pendek tentang pribadi yang rumit, satir tentang kota yang pernah dipenuhi maut, dan sebuah prolog untuk afair yang mungkin.

Cerita tentang kemungkinan afair selalu menggugah rasa penasaran, mungkin karena kisah semacam itu memang benar-benar rahasia kamar yang selalu ingin kita intip seperti infotainmen yang kita maki-maki sebagai penyebar gibah tapi diam-diam kita tunggu-tunggu dan tonton. Satu kisah yang memiliki tema mirip kita temukan dalam “Ruang Harapan yang kembali Lengang” dan “Perempuan Tanpa Nama”.

“Ruang Harapan yang Kembali Lengang” merupakan cerita yang berpotensi membuat kita merasa gregetan. Ia kisah tentang afair yang tak jadi karena masing-masing tokoh terlalu sopan, terlalu “beradab”: seperti “sepasang orang asing” dalam “Di Kebun Jepun” Goenawan Mohamad. Dalam cerpen, afair terjadi hanya dalam imajinasi dan kita mungkin merasa menyesal kenapa harus demikian, kenapa cerita harus berakhir dengan sedih, meski tak bisa disangkal bahwa dalam pekikan si aku-pencerita pada temannya Sarah juga terselip nada humor: “Sarah, aku jatuh cinta, dan aku patah hati!”

Sementara itu “Perempuan Tanpa Nama” menyodorkan sisi lain dari orang-orang yang dengan penuh kesopanan tampil di televisi. Menarik bahwa cerita itu disuguhkan dari sudut pandang seorang pelacur, anggota masyarakat yang berdasarkan strata sosial umum sering kali disamakan dengan sampah. Tidakkah ini menyaran pada perbedaan pemahaman yang sering kali terjadi antara mereka-yang-di-atas dengan mereka-yang-di-bawah? Tentu saja dalam kisah ini juga ada sindiran tajam tentang hipokrisi manusia dan sebuah pertanyaan ulang tentang kebahagiaan.

Setelah itu petualangan kita akan berlanjut pada cerita kedua: “Anak Laki-lakiku”. Cerita yang mungkin mengecoh kita jika kita berharap sebuah kepuasan dari kisah yang melulu magis, klenik. Cerita dibuka dengan narasi tentang keanehan Restu, anak pertama aku-pencerita. Lalu berbagai keajaiban muncul seiring berjalannya waktu, khalif tu’raf, anehlah, maka kau akan terkenal. Di saat kita mungkin menunggu dengan penuh debar tentang kemungkinan keajaiban yang lebih ajaib dan mungkin penutup cerita yang lebih ajaib lagi, keajaiban itu justru terhenti.

Lalu dunia modern muncul. Mimpi kita tentang hal-hal magis yang membuat mata terpana diputus dan kita disodori pemandangan umum. Ada ironi yang disodorkan tentang betapa kehidupan modern sedikit demi sedikit mengikis yang magis yang dalam kehidupan di masa lampau bergaul akrab dengan kita dalam kehidupan sehari-hari dan kita sekarang mungkin sama resahnya dengan aku-pencerita yang menunggu-nunggu apa lagi yang akan Restu minta. Keresahan modern yang beda dengan keresahan di awal cerita.

Lalu lanskap petualangan lain muncul dalam kisah selanjutnya: “Pernikahan yang Hampa”. Judul yang biasa, kisah yang biasa, tapi kita mungkin sudah berpengalaman setelah membaca dua cerita sebelumnya bahwa kekuatan narasi Puthut sejauh ini adalah kekuatan untuk menyodorkan apa yang biasa dengan cara yang tidak biasa. Maka kita temukan selipan cerita tentang alloerotisme dalam cerita ini: Aku harus terus berpura-pura menikmati percintaan, sambil membayangkan wajah lain yang kadang kala gagal kuwujudkan dalam pikiran, demikian kata si aku-pencerita, dan kita boleh teringat pada dialog Yasmin dan Saman di akhir novel Saman Ayu Utami.   

