Karakter-Karakter Ambang Yukio Mishima

1

SETIAP KALI menghadapi teks yang ditulis oleh orang yang mengakhiri hidupnya dengan cara kontroversial, seperti Yukio Mishima, atau Sadeq Hedayat, maka setiap kali pula kita bertanya: apakah karyanya memang sebagus laku kontroversialnya? Apa boleh buat, ada zaman terentang jauh memisahkan kita dengan masa silam ketika banyak karya bagus bertebaran sementara nama pengarangnya tak dicantumkan di halaman depan.

Kita sudah lumayan jauh pergi dari zaman ketika anonimitas pengarang adalah hal biasa. Dengan mempertanyakan hal seperti di atas maka kita, sebagai pembaca, pada dasarnya menyimpan khawatir: jangan-jangan laku kontroversial pengarang adalah bagian dari upaya dia menjungkit karir. Kita khawatir bahwa pengarang ternyata sama dengan selebritis zaman kiwari yang ketika nama mereka meredup maka mereka memanfaatkan segala kanal yang ada untuk mendongkrak kembali nama mereka dengan membuat gosip receh.

Mishima adalah nama pena yang menggebrak dunia. Mungkin tak banyak dari kita yang mengenal nama aslinya, mungkin juga kita tak bisa mengerti ujung kisah kehidupannya ketika dia melakukan kudeta yang—tampaknya memang dirancang untuk—gagal, diakhiri dengan seppuku dan kemudian dikenal dengan sebutan Insiden Mishima, tapi mungkin kita akan lebih mudah mengerti sosoknya dengan membaca karyanya.

Tak adil memang jika kita mengharuskan setiap membaca karyanya untuk menebak-nebak bagian mana dari ceritanya yang terhubung pada kisah hidup Mishima sendiri, terutama karena pendekatan eskpresif semacam itu justru merupakan pendekatan klasik yang diformulasikan M.H. Abrams ketika dia menelaah puisi-puisi romantik Inggris, pendekatan kedua setelah Mimetik. Dua yang kemudian lebih modern adalah pendekatan Objektif dan Pragmatik.

Baca juga: Ironi Yukio Mishima

Mishima adalah penulis yang berada pada masa peralihan klasik-modern. Tak heran jika di dalam karyanya kita masih bisa menemukan jejak-jejak mentornya, Yasunari Kawabata, si maestro citraan alam, tetapi kanvas yang dia bentangkan tak semurni kanvas Courbett. Kita masih bisa menemukan manusia-manusia disiplin, bersikap sederhana, memuja persatuan mikrokosmos dan makrokosmos, akan tetapi alam sekitar mereka bukan lagi hanya daun-daun bambu melainkan magical land, air mancur, negeri telur.  

2

Kisah-kisah yang direka Mishima dalam antologi Bocah Lelaki yang Menulis Puisi (diterjemahkan oleh Nurul Hanafi) merupakan kisah-kisah mereka yang terjebak di tengah-tengah, apapun yang mengapit mereka. Kisah pertama, “Bocah Lelaki Yang Menulis Puisi” adalah kisah anak laki-laki yang tergoda hidup dalam dunia rekaannya sendiri, mengabaikan dunia nyata lengkap dengan pengalaman cinta. Kisah ini tampak berjalin dengan kisah keempat, “Rokok, dimulai dari kemiripan karakter sampai dengan bahwa kedua tokoh sama-sama bergabung dalam Klub Sastera. Tidakkah kedua cerita itu sebenarnya merupakan dua cerita dengan satu tema?

Sementara pada cerpen “Rokok” si tokoh memiliki nama, maka dalam cerpen “Bocah Lelaki Yang Menulis Puisi” si tokoh hanya disebut sebagai Bocah, Child. Si tokoh dalam “Rokok” memiliki nama, dia seorang remaja yang memiliki identitas. Dari sana sebenarnya masalah bermula: si aku yang bernama Nagasaki ini tampak terharu ketika ada senior yang menanyakan namanya. Cerpen ini sebenarnya lebih merupakan sebuah renungan tentang identitas dengan mengambil sudut pandang seorang remaja.

