Erich Fromm: Semua Masalah Muncul Akibat Ketiadaan Cinta

1

CINTA, bagi Erich Fromm, tampaknya merupakan solusi segala masalah. Perang dan pertikaian tidak akan terjadi jika kita mampu melakukan cinta persaudaraan. Kemiskinan dan kelaparan akan segera diatasi jika kita mampu melakukan cinta keibuan. Tidak akan ada banyak orang patah hati, galau, depresi, lantas bunuh diri jika orang tidak gagal melakukan cinta erotis. Tidak akan ada korupsi jika orang tidak gagal melakukan cinta diri sendiri. Yang paling penting: jika orang bisa melakukan cinta Tuhan maka tidak akan ada lagi sengketa hanya karena perbedaan agama.

Melakukan cinta. Cinta bagi Erich Fromm bukan tindakan pasif, melainkan aktif. Bagi dia, persoalan cinta bukan terletak pada kemampuan untuk dicintai, melainkan kemampuan untuk mencintai. Cinta bukan suatu ketidaksengajaan dalam ranah perasaan sebagaimana tergambar dalam “jatuh cinta”, melainkan ia adalah sebuah seni, dan sebagaimana berbagai seni yang lain maka seni mencintai pun bisa dipelajari.

Buku The Art of Loving Erich Fromm adalah buku laris, bukan hanya dalam edisi aslinya, tetapi juga dalam edisi terjemahan Indonesia. Sebelum edisi Basabasi Seni Mencintai (2018) yang diterjemahkan oleh Aquarina Kharisma Sari, sekurang-kurangnya sudah ada 3 versi terjemahan Indonesia: The Art of Love (Gaya Seni Bercinta) (Yogyakarta: Pradipta Publishing, 2004), The Art of Loving (Jakarta: Fresh Book, 2005), dan The Art of Loving: Memaknai Hakikat Cinta (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005).

Kover terjemahan The Art of Loving edisi Pradipta Publishing (2004), Fresh Book (2005), dan GPU (2005)

Jika mempertimbangkan judul buku-buku Erich Fromm, kita bisa melihat dia memang jago membuat judul buku menarik: Fear of Freedom, Escape from Freedom, The Sane Society, To Have or To Be?, The Forgotten Language. Terkait The Art of Loving ‘Seni Mencintai’, kita boleh menduga bisa jadi ada banyak pembaca membeli buku ini karena “tertipu” oleh judulnya dan menganggap bahwa buku ini adalah semacam tips-tips ringan dan praktis tentang mencintai, satu hal yang sejak awal sudah dibantah oleh Fromm dalam Pengantar. Terjemahan edisi Pradipta Publishing, Gaya Seni Bercinta, mungkin bahkan membuat orang membeli karena mengira buku itu semacam Kamasutra.

Selain itu, Erich Fromm juga memang memiliki satu kelebihan lain selaras ungkapan dia dalam pengantar Seni Mencintai: dia “sebisa mungkin menggunakan bahasa non-teknis”. Di dunia tempat dan saat segelintir orang memandang sebuah tulisan nonfiksi dipandang semakin bagus ketika tulisan itu semakin sukar dipahami dan penulis biasa dipandang genius ketika dia bisa menggunakan berderet kalimat “teknis”, kemampuan Fromm yang disebutkan terakhir ini tidak akan dipandang sebagai kelebihan melainkan justru kekurangan dan buku Seni Mencintai akan menjadi sasaran cemooh. Pandangan semacam itu jelas keliru dan publik jelas tak mungkin sepakat. Kita tidak bisa bersikap pesimis bahwa apa yang disajikan ringan sudah pasti bukan teks bagus.

Dus, mari kita meyakini sejak awal bahwa Seni Mencintai bukan kumpulan tips praktis tentang cara mencintai meskipun ia disajikan dengan “ringan”. Dengan menggunakan kata “ringan” maka saya tidak memaksudkan hal itu berkaitan dengan pemilihan diksi yang menghindari istilah-istilah teknis, aspek sintaksis yang tak ruwet (sangat berbeda dengan, misalnya, gaya Herbert Marcuse), melainkan juga struktur buku ini secara utuh: (1) pengantar tentang “mencintai” sebagai sebuah seni, sehingga sebagaimana seni lainnya, seni mencintai pun dibahas: (2) secara teoretis, dan (3) secara praktis.