Alloerotisme, kata Freud, adalah turunan dari narsisisme. Ia adalah suatu penolakan akan dia-yang-lain bahkan meskipun si dia-yang-lain itu adalah dia yang sangat mencintai si aku: baginya menikahiku adalah sebuah hal besar dan selalu menjadi harapan baginya. Menarik membayangkan bagaimana sebenarnya kisah yang satu ini akan berakhir. Jalan si aku masih panjang dan kita sebagai pembaca bisa mereka-reka seribu satu kemungkinan peta manakah yang akan dia ambil.

Ada gema Freud memang dalam kisah yang satu ini: ke-tak-sadar-an lebih banyak mengendalikan kita daripada ke-sadar-an. Gema sama yang kemudian bisa ditemukan juga dalam cerita lain, misalnya kisah tentang kematian dalam “Sebuah Peristiwa tentang Kematian”.

Ada beberapa hipogram yang mungkin sering kita temukan untuk prototipe cerita ini. Kisah tentang kematian selalu memiliki potensi tinggi untuk menimbulkan rasa haru, dan juga banyak tanya. Kematian sebenarnya adalah suatu upaya tak terpisahkan untuk mengekalkan hidup, demikian kata Freud. Ada banyak kesimpulan yang bisa kita tarik di sana, dan tiap kesimpulan mungkin bisa berbeda. Kematian dalam pandangan Freud pada satu titik merupakan sesuatu yang heroik, seperti kata si aku-pencerita dalam kisah ini: aku ingin dicatat sebagai seorang pemberani.

Mungkin dia membayangkan dirinya menjadi Sidney Carton dari salah satu saga terbaik yang pernah Dickens tulis.  

Namun Puthut EA bukan hanya bisa menceritakan kisah-kisah sedih: afair yang tak sampai, gadis kecil yang selalu menangis, kematian, orang-orang kecil yang dihimpit kehidupan. Dia juga piawai mengisahkan cerita yang mungkin membuat kita tertawa dalam “Cerita dari Lemari”. Judulnya yang menggoda sudah membuat kita penasaran. Lalu kita akan disodori kisah konyol si aku-pencerita dan kehidupan kontrakannya. Aku akan mencoba menceritakan ini semua dengan cara dan bahasa yang paling sederhana yang mampu kulakukan, begitu kata si aku-pencerita.

Mungkin memang demikianlah adanya. Kisah itu adalah anomali di tengah deretan lain cerita-cerita puitis Puthut dalam antologi. Mungkin kesimpulan ini terlalu tergesa, mungkin juga benar: justru dalam kesederhanaanya sang penulis membuat kita tertawa. Begitulah, Puthut EA dengan lima belas cerpennya memang menawarkan berbagai lanskap rahasia kamar yang menarik. Beberapa ditulis dengan puitisme yang biasa, beberapa ditulis dengan puitisme yang tidak biasa. Beberapa menyodorkan tema yang biasa, beberapa menyodorkan tema yang tidak biasa. Saking tidak biasanya, kita bahkan mungkin terlambat sadar bahwa yang sedang dia ceritakan adalah rahasia kamar kita.

*

Disunting ulang dari epilog kumpulan cerita Puthut EA, Isyarat Cinta yang Keras Kepala (Yogyakarta: EA Books, 2016) dengan judul “Puitika 15 Cerpen Puthut EA dan Kisah-Kisah Tak Sadar”.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Tentang Penulis

Tentang Penulis

Cep Subhan KM. Lahir di Ciamis tanggal 6 Juni. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi bersama Ludah Surga (2006) dan Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf (2007), sementara beberapa puisinya diikutkan dalam antologi penyair muda Ciamis Kota Menjadi Kata (2017). Sudah menerbitkan novel Serat Marionet (2011) dan dwilogi Yang Tersisa Usai Bercinta (2020) dan Yang Maya Yang Bercinta (2021), dan satu buku puisi, Hari Tanpa Nama (2018). Satu novelnya yang lain, Kosokbali (2021), bisa dibaca di portal Kwikku. Esai-esainya tersebar dalam Jurnal Sajak, Jurnaba.co, dan beberapa media daring lain. Esai kritik sastranya menjadi Pemenang II Sayembara Kritik Sastra DKJ 2022 dan Juara 2 Lomba Kritik Sastra Dunia Puisi Taufiq Ismail 2023.