Nagasaki terjebak dalam hasrat melakukan pemberontakan terhadap “dia-yang-lebih-tua”. Dia remaja dan dia merasa “orang memandangnya dengan cara salah.” Maka dia melakukan pemberontakan dengan mengisap rokok, meskipun dia tak menikmatinya, dan dia tak menyukainya juga sebab “berdekatan dengan ayah saat ia merokok adalah pengalaman yang memualkan dan menakutkan.” Membenci sekaligus ingin melebihi: ada gema Freud dalam kisah seperti ini.

Dengan demikian, sangat mudah melihat bahwa ada banyak sindiran telak diarahkan terhadap orang dewasa dalam cerpen ini sebagaimana sindiran terhadap “pengarang jenius” bisa ditemukan dalam cerpen “Bocah Lelaki Yang Menulis Puisi”. Pada cerpen yang satu ini, si aku tampak sudah memiliki kepercayaan diri, dan dengan kata lain dia merupakan kebalikan dari cerpen “Rokok,”meski kemudian hal itu menyebabkan masalah baru: seperti seorang skizofrenia, si aku terjebak dalam dunia nyata dan khayal dan dia berpendapat bahwa dunia khayal jauh lebih unggul.

Kasus yang sama terjadi pada cerpen “Kain Bedungan”. Tokoh utama, Toshiko, merupakan tokoh yang memendam kecewa, bukan hanya pada suaminya (simbol keluarga), tapi juga pada sikap dokter (simbol elite masyarakat) yang abai pada kelahiran bayi inang bayi Toshiko (simbol masyarakat kecil). Dia kemudian terjebak dalam khayalannya sendiri yang merentang jauh dari kelahiran si bayi yang kemudian dibungkus koran sampai masa 20 tahun kemudian ketika si bayi sudah menjadi dewasa. Dia membayangkan anaknya kelak bertemu dengan “pemuda durjana” yang lahir dan disambut dengan bungkus koran itu, dia membayangkan keselamatan anaknya: bagaimana jika si durjana itu “menikam perutnya dengan sebilah pisau”?  

Tentu saja itu khayalan yang jauh dan dalam cerpen yang satu ini Mishima menunjukkan kemahirannya memberikan akhir menggantung: apa yang terjadi pada Toshiko kemudian? Apakah dia selamat? Apakah dia mati?

Ini mungkin merupakan cerpen Mishima yang paling membuat pembaca penasaran. Sebagaimana juga hal itu bisa ditemukan pada cerpen “Telur” meski dengan alasan yang berbeda. Cerpen telur merupakan cerpen yang terasa sebagai anomali dalam antologi ini. Cara penulisannya yang hiperbolik terasa bertentangan dengan realisme yang ditawarkan oleh cerpen-cerpen lain.

“Telur” menawarkan banyak tawa, meski tawa itu memiliki harga yang mahal jika ingin membuat cerpen ini tak semata menjadi cerita humor murahan. Bagian terpenting dari cerpen ini adalah bagian pengadilan lima tokoh utama, Chūkichi, Jatarō, Mōsuke, Satsuo, dan Ingorō di mahkamah bangsa telur. Sang jaksa menyatakan bahwa ideologi tergugat, lima orang tokoh tadi, lebih berkembang, “Dan ideologi, apapun bentuknya, mengandung elemen kekerasan.”

Jika dibaca secara cermat, cerpen ini menunjukkan secara simbolik posisi bangsa Jepang dalam menghadapi serbuan ideologi dari luar. Kelima orang tersebut merupakan simbol ideologi, brutal, seenaknya, melestarikan penindasan bangsa telur: bangsa Jepang. Keberadaan jaksa yang menuntut tergugat dengan keras dan adanya pembela yang cerdas menunjukkan kepecahbelahan bangsa jepang.