Struktur yang sangat sederhana. Kaku tetapi tidak bisa tidak memudahkan pemahaman. Lalu pada tataran teoretis kita melihat pandangan Fromm tentang “kehancuran cinta” dalam masyarakat Barat modern1The Art of Loving dipublikasikan pertama kali pada tahun 1956 dan terus dicetak ulang sampai sekarang.diselipkan dalam satu bab tersendiri. Ingat bahwa Fromm adalah “amfibi” yang hidup di alam sosiologi dan psikoanalisis, menyampaikan teori mencintai hanya dari sudut pandang psikoanalisis Frommian tanpa menyangkutkannya dengan eksternal akanlah tanggung.

Benar bahwa struktur sederhana dan kaku semacam itu berpotensi menciptakan kebosanan. Akan tetapi Erich Fromm tampaknya menyadari hal itu sehingga dia mengatakan bahwa ada faktor ketiga yang juga penting dalam belajar seni selain penguasaan teori dan praktik, yakni “penguasaan seni itu haruslah menjadi perhatian utama, tidak boleh ada yang lebih penting lagi di dunia ini selain seni tersebut”. Maka buku Seni Mencintai ini sejak awal memang diperuntukkan orang-orang yang sungguh-sungguh ingin belajar seni mencintai, dan orang-orang yang sungguh-sungguh sudah pasti tak akan menyerah sampai ke halaman akhir hanya karena kebosanan.

2

Apa yang menyambut kita pertama-tama saat membuka buku ini adalah kutipan dari Paracelsus tentang cinta. Kutipannya menarik sekaligus menggambarkan beberapa poin yang ingin disampaikan Fromm dalam bukunya, meski mungkin diungkapkan dengan cara yang sedikit membingungkan.

Dia yang tak tahu apa pun, tak mencintai apa pun. Dia yang tak bisa apa pun, tak mengerti apa pun. Dia yang tak mengerti apa pun tak berharga. Namun, dia yang mengerti cinta, memperhatikan, melihat… Semakin besar pengetahuan melekat dalam sesuatu, makin besarlah cinta… Siapa pun yang membayangkan bahwa semua buah matang di saat yang sama seperti stroberi berarti tak tahu apa-apa tentang anggur.

Seni Mencintai, hal. 5

Kutipan tersebut bersumber dari risalah Paracelsus Labyrinthus Medicorum Errantium ‘Labirin Para Dokter yang Tersesat’. Sebagian terjemahan kutipan tersebut dalam bahasa Inggris bisa ditemukan dalam Paracelsus, Selected Writing (ed. Jolance Jacobi) (New Jersey: Princeton University Press, 1995), hal. 163. Terjemahan Aquarina Kharisma Sari atas kutipan terkait untuk edisi Basabasi ini lebih terbaca daripada terjemahan Andri Kristiawan untuk edisi Gramedia yang menerjemahkan “The more knowledge is inherent in a thing, the greater the love…” sebagai “Pengetahuan yang semakin luas terkandung dalam satu hal, semakin besarnya cinta…”.2Lihat dalam Erich Fromm, The Art of Loving: Memaknai Hakikat Cinta (Jakarta: Gramedia, edisi ketiga 2020), hal. ix.  

Nama Paracelsus mungkin bukan nama yang sering kita dengar, tetapi kalau kita banyak membaca Carl Gustav Jung maka kita akan sudah merasa akrab dengannya. Paracelsus adalah dokter kelahiran Swiss yang lahir pada akhir abad ke-15 dan meninggal pada pertengahan abad ke-16. Carl Gustav Jung pernah menulis dua tulisan panjang yang membahas pemikiran dan peranannya.

Paracelsus bukan hanya seorang dokter, melainkan juga astrolog sekaligus alkemis. Pemikirannya adalah pemikiran saintifik yang bercampur dengan pemikiran mistik sebagaimana sampai tahap tertentu kita bisa melihat hal yang sama juga pada pemikiran Carl Gustav Jung. Melihat penghormatan yang diperuntukkan Paracelsus sampai menempati bagian paling awal dalam karyanya—dikombinasikan juga dengan kutipan Meister Eickhart (teolog dan mistikus Kristen dari Jerman, sekitar 1260-1328 M) dengan penuh pujian—maka kita boleh menduga bahwa konsep cinta yang Erich Fromm sodorkan dalam Seni Mencintai juga adalah kombinasi yang sama dengan Paracelsus.

Dalam Seni Mencintai, Erich Fromm banyak menyinggung konsep-konsep Sigmund Freud, secara negatif: konsep cinta yang Fromm sodorkan berlawanan dengan konsep “setiap cinta berbasis seksual” yang Freud sodorkan. Erich Fromm mengatakan bahwa “kita salah bila menilai terlalu tinggi pengaruh gagasan Freud pada konsep bahwa cinta adalah hasil dari ketertarikan seksual”. Akan tetapi dengan merasa perlu membantah konsep-konsep Freud untuk meyakinkan pembaca akan “kebenaran” konsep dia (Fromm) maka secara tidak langsung Fromm sendiri mengakui “tingginya pengaruh” itu. Sang anak, tanpa sadar, tidak pernah bisa pergi dari bayang sang bapak.