Tampaknya itulah yang disesalkan Mishima yang membuatnya merancang kudeta dan pidato tentang “selamatkan Jepang”. Jepang dalam pandangannya berada dalam posisi terjebak di tengah-tengah, sama seperti posisi Letnan Shinji Takeyama dalam cerpen “Patriotisme”. Jelas itu merupakan posisi yang tak aman, dan jika tidak cepat diatasi, Mishima menunjukkan kemungkinan hasil akhirnya: lima anak brutal itu menang dan bangsa telur disantap oleh mereka dengan membabi buta setiap pagi. Selamanya.

Selain Toshiko, ada beberapa tokoh perempuan dalam cerpen-cerpen Mishima pada antologi ini. Tipikal perempuan seperti Toshiko yang “biasanya menyeberang jalan sambil memegang lengan temannya” tapi suatu waktu berubah “melesat tenang di antara mobil-mobil” tampaknya merupakan prototipe umum. Lihat misalnya Reiko yang lembut tapi juga mengambil inisiatif mengikuti jejak sang suami bunuh diri dalam “Patriotisme”, Masako yang cengeng tapi “mengalahkan” mental Akio dalam “Air Mancur di Tengah Hujan”, atau sebagaimana Kenzo menilai istrinya Kiyoko dalam “Tiga Juta Yen”: “meskipun bisa melakukan berbagai hal seorang diri namun selalu bergayut pada suaminya”.

Sindiran terhadap dunia “orang dewasa” juga bisa ditemukan pada cerpen yang disajikan dengan plot yang paling menarik dalam antologi ini: “Mutiara”. Kegeniusan Mishima tampak ketika dia menggarap detail kisah para anggota Paguyuban Rahasiakan-Umur-Kita berkaitan dengan mutiara. Kisah yang tampak sepele tapi terasa lancar mengalir dan kemudian diberikan penutup tak terduga. Cerpen ini merupakan salah satu cerpen terdahsyat Mishima yang kira-kira senafas dengan “The Necklace”nya Guy de Maupassant.

3

Sebagaimana dalam cerpen-cerpen Kawabata, dalam cerpen-cerpen Mishima pun kita bisa menemukan tema spiritualitas. Dalam antologi ini setidaknya hal itu bisa ditemukan pada cerpen “Sang Pendeta Kuil Shiga dan Kekasihnya” dan “Laut dan Mentari yang Terbenam”.

Dalam “Sang Pendeta Kuil Shiga dan Kekasihnya”, kita menemukan kisah yang sebenarnya merupakan hipogram berbagai kisah serupa di muka bumi. Kisah seorang ahli spiritual yang tergoda oleh godaan duniawi terasa akrab, hal itu bisa ditemukan misalnya dalam kisah “Syeikh Syam’an”dalam Musyawarah Burung Fariduddin Attar, ataupun dalam sebuah cerpen karya R.K. Narayan yang diterjemahkan dengan sangat bagus oleh Cecep Syamsul Hari dengan judul “Rumah Seberang Jalan”(dimuat dalam Majalah Horison 12/XXVIII/Desember 1993 hlm. 28-31).

Detail cerita kedua cerpen ini memang berbeda, tapi plotnya memiliki kemiripan. Dalam Narayan, si pertapa tergoda memikirkan perempuan pelacur yang tinggal di rumah seberang rumahnya. Semakin dia mencoba melupakannya, benaknya justru semakin dipenuhi oleh pikiran tentang perempuan itu. Pada akhirnya dia memutuskan pergi meski sebelumnya dia sudah “berdamai” dengan perempuan itu.

Dalam cerpennya, Mishima sebenarnya juga memberikan plot senada: Pendeta agung kuil Shiga terpesona kecantikan Selir agung kekaisaran. Semakin dia mencoba melupakannya, semakin dalam pula dia terperosok. Maka dia kemudian memutuskan satu-satunya cara adalah menemui sang selir—sama seperti pertapa Narayan: “berdamai”—sebelum kemudian pergi. Baik antara pertapa Narayan dengan perempuan pelacur, ataupun antara pendeta agung kuil Shiga tak sempat terjadi apa pun.

Apa sebenarnya makna “berdamai” kemudian pergi itu? Kegagalan memaknai hal itulah yang tampaknya menjadi penyebab kegagalan Anri (nama aslinya Henri) membelah lautan dalam “Laut dan Mentari yang Terbenam”. Dikisahkan bahwa Anri mendapat bisikan, titah gaib Yesus untuk membebaskan Yerusalem, penguat dari “nabi kecil”, berbagai pertanda, tapi kemudian dia gagal dan berakhir sebagai budak belian sebelum kemudian menahbiskan diri mengabdi pada Guru Zen Daigaku. Dia menjadi penganut Buddha.

Ada perubahan dari posisi Henri si pemeluk agama Nasrani, agama samawi, menjadi Anri si pemeluk agama Buddha, agama bumi. Kontradiksi ini bukannya tidak penting. Kegagalan Anri tampaknya disebabkan dia terlalu mengandalkan apa yang datang dari langit, sesuatu yang gaib, melupakan apa yang ada di bumi, sesuatu yang riil: dia tidak mengakrabi alam. Maka tak heran jika “lautan tetap mengirimkan ombaknya yang tenang ke tepi” alih-alih membelah memberikan jalan menuju Yerusalem sesuai nujuman.

Seperti itu pulalah makna tindakan Pendeta Kuil Shiga. Alih-alih melarikan diri ke “sesuatu yang ghaib”, bayangan tentang Negeri Murni (yang sangat mirip dengan konsep Surga dalam Islam), meditasi di depan patung sang Buddha, membaca Sutra, dia mesti menghadapi sang selir sebagai bagian dari bumi, bagian dari alam. Dia mesti “berdamai” dengan alam, bukan menjauhinya dengan membubungkan diri ke langit. Hanya melalui merangkul bumi maka dia bisa memeluk langit.

4

Selain sebagai seorang penulis produktif, Mishima juga seorang foto model dan aktor. Mungkin karena itu maka dalam cerpennya tampak bahwa dia bukan seorang pengagum orang yang hanya bisa berfikir, melainkan juga orang yang bisa bertindak. Dengan kata lain, dia bukan seorang pelaku renungan batin saja melainkan juga seorang yang tak abai soal fisik.

Cover Death in Midsummer and Other Stories (Penguin, 1971) yang merupakan sumber terbanyak cerpen-cerpen dalam antologi terjemahan ini, menampakkan foto Mishima bertelanjang dada memegang samurai dengan roman wajah garang. Foto yang lain yang bisa ditemukan dalam buku 501 Must Read Books—yang membahas The Sea of Fertility sebagai masterpis Mishima—merupakan rekaman foto dia ketika berpidato dalam Insiden Mishima: mengenakan seragam militer, dia tampak gagah dengan pose yang tak canggung. Dia tahu bagaimana cara memukau orang tak hanya lewat tulisan, tapi juga lewat penampilan.

Sayangnya, Mishima mungkin terlalu idealis, atau orang yang mendengarkan pidato dia mungkin tak sepenuhnya mengerti sebagaimana kita mungkin tak bisa sepenuhnya mengerti tindakan Letnan Shinji Takeyama dan istrinya Reiko dalam cerpen “Patriotisme”. Apakah sebenarnya harga kematian sang Letnan yang merasa tak sanggup menghadapi masa depan jika dia disuruh bertempur dengan kawan-kawan dekatnya yang memberontak sementara untuk ikut memberontak juga dia sudah mereka tinggalkan?

Beberapa pembaca mungkin merasa betapa bertele-telenya detail yang diceritakan Mishima dalam “Patriotisme”. Meskipun demikian, tema tentang kematian juga sudah disinggung dalam cerpen “Bocah Lelaki Yang Menulis Puisi”:konon apa yang menahan seseorang dari bunuh diri adalah egoisme, suatu hasrat untuk mempertahankan diri dan pada akhirnya mempertahankan hidup.