Karena sebaliknya, Fromm tak merasa perlu menyinggung pandangan kawan seperguruannya yang juga jebolan Psikoanalisis: Carl Gustav Jung. Pandangan-pandangan Jung tentang cinta sama “jinak”-nya dengan apa yang Fromm sodorkan dalam Seni Mencintai meski dengan poin-poin yang berbeda. Kesamaan mereka berdua adalah mereka menolak ajaran Freudian bahwa cinta selalu berhubungan dengan seksualitas. Fromm, tampaknya, tidak memandang Jung setinggi dia memandang Freud.

Maka tidak heran jika dalam Psikoanalisis dan Agama, satu buku penting Fromm yang bisa dirujuk jika ingin mengetahui lebih mendalam perihal “Cinta Tuhan” yang hanya disinggung sedikit dalam Seni Mencintai sebagai salah satu jenis cinta, Fromm membandingkan pemikiran Freud dan Jung tentang agama. Akan tetapi setelah menyerang habis-habisan pondasi pemikiran Jung di sepertiga awal buku, dia selanjutnya tak pernah lagi menyinggung Jung dan hanya mencoba berdialog dengan pemikiran Freud.

Selain itu, sebagaimana Jung, Fromm juga tampak dekat dengan “timur” sebagaimana terlihat misalnya dari fakta ini: satu-satunya puisi yang Fromm kutip adalah puisi mistikus, dan itu pun puisi Jalaluddin Rumi, tentang polaritas segala sesuatu dalam alam. Sedikit mengherankan jika mengingat bahwa ini adalah buku tentang cinta, seberapa berbeda pun makna kata itu dari makna yang lazim kita pahami. Puisi adalah bagian yang tak terpisahkan dari pembahasan tentang cinta.

Namun bisa jadi hal itu menandakan bahwa Fromm ingin menekankan satu hal, bahwa cinta yang dia bahas bukanlah “luapan perasaan mendadak”, melainkan cinta yang dimaknai sebagai tindakan aktif yang lahir dari cinta sebagai sebuah seni. Puisi selalu sangat mudah disangkutkan dengan “kegilaan”, dorongan perasaan yang tak tertanggungkan yang meluap dalam rentetan kata-kata yang untuk memahaminya membutuhkan waktu. Waktu tersebut, tampaknya bagi Fromm, akan lebih berguna jika digunakan untuk mempelajari seni mencintai.

Dus, kita kembali ke awal bahwa Erich Fromm tampaknya memandang cinta sebagai solusi semua persoalan kita pada masa kini: cinta membantu kita memahami orang lain, memahami mereka yang tertindas, memahami pasangan kita, memahami diri sendiri, memahami Tuhan. Pandangan semacam itu mengingatkan kita pada baris-baris puisi ini:

Memahami orang lain sama dengan memiliki ilmu pengetahuan,

Memahami diri sendiri sama dengan menjadi diri tercerahkan.

Menaklukkan orang-orang lain membutuhkan kekuatan,

Menaklukkan diri sendiri jauh lebih sukar dilakukan.

Baris-baris puisi di atas bukan dari Erich Fromm dan juga tidak berasal dari Seni Mencintai, melainkan dari Tao Te Ching karya Lao Tzu. Akan tetapi kita boleh yakin bahwa Fromm akan menyukainya sebagaimana dia dalam Seni Mencintai berpanjang-panjang mengutip Meister Eckhart tentang cinta diri, lalu dia mengajak kita membayangkan damai di bumi. Salam.   

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Tentang Penulis

Tentang Penulis

Cep Subhan KM. Lahir di Ciamis tanggal 6 Juni. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi bersama Ludah Surga (2006) dan Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf (2007), sementara beberapa puisinya diikutkan dalam antologi penyair muda Ciamis Kota Menjadi Kata (2017). Sudah menerbitkan novel Serat Marionet (2011) dan dwilogi Yang Tersisa Usai Bercinta (2020) dan Yang Maya Yang Bercinta (2021), dan satu buku puisi, Hari Tanpa Nama (2018). Satu novelnya yang lain, Kosokbali (2021), bisa dibaca di portal Kwikku. Esai-esainya tersebar dalam Jurnal Sajak, Jurnaba.co, dan beberapa media daring lain. Esai kritik sastranya menjadi Pemenang II Sayembara Kritik Sastra DKJ 2022 dan Juara 2 Lomba Kritik Sastra Dunia Puisi Taufiq Ismail 2023.