Akan tetapi apakah yang menarik dalam hidup ketika mimpi bahkan lebih subtil dari realitas? Maka si bocah memutuskan untuk hidup dalam puisi, sebagaimana Nagasaki menemukan kobaran api dalam mimpi. Dari sana juga kita bisa menebak pilihan apa yang kemungkinan besar ingin ditawarkan Mishima lewat akhir cerpen “Kain Bedungan” yang ambigu.     

5

Dari semua cerpen dalam antologi ini, yang paling menarik adalah cerpen “Tiga Juta Yen”. Cerpen ini menggebrak di bagian akhir. Sejak awal sampai menjelang akhir, pembaca disuguhi pandangan-pandangan konservatif pasangan muda Kenzo dan Kiyoko. Keduanya dikisahkan akan bertemu dengan seseorang dan mereka menghabiskan waktu di mal, Department Store. Sepanjang masa menunggu, pembaca disuguhi pandangan-pandangan pasangan ini tentang berbagai hal, dari mulai masalah belanja, rumah, ataupun anak.

Baru di bagian akhir pembaca disuguhi kenyataan yang perih: wanita tua yang mereka temui itu ternyata adalah semacam perantara jasa bisnis pertunjukan seks yang dilakoni keduanya dan saat itu si wanita menyatakan bahwa mereka disewa oleh sekumpulan wanita tua. Betapa cerpen ini mengandung ironi, pertentangan antara rancangan hidup yang konservatif dengan cara mereka mendapatkan uang yang, bisa dikatakan, amoral. Sebagaimana tokoh-tokoh lain dalam cerpen-cerpen Mishima, Kenzo dan Kiyoko juga terjebak oleh keadaan.

Mishima tampaknya berpendapat bahwa keadaan-keadaan yang menjebak itu terutama disebabkan masuknya ideologi yang melemahkan kekuatan bangsa. Oleh karena itu, solusinya adalah gerak kembali pada kepribadian bangsa. Mishima adalah pribadi yang tragis, dan dia mencoba menyadarkan kita tentang tragisnya manusia yang melupakan akarnya. Jasmerah, demikian suatu hari Sukarno pernah berteriak, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, Mishima sebenarnya menyuarakan hal sama, bedanya dia tidak berteriak kecuali satu kali: saat dia berpidato di depan para tentara dalam kudeta yang kemudian dia akhiri dengan seppuku. Teriakan tersebut sudah menghilang kini, tapi gemanya masih tertinggal untuk kita, manusia-manusia yang merambah zaman pasca-Mishima, salah satunya berbentuk sepuluh cerpen dalam antologi Bocah Laki-Laki yang Menulis Puisi ini.

Jogja, Komunitas Imajiner, 2021. Tulisan ini disunting ulang dari pengantar antologi Bocah Lelaki yang Menulis Puisi (EA Books, 2016).

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Tentang Penulis

Tentang Penulis

Cep Subhan KM. Lahir di Ciamis tanggal 6 Juni. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi bersama Ludah Surga (2006) dan Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf (2007), sementara beberapa puisinya diikutkan dalam antologi penyair muda Ciamis Kota Menjadi Kata (2017). Sudah menerbitkan novel Serat Marionet (2011) dan dwilogi Yang Tersisa Usai Bercinta (2020) dan Yang Maya Yang Bercinta (2021), dan satu buku puisi, Hari Tanpa Nama (2018). Satu novelnya yang lain, Kosokbali (2021), bisa dibaca di portal Kwikku. Esai-esainya tersebar dalam Jurnal Sajak, Jurnaba.co, dan beberapa media daring lain. Esai kritik sastranya menjadi Pemenang II Sayembara Kritik Sastra DKJ 2022 dan Juara 2 Lomba Kritik Sastra Dunia Puisi Taufiq Ismail 2